Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Bukti Kejahatan


Semua bukti tentang kejahatan Jonathan telah terbukti, ia telah mendapatkan hukuman mati karena banyak membunuh manusia, menculik anak-anak dibawah umur, mengotopsi tubuh manusia secara ilegal, menjual organ tubuh, memperjual belikan dan menggunakan obat-obatan terlarang, menipu banyak pihak, salah satunya Irfan.


Setelah Jonathan tertangkap, banyak orang-orang terpandang yang terseret karena bekerja sama dengannya, mereka mendekam di penjara. Kini, giliran Irfan yang diintrogasi sebagai atasan Jonathan.


Waktu acara pernikahan Calista dan Dedrick, dimana terjadinya penusukan pada Sekar, waktu itu...


Irfan yang baru masuk ke tempat pesta bersama putra dan menantunya dicegat oleh Jonathan, ia berkata untuk memperbaiki pakaian mereka, walau merasa aneh, mereka menurutinya.


Dor! Terdengar suara tembakan, lalu jeritan, beberapa tamu berteriak histeris dan berlari, Irfan segera memeluk cucu kesayangannya.


“Kemarilah, Tuan!” Jonathan menarik tangan Irfan bersama putra dan menantunya untuk berlindung.


Setelah itu, tak lama, terdengar suara serunai ambulance, pernikahan itu gagal, tak terlaksana.


“Bagaimana Tuan, akhirnya mereka gagal menikah 'kan?!” ucap Jonathan bangga.


“Tetapi kenapa terjadi penembakan seperti ini. Bukankah kau bilang hanya untuk mempermalukan keluarga Calista dan Wizza dengan menunjukkan foto dan video itu?!”


“Ya, Tuan. Akan tetapi, itu semua sudah diberantas oleh Andrean, ia sudah menggagalkan rencana itu, bahkan membalas balik dengan menampilkan gambar dan foto pria sampah yang kita sewa itu.” jawab Jonathan.


“Kamu tidak seharusnya melakukan kekerasan begitu! Bagaimana jika aku dan keluargaku terluka?!” bentak Irfan.


“Anda baik-baik saja 'kan Tuan, saya sudah menyelamatkan Anda sekeluarga sebelum terjadi kekacauan di sana.”


Plak! Irfan menampar Jonathan. “Apa kau tidak punya otak? Tamu yang ada di sana, semuanya penting, orang-orang yang bekerja sama dengan kita, keluarga dan kerabat lainku juga ada di sana.” ucap Irfan dengan intonasi tinggi.


Jonathan mengelus pipinya. Ia sangat benci di tampar seperti ini, ia tak terima.


‘Bajingan, kau akan merasakan tamparan ini 10 kali lipat dari yang kurasakan saat ini!’ gumamnya dalam hati.


“Maaf, saya ceroboh, Tuan.” jawab Jonathan.


Tak lama setelahnya, Irfan mendengar, dalam peristiwa itu, Sekar lah yang terluka dan masih belum sadarkan diri. Ia mendatangi apartemen Jonathan, ia kesal sekali. Akan tetapi, sebelum ia masuk ke dalam ia mendengar semua perkataan Jonathan, rencana buruk pria itu.


Di saat bersamaan, saat ia baru saja selesai mendengarkan, ia terpergok oleh Jonathan.


“Kau akhirnya mengetahui juga rencanaku, Tua Bangka? Aku memang sejak dulu benci pada keluarga kalian. Bukan hanya Wizza, tetapi juga kau! Pria sombong, congkak yang tak tahu diri.” ujarnya.


“Bawa dan ikat pria tua itu!” perintah Jonathan pada bawahannya.


“Baik, Tuan!” Beberapa pria kekar, mengikat dan memukul Irfan yang mencoba melawan.


“Hahahaha! Untuk apa kau berontak, Tua Bangka! Tunggu saja kematianmu dengan damai.” ucap Jonathan dengan tertawa meremehkan.


“Suntik pria tua ini dengan narkotika dosis tinggi, agar dia overdosis sampai ma-” Belum selesai perintah Jonathan. Sebuah suara keras terdengar dari pintu apartemennya.


Ada beberapa orang berjas dengan badan kekar memaksa masuk ke dalam ruangan itu dengan cara mendobrak pintu. Pin di baju jas mereka sangat berbeda dan bercampur, ada yang memakai pin keluarga Van Hallen, pin bawahan Berend dan logo mahkota bunga yang biasanya dimiliki bawahan perusahaan Ar3s. Irfan menatap mereka semua penasaran, haru dan senang.


