Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Rencana Selanjutnya


Hans menatap profil yang di sodorkan Arsen di laptopnya. Mata Hans terbelalak. Ia pernah bertemu dengan pria itu dua kali.


“Bu-bukankah ... ini orangnya Tuan Muda Andrean?” tanya Hans terbata.


“Ya, karena dia orang dalam, makanya Momku bisa diculik! Kakak harus bersiap! Kita akan melanjutkan rencana selanjutnya! Sekarang Kakak istirahatlah, saya akan memikirkan langkah selanjutnya, besok-besoknya Kakak pasti akan sangat sibuk, semua tugas akan saya serahkan pada Kakak dan Paman Barend.”


“Baik Tuan Muda! Tuan Muda juga harus jaga makanan dan istirahat Anda, tubuh Anda masih dalam masa pertumbuhan.”


“Ya, aku tahu. Ada Paman Xander Pim yang akan selalu mengingatkan, istirahatlah!”


Hans meletakkan semua berkas dan menyusun berkas-berkas yang berantakan. “Saya pamit undur diri dulu, Tuan Muda.” ucap Hans.


Pemuda itu benar-benar lelah, matanya bahkan sudah terlihat sayu. Ia sudah tiga hari ini kurang tidur.


Arsen masih berkutat dengan laptopnya, mencoret-coret kertas beberapa kali, entah apa saja yang direncanakannya kali ini untuk menghancurkan perusahaan kecil itu.


Tiba-tiba ponselnya berdering, Sakinah menelfon. Arsen bergegas keluar dari ruang kerja, membuka kacamata pembesar yang ia gunakan saat melihat laptop, merapikan sedikit rambutnya, kemudian segera mengangkat panggilan Ibunya.


“Assalamu'alaikum, Mom.” sapa Arsen.


“Wa'alaikumsalam. Kamu kapan pulang? Tadi mom menelfon Xander, bodygourdmu. Katanya kamu sudah pulang sekolah dan langsung ke apartemenmu. Apakah di Mansion kamu merasa tidak nyaman? Apakah tugasnya terlalu privasi?”


“Ti-tidak kok Mom. Ini masalah perusahaan yang aku beli waktu itu, aku 'kan masih sangat kecil, tidak paham hal seperti itu, jadi aku berdiskusi dengan Kakak Hans dan Paman Barend.” jawab Arsen menjelaskan.


“Oh, begitu. Mom bangga dan juga cemas mendengarnya, Nak. Ya, walaupun Mom dengar penjelasan Daddymu kamu mendapatkan banyak uang dari game ciptaanmu, Mom tetap saja khawatir.”


“Mom jangan khawatir, ada Kakak Hans, Paman Barend, bahkan Daddy juga membantuku Mom.”


“Iya sih. Kalau kamu merasa butuh bantuan, Papa dan Grandpamu sepertinya juga sangat berpengalaman dalam berbisnis, mereka 'kan juga memiliki perusahaan. Kalau Mom sih, memang tidak mengerti, jadi tidak bisa membantumu, apalagi mengajarkanmu.” Sakinah terdengar menghela nafasnya.


“Mom sudah mengajarkan kami hal-hal penting, menyayangi dan mencintai kami. Kata Bu Guru, pelajaran utama yang harus kami pelajari adalah ilmu agama, baru ilmu dunia. Bukankah Mom sudah mengajarkan kami ilmu agama sejak dulu. Kami sudah bisa mengaji, kami hafal banyak ayat pendek, kami hafal rukun iman dan islam.”


“Hm, iya sih. Ya sudah, Mom matikan dulu teleponnya, ya. Kamu cepat pulang jika sudah selesai urusannya, ya. Mom dan adik-adikmu menunggu di mansion, pakaian seragam kita sudah selesai, jadi tinggal mencocokan kembali. Apakah sudah pas, jika kurang, agar segera diperbaiki lagi.”


“Iya Mom, Abang akan segera pulang setelah ini. Abang sayang Mom.” ucap Arsen.


“Mom juga sayang Abang.” balas Sakinah.


Arsen tersenyum senang, kemudian memasukkan hpnya ke dalam kantongnya kembali.


Ia menatap Xander, pria itu segera mendekat lalu bertanya. “Apakah ada yang Anda perlukan Tuan Muda?”


“Untuk sekarang tidak ada! Tetapi aku ingin mengingatkan Paman satu hal! Aku sangat mencintai Momku, Paman paham 'kan maksudku?” ucapnya menatap Xander Pim sang bodygourdnya.


