Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Bersalam


“Ya, Kakak sudah sampai beberapa saat yang lalu,” jawab Hans. Roselia berjalan melewati Arsen di sofa, kemudian mencium punggung tangan Hans.


Pandangan mata Arsen bertemu dengan Rayyan, mata itu seolah mengeluarkan kilatan berbahaya yang menembus ke ulu hati, tajam, hendak mengoyak-ngoyaknya. Rayyan sedikit gugup, lalu ia merundukkan pandangannya, agar matanya tak melihat mata Arsen yang terlihat mengancam.


“Silahkan duduk dulu, Ray, aku buat minuman dulu, ya! Ngobrol dulu sama Kakakku!” tawar Roselia setengah memaksa karena ia langsung mendorong tubuh Rayyan ke arah sofa, lalu bergegas pergi ke dapur.


Wajah Arsen semakin masam, tangannya yang bersidekap di dada, mereemaas lengannya sendiri dengan kesal. Bisa-bisanya gadis incarannya menyentuh pria lain di depannya.


Rayyan yang di dorong Roselia langsung melangkah maju ke depan, menyalami Hans secara sopan, lalu duduk bersampingan di sofa dengan Arsen.


Hans menjabat tangan Rayyan, kemudian memilih duduk saling berhadapan dengan dua pria yang duduk di hadapannya. Suasana tampak sunyi dan mencekam, Arsen berwajah masam, Rayyan berwajah canggung dan Hans menjadi gusar melihat atasan kecilnya.


“Apa Tuan Muda inginkan sesuatu?” Hans bertanya, ia mencoba mencairkan suasana.


“Tidak!”


Tiba-tiba Rayyan mengulurkan tangannya pada Arsen, pemuda tampan bermata sipit hitam legam itu menatap tajam tangan Rayyan yang terjulur.


Arsen menjabat tangan Rayyan dengan menggenggam tangan itu kuat dan keras. Rayyan tampak meringis kesakitan.


“Arsen!” ucap Arsen dengan nada mengancam.


“Ra-rayyan!” jawab Rayyan terbata karena menahan sakit di tanggannya, ia bahkan telah mencoba melepaskan tangannya, namun Arsen masih saja menggenggamnya dengan sangat kuat.


Niat hatinya mencairkan suasana, menghilangkan rasa canggung, makanya ia mengulurkan tangan, tetapi tangannya malah dire*mas dengan kuat oleh Arsen. Rayyan mencuri-curi pandang setelah tangannya dilepas, setiap ia mencuri pandang, matanya selalu bersirobok dengan mata tajam Arsen.


‘Ya ampun! Dia terlihat sedikit aneh! Apa dia gay? Dia menatapku tak berkedip sejak tadi!’ Rayyan berkata dalam hati. Pikirannya mulai buruk karena mendapati tatapan dari Arsen. ‘Tapi ... aku merasa pernah melihatnya!’


Tak lama, Roselia membawakan minuman dan cemilan untuk mereka.


“Perkenalkan Ray, dia Tuan Muda Arsen, pemilik perusahaan Ar3s, atasan Kakakku!” Roselia berkata pada Rayyan, ia memilih duduk di samping Kakak laki-lakinya, Hans.


“Oh, iya kami sudah berkenalan Ros!” sahut Rayyan.


“Apakah yang kalian butuhkan itu sudah di dapat?” Hans bertanya dengan menatap lembut Roselia.


“Sudah, kami mencarinya ke beberapa tempat dan mengunjungi perpustakaan kota.” sahut Roselia.


“Syukurlah!”


Ruangan itu kembali hening, hanya terdengar seruputan Arsen dan Rayyan yang meminum minumannya.


“Kurasa malam sudah semakin gelap, besok Ros harus ke sekolah dan Kakak juga akan sibuk. Aku dan Rayyan akan segera pergi!” Arsen menghabiskan sisa minumannya.


“Ah?” Rayyan terbengong sesaat, kemudian menyeruput sisa minumannya juga.


“Pamit dulu Ros, Kak, permisi!” ucap Rayyan. Sedangkan Arsen hanya menatap Ros, membiarkan Rayyan keluar lebih dulu.


“Tak usah antar aku turun Kak, ada Paman Xander di luar kok!” Arsen melarang Hans yang berniat mengiringi dan mengantarnya keluar.


Rayyan dan Arsen keluar dari apartemen, sekarang mereka berdua berada di dalam lift.


“Kau temannya Ros?” Arsen bertanya pada Rayyan dengan pandangan masih lurus ke depan.


“I-iya!” Rayyan sedikit melirik wajah dingin Arsen saat menjawabnya.


“Seberapa dekat?”


“Hm? Em ... cukup dekat.”


“Cukup dekat?!” Arsen menoleh pada Rayyan bahkan sedikit memutar tubuhnya.


“I-iya, soalnya Ros tidak punya banyak teman, aku salah satu dari tiga temannya di sekolah.” jawab Rayyan terbata. Nyalinya menciut. “ja-jangan khawatir Pak, aku tidak jahat pada Ros!” Rayyan bingung bercampur takut. ‘Sepertinya hubungan Kakaknya Ros dekat dengan atasannya, sehingga atasan Kakaknya menjadi khawatir begini,’ gumam Rayyan dalam hati.


“Kupegang ucapanmu!” ucap Arsen masih dengan tatapan tajam mengancam.


“I-iya, Pak!”


“Cih! Memang aku suami Tantemu! Pak! Pak!” dengus Arsen, kemudian langsung keluar dari lift karena pintunya baru saja terbuka.


Rayyan terdiam dan memegang dadanya, menarik nafas dalam, kemudian mengeluarkannya. ‘Gila! Aura pemimpinnya jelas banget, aku sampai menciut tadi, pasti Kakaknya Roselia was-was ngadepin dia!’ Perlahan Rayyan juga keluar dari Lift.


Saat keluar dari lift, Xander Pim telah menyambut Arsen, mereka berdua langsung menuju tempat parkir.


Rayyan terlihat mengotak atik hpnya. Tak lama sebuah taksi berhenti di depannya dan ia pun masuk ke dalam taksi itu.


“Ikuti taksi itu!” perintah Arsen pada Xander Pim, pengawal pribadinya yang serba bisa. Xander Pim menyetir mobilnya mengikuti taksi.


‘Cih, kemana-mana masih pakai taxsi, kenapa sih Ros mau pergi sama dia? Kenapa gak sama aku? Lebih aman dan terjaga? Mau ke perpustakaan kota? Belanja? Apa saja! Aku bisa! Aku punya!’ Arsen masih menggerutu kesal. Sepertinya jatuh cinta membuat seorang pemuda genius menjadi bodoh dan tidak berpikir jernih, hingga marah-marah tak jelas.


30 menit berlalu, taxsi itu akhirnya berhenti di depan kawasan perumahan elit. Rayyan berdiri sebentar didepan pagar tinggi menjulang, kemudian pagar itu terbuka lebar, tampaklah rumah megah nan besar. Rayyan berjalan masuk ke dalam, lalu satpam segera menutup kembali pagar itu.


Arsen melihat semua sisi, kiri dan kanan, sekitar rumah yang dimasuki Rayyan, menyelidik setiap tempat.


“Ayo, kembali ke mansion! Sudah malam!” ajak Arsen.


“Baik, Tuan Muda!”


Di sepanjang perjalanan pulang, Arsen terus berpikir, ia kini tengah sibuk mengotak atik laptopnya. Ia akan menyelidiki Rayyan lebih dalam lagi.