Bawahan yang dimiliki Irfan semuanya sudah berkianat dan patuh pada Jonathan. Jadi, tak mungkin ada bawahan lainnya yang akan membantunya.


“Sial, kau rupanya memiliki bawahan rahasia!” gerutu Jonathan menatap tajam Irfan. Ia langsung menelfon seseorang. “Bersiaplah! aku akan pergi sekarang!” ucapnya. Kemudian, memasukkan beberapa barang ke dalam tasnya.


“Bunuh mereka semua dan pria tua bangka itu, aku akan segera mentransfer uang untuk kalian!” teriak Jonathan pada bawahannya yang sedang bertarung, kemudian pergi bersama dua orang bawahan penting yang selalu bersamanya.


Salah satu pria berjas yang sudah melumpuhkan bawahan Jonathan, ia melepaskan ikatan Irfan. “Pergilah dari sini, selamatkan dirimu!” ucapnya pada Irfan, lalu kembali melumpuhkan bawahan Jonathan dengan pukulan dan tendangan yang sangat keras.


Jonathan menaiki lift. Irfan melihat arah tujuan lift itu ke lantai paling atas, karena lift itu khusus untuk tujuan paling atas apartemen.


‘Apa dia hendak naik helikopter.’ gumam Irfan.


Setelah lift sampai, Irfan menekan lift itu agar turun, ia juga ingin naik ke atas. Namun ia tak menekan tombol paling atas. Akan tetapi, satu di bawah lantai paling atas. Jadi, ia naik tangga diam-diam ke sana satu lantai.


Saat ia sampai, ia mengintip perlahan, ia lihat Arsen putra Beren mencegah Jonathan dengan mengajukan pertanyaan. Kemudian, pemandangan yang sangat membuat ia terkejut, Puloh menjadi pengkhianat dan menangkap Jonathan.


‘Ada apa sebenarnya ini? Apa Puloh selama ini bekerja sama dengan Beren? Lalu, siapa yang harus kupercaya?!’ gumam Irfan, lutut nya melemah. Apalagi melihat semua orang sangat patuh pada anak laki-laki itu.


Arsen berdiri tepat di persembunyian Irfan. “Kakek keluarlah, jika tidak, aku akan meminta bawahanku menembakmu.”


Deg! Jantung Irfan berdetak cepat, perlahan ia keluar.


“Kau sudah tua, lebih baik istirahat. Pulanglah, Kek.” ucap Arsen dengan wajah datarnya.


Gluk! Irfan menelan salivanya saat melihat Jonathan yang sudah teler dengan air ludah yang menetes diseret bawahan Arsen, Puloh bahkan bersujud didepan anak kecil itu saking takutnya.


“Paman, antar Kakek Irfan pulang, dia pasti kelelahan.” perintah Arsen.


“Baik, Tuan Muda.”


“Sa-saya bisa pulang sendiri, Cu.” jawab Irfan gelagapan. Dia hanya sendiri, tak ada senjata, tak ada baju pelindung ataupun persiapan untuk menyelamatkan diri, bermodal penasaran kemanakah Jonathan tadi, hanya itu.


Arsen mendekat dan berbisik. “Kenapa kakek takut? Apa kau berniat melaporkan sesuatu pada polisi?”


“Ti-tidak, Cu!”


“Bagus, kalau begitu, biarkan bawahanku mengantarmu pulang.”


••


Begitulah kejadian beberapa waktu lalu yang menimpanya, anak kecil yang bisa mengalahkan Jonathan, kini tengah duduk bersama tim penyidik di dalam ruangan. Ia sangat santai dengan memakan potongan buah.


Irfan meneguk Salivanya.


“Hai, Kek!” sapa Arsen. Membuat bulu kuduk sang kakek berdiri, merinding.


“Paman, apa wajahku tidak tampan? Apa wajahku menyeramkan?” tanya Arsen pada polisi itu.


“Tentu saja tidak, Tuan Muda sangat tampan.” jawab Polisi itu tersenyum.


“Syukurlah, pantas saja buah ini terasa sangat enak. Kalau begitu, aku jalan-jalan dulu, Paman lanjutkan tugasnya, ya.” Menepuk pundak sang polisi.


Mata Irfan tak lepas memperhatikan Arsen sampai menghilang dari ruangan itu.


“Bisa kita lanjutkan kembali Pak kesaksiannya?” tanya polisi itu.


Irfan mengangguk sambil melirik sana sini.


“Sudah berapa lama Tuan Jonathan bekerja bersama Anda, Tuan Irfan?” tanya Polisi.