Xander Pim tersenyum ramah, sedikit merunduk dan meletakkan telapak tangannya didadanya sendiri. “Tuan Muda jangan khawatir, saya sangat mengerti akan tugas saya. Anda dan keluarga Anda adalah prioritas utama yang harus saya jaga. Perkataan yang penting dan tidak penting tentu saya filter (Saring) terlebih dahulu saat berbicara dengan keluarga Anda. Tuan Muda bisa percaya dengan saya,” katanya masih memasang senyuman.


“Ok, aku lega! Periksalah kendaraan kita, sebentar lagi kita akan segera pulang ke mansion!” perintah Arsen, Xander mengangguk mengerti, lalu berlalu pergi untuk memeriksa mobil yang akan dikendarainya di parkiran.


Arsen kembali ke laptopnya. Beberapa rencana telah ia buat, ia simpan di drive dalam laptop itu dengan judul ‘Rencana Kedua’ Lalu menulis pesan dikertas untuk Hans.


Arsen mendekat ke arah kedua pria kekar itu, mereka berdua cepat berdiri dan sedikit membungkukkan tubuh sebagai penghormatan, Arsen mengibaskan tangannya, bolamatanya ia gerakkan ke sofa. Kedua pria kekar itu kembali duduk, mereka bisa mengartikan gerakan tubuh atasan kecilnya itu.


“Aku lupa, siapa namamu Paman?” tanya Arsen menatap bawahan Hans.


“Nama saya Leyron Breley, Tuan Muda. Saya sudah menikah dan memiliki seorang putra sebaya dengan Tuan Muda, bersekolah ditempat yang sama dengan Tuan Muda Arhen, adik Anda. Istri saya bekerja dilabor sains, keluarga De Agrio, sedangkan saya hanya mantan pengamen jalanan yang dipungut oleh Tuan Barend.” jelasnya panjang lebar.


Arsen tersenyum dan mengangguk. Barend benar-benar tahu seleranya, ia tak suka banyak bicara, jadi orang terdekatnya harus pintar dan belajar mengartikan sendiri pergerakan tubuh dan ucapan pendeknya. Tak disangka, bahkan pengawal untuk Hans saja harus dicocokan dengannya juga.


“Baiklah, salam kenal kembali Paman Leyron, saya percayakan Kakak Hans padamu!” Arsen langsung berdiri dan beranjak pergi. Xander Pim mengikutinya, sebelumnya ia memberi salam pada Leyron.


Xander berjalan di belakang Arsen, disepanjang koridor, beberapa orang yang mereka lewati memberi salam. Seperti biasa, hanya Xander yang akan menjawab dengan ramah, sedangkan Arsen tidak pernah mempedulikan siapapun yang menyapanya. Dingin, itulah dia.


Xander membuka pintu, lalu menyusul kemudian.


“Kita berhenti dulu di Vend Boutique!”


“Baik, Tuan Muda.”


Tak lama, Xander telah menghentikan mobil mereka di Vend Boutique. Arsen keluar dan masuk ke toko itu.


“Selamat sore, silahkan Tuan Muda.” Manager toko bergegas menyambut Arsen. Ia mengenal Arsen sebagai atasan Barend, saat itu Barend membawanya berkunjung kemari.


Toko ini cukup besar, ada tiga toko saling terhubung, yaitu kue, pakaian dan perhiasan. Arsen langsung masuk keruangan kue, banyak kue yang dihias cantik.


Arsen menatap satu buah kue, ia menunjuk kue itu. “Wah, Tuan Muda seleranya memang tidak perlu diragukan lagi. Kue ini sangat populer dan juga terbatas. Ini kue satu-satunya yang tersisa hari ini.” jelas manager toko itu.


Arsen tersenyum, memperlihatkan black card berlogo Ar3s. Manager menelan salivanya saat melihat kartu itu.


Manager semakin bersikap hati-hati. Ia bergegas mengambil kue itu dan membungkusnya dengan sangat rapi. Xander Pim segera meraih kue yang dibungkus itu tanpa dibayar.


“Terimakasih Tuan Muda. Kami sangat senang Anda berkunjung kemari.”


“Hm.” Arsen berlalu pergi.


Setelah kepergian Arsen dan Xander, Manager menghela nafas panjang, lututnya sampai bergetar tadi.


“Ada apa Manager?” Bawahan mereka bertanya dengan cemas karena melihat atasannya terlihat sedikit pucat.


“Minum dulu Manager!” Bawahannya memberikan air minum, ia meneguk air itu sampai tandas.


“Sepertinya anak tadi, putra Tuan Arsen pemilik perusahaan Ar3s. Pantas saja, Tuan Barend sangat hormat saat itu.” gumamnya.


“Tuan Arsen pemilik Vend Boutique ini, Manager?”


“Sepertinya....”


...----------------...