Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Kau Hanya Teman Bagiku


“Tidak! Tidak! Tolong ampuni aku Ibu, ampuni aku!” Terdengar teriakan bergetar sambil menangis di sebuah kamar rumah sakit, di mana pasien itu masih memejamkan matanya dengan infus terpasang di tangannya.


“Tenanglah Nak, kau baik-baik saja sekarang, sudah tidak ada apa-apa. Tenanglah Nak!” Seorang pria paruh baya memeluk putrinya yang setengah sadar itu.


“Lula, tolong jelaskan apa yang terjadi? Kenapa Eline seperti ini?” Pria paruh baya itu menatap tajam asisten Eline.


“Sayang, tenanglah. Eline masih dalam keadaan yang kurang baik, jika ingin bertanya, pergilah keluar dari ruangan ini.” tegur istrinya, ia adalah Ibu Eline. Lebih tepatnya, ibu tiri yang sangat menyayanginya.


“Tidak, tolong hentikan Bu, tolong, jangan, ampuni saya!” Eline masih mengigau.


“Keluarlah!” usir wanita paruh baya itu, sehingga suami dan Lula keluar dari kamar pasien.


“Tenanglah Sayang, ada Mama di sini, semuanya baik-baik saja.” Wanita itu berbicara lembut, menggenggam tangan Eline dan menciumnya beberapakali. Ia adalah wanita mandul yang tak bisa hamil, ia telah merawat Eline sejak kecil, sejak gadis itu berumur 5 tahun, sejak suaminya menikahinya. Kasih sayangnya sungguh tulus pada Eline, begitupula Eline juga menyayanginya.


Masih jelas diingatannya, beberapa kali Eline menangis dan ketakutan sejak kecil, lalu perlahan sikap itu menghilang seperti asap yang ditiup angin. Akan tetapi, kali ini Eline kembali ketakutan.


Ia pernah bertanya pada suaminya, namun pria itu juga tak terlalu tau detail kenapa anaknya seperti itu karena ia sibuk bekerja, yang ia tahu anaknya sering dipukuli istrinya, makanya mereka berdebat, sehingga terjadilah perkelahian yang cukup berat, melebar kemana-mana. Lalu, satu-satunya perceraian lah jalan terakhir mereka. Menurut pria itu, anaknya terlihat aneh dan ketakutan semenjak mereka bercerai, ia berpikir putrinya belum menerima perpisahan mereka.


“Putriku, tenang ya, semuanya baik-baik saja.” Ia mencium punggung tangan Eline, mengelus wajahnya lembut.


Di mansion Van Hallen.


Vindo dan Arsen tengah duduk saling berhadapan di ruang kerja Arsen. Dua cangkir teh hangat dan potongan buah terhidang di meja.


“Kau gila, Vindo! Kau melakukan itu? Itu sangat berbahaya, bisa mengganggu mental seseorang, bisa membuat gadis itu gila!” protes Arsen terkejut dengan hasil yang dilakukan Vindo. Pemuda bermata sipit itu tak pernah berpikir apalagi menyangka seperti itu.


Dia hanya ingin Vindo sedikit mengusiknya, agar jera mengganggu Arhen ataupun dirinya. Jika seperti yang dilakukan Vindo, bukankah ini terlalu berlebihan?


“Maafkan aku Tuan Muda, saya lancang. Saya hanya berpikir cara terbaik dan tercepat tanpa memikirkan psikis korban.” Vindo tertunduk, ia cukup kasihan mendengar info dari bawahannya karena Eline langsung histeris dan dirawat di rumah sakit.


Arsen menghela nafas. “Ya sudahlah, semuanya juga sudah terjadi!”


Arsen menusuk potongan buah apel hijau dengan garpu, memasukkan ke dalam mulutnya. “Em, karena kau sudah menyelesaikan tugasmu, aku kira kau bisa belajar pada Kak Hans. Aku akan meminta Kak Hans mengatur posisimu bekerja!”


“Terimakasih Tuan Muda!”


“Hm, masalah Lawsen sudah kau urus 'kan?” Arsen teringat dengan tugas kedua yang harus dilakukan Vindo.


“Sudah Tuan Muda.”


“Bagus!”


***


“Apa yang harus aku lakukan?” Ardhen berkata sendiri. “Apa aku harus ...” Ardhen kembali berpikir, ia menopangkan dagunya di atas meja.


Setelah lama begitu, tiba-tiba ia langsung menelfon Rufia dan beranjak pergi dari sana.


Ardhen meminta Rufia mendatanginya ke taman belakang Vend Boutique, tak lama gadis berambut coklat itu datang dengan senyuman indah.


“Duduklah, Ruf!”


“Ok!” Rufia langsung duduk saling berhadapan dengan Ardhen. Wajah pemuda itu sangat tampan, namun terlihat kurang baik karena dia hanya cemberut, tak tersenyum lembut seperti biasanya.


“Apa kau suka padaku Ruf?” Ardhen bertanya langsung.


“A-aku-”


“Suka melebihi teman?” Ardhen bertanya kembali dengan menatap tajam bola mata Rufia yang tampak gugup.


“Ma-maafkan aku-”


“Jadi, kau bertanya-tanya selama ini karena kau menyukaiku lebih dari teman?” tanya Ardhen, beberapa saat hening. “Aku tak pernah berharap akan seperti itu, selama ini aku hanya menganggapmu teman dan tidak lebih!” lanjut Ardhen lagi.


“Ruf, aku hanya mencintai dua wanita dihidupku, yaitu Mom dan adikku Mila. Jika pun ada nanti aku mencintai seorang wanita, dia bukanlah orang yang aku anggap teman. Apalagi wanita yang dicintai sahabatku sejak dulu. Abraham sangat mencintaimu sejak dulu, sedangkan aku, tak memiliki perasaan apapun padamu selain teman!” Perkataan Ardhen terdengar sangat menyakitkan bagi Rufia. Rasanya sangat sesak, tetapi itulah kenyataannya.


Masih dengan wajah datar tanpa perasaan, Ardhen melanjutkan perkataannya. “Aku sangat tidak menyukai wanita yang tidak konsisten dan tidak pintar. Kau rela mempelajari agama dan berniat pindah agama karena kau menyukai seseorang. Kau rela menggadaikan kepercayaanmu demi sebuah cinta yang mungkin saja nanti akan hilang.”


“Agama itu adalah sebuah kepercayaan yang lahir dari dalam hati, bukan dari keinginan memiliki seseorang makanya pindah kepercayaan. Jangan pernah mempermainkan Tuhan, karena sebenarnya Tuhan pemilik hati manusia yang seutuhnya. Betapa bodohnya kau sekarang, mengagumi seseorang sehingga berniat merubah kepercayaanmu.”


“Aku ingin kau mempercayai sebuah agama karena kemantapan hatimu, bukan karena seseorang. Lalu, tolong tanya hatimu, apakah benar kau menyukaiku? Atau hanya sekedar mengagumi ku? Tidakkah kau bisa melihat, betapa Abraham mencintaimu?” Ardhen masih menatap tajam Rufia, mata gadis berambut coklat itu kini telah mulai menggenang, air mata telah membuat lubuk di bola matanya, sehingga tatapannya yang tengah merunduk itu pun telah mengabur saat memandang meja.


“Kau sendiri tahu 'kan, Abraham yang bersikeras membawamu kemari, kenapa kau tak melihat ketulusan nya? Kenapa melihatku yang tak tertarik padamu? Aku hanya menganggapmu teman, tidak lebih, jangan pernah berharap padaku!” Ardhen berdiri dari duduknya.


“Hanya itu yang ingin kubicarakan padamu!” Lalu berjalan pergi meninggalkan Rufia.


Airmata yang sejak tadi ditahannya, jatuh bercucuran. Hatinya remuk redam. Pemuda yang mengisi hatinya dengan tak berperasaan menolak dirinya, menjelaskan tentang arti hadirnya.


Ardhen langsung menuju toilet, di sana ia mencuci muka dan berwudhu. Ia beberapa kali menghela nafas. Setelah ia merasa sedikit tenang, ia kembali berjalan ke dapur, mengambil segelas minum.


“Ya Allah, Engkau pemilik hati. Aku berserah diri padamu. Tolong kunci hatiku hanya untuk jodohku, maka kembalikanlah hati orang-orang yang tak seharusnya menjadi jodohku ketempat jodohnya berada. Ya Allah, ampunilah aku telah menyakiti hatinya.” gumam Ardhen di dalam hati. Ia sebenarnya merasa tak enak hati berkata begitu pada temannya, namun itulah sebenarnya perasaannya.


Dia tidak ingin, hanya karena Rufia menyukainya, Abraham sahabatnya menjauhinya.


...----------------...