Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Dendam?


Johan, pria berkulit hitam itu tengah berdiri di luar ruangan yang ada Hans dan Roselia di dalamnya. “Dia masih selamat dan hidup?” tanyanya tanpa menatap lawan bicara.


Beberapa detik hening, tak ada jawaban, mungkin saja bawahannya sedikit ragu, Johan menanyakan siapa. “Dua orang yang ada di dalam masih hidup, keadaannya lemah, tak berbahaya, sedangkan Arsen, pemuda itu cukup cerdik, dia lolos dari jebakan,” jawab bawahan itu menjelaskan sedetail mungkin, karena tak ingin dimarahi oleh Johan yang merasa tak puas akan jawabnya.


“Uh, tentu saja dia harus hidup lama, jika dia mati cepat, itu tidak lah seru. Sangat sia-sia IQ 180 nya jika dia mati hanya karena jebakan seperti itu. Jebakan itu belum seberapa dengan jebakan yang dia lakukan. Dia akan merasakan yang namanya senjata makan tuan, aku sudah tidak sabar menunggu dia sampai kemari, kuharap dia tidak cepat mati, sehingga mengecewakanku! Ahahahh!” Johan tertawa lantang.


Bawahannya juga ikut-ikutan terkekeh.


“Lalu, bagaimana dengan yang lain?” tanyanya setelah menghentikan tawanya yang terlihat mengerikan itu.


“Team Londo sudah menuju ke perusahaan makanan, Ven Beutique juga sudah diamankan oleh Sony. Sedangkan di Indonesia, Jero sudah menyewa pembunuh bayaran untuk membunuh Arhen. Kita hanya menunggu hasilnya Boss!”


“Hahahaha, bagus!” Johan tampak senang mendengar.


***


Rufia tengah terbaring di rumah sakit, dia baru saja tersadar, kedua kakinya di perban, kepalanya juga. Di samping nya ada seorang pria yang tengah tertidur.


“Abraham...” gumam Rufia. “Aku selamat, ataukah ini mimpi?” pikirnya, Rufia mulai melihat ke sekeliling.


Rufia menggerakkan jarinya perlahan, jari yang di genggam Abraham, sampai dia tertidur. “Hm,” Abraham bergumam karena jemari Rufia menggesek hidungnya.


“Ruf!” Abraham membuka matanya, dia langsung duduk tegak, menatap Rufia. “Kamu sudah sadar, Ruf?”


“Hm,”


Abraham langsung mendekatkan tubuhnya pada Rufia. “Apa yang kamu rasakan? Kamu ingin duduk? Aku bantu, ya?” Abraham, memutar pemutar ranjang pasien, sehingga ranjang bergerak ke atas, membuat punggung Rufia nyaman untuk duduk.


“Haus!”


“Sebentar lagi ya, minumnya. Kata dokter, tunggu 5-10 menit setelah sadar, baru minum atau makan, takutnya mual dan muntah,” jelas Abraham.


Setelah beberapa menit berlalu, Rufia pun sudah diizinkan minum, Dokter pun juga sudah memeriksa keadaan Rufia. Tak lama, yang menabrak Rufia masuk ke dalam ruangan, dia meminta maaf pada Rufia, memberikan beberapa ganti rugi dan biaya pengobatan Rufia.


Rufia menolak, karena dengan dibayar biaya pengobatan nya sudah cukup, tapi orang itu tetap bertanggung jawab, bahkan meninggalkan kartu nama.


“Silahkan hubungi saya, jika Anda memiliki masalah ke depannya,” ucap orang itu.


Setelah berbincang, orang itu pun pamit karena dia harus kembali bekerja, sedangkan Abraham masih setia menunggu Rufia. “Kamu kok bisa di sini, Abraham?” tanya Rufia.


“Aku khawatir padamu, apalagi setelah membaca pesan dari Ardhen dan Cleo,” jawab Abraham.


“Pesan?”


“Iya,” sahut Abraham dengan wajah suram. “Setelah kamu agak mendingan, kita ke Jepang ya!” ajak Abraham.


“Aku nyaman di sini kok, ini-”


“Tidak Ruf, aku tidak akan mengizinkanmu tinggal di Italia sendirian lagi! Aku akan membawamu ke Jepang, sekarang posisimu masih berbahaya! Ardhen dan yang lainnya juga belum memberi kabar lagi! Cleo tadi malam mengabari ku, beberapa kelompok datang ke perusahaan, menembaki banyak karyawan, Ven Beutique juga di bakar. Cleo mendapatkan tembakan di lengannya sekarang,” terang Abraham.


“Apa? Lalu, Ardhen gimana?”


Rufia menghela nafas, Abraham tampak berwajah sedih.


“Baiklah, kalau begitu!” Rufia pasrah setelah mendengar penjelasan Abraham. Dia berusaha bangkit, ingin pergi ke toilet. Saat ia mencoba bangkit, kakinya tak bisa di gerakkan.


Dia menatap Abraham yang memasang wajah sendu. “Maaf, biar aku gendong saja ya,”


“Ja-jangan bi-bilang, ka-kakiku---” Bibir Rufia gemetar saat mengatakan itu. Abraham hanya mengangguk pelan


“Ti-tidak!!” Rufia langsung menangis histeris. Hidupnya benar-benar malang dan kasihan.


Abraham memeluk Rufia dan menenangkannya. “Jangan risau, ada aku Ruf. Aku akan selalu bersamamu, aku tak akan pernah meninggalkanmu.”


Hap! Setelah berkata seperti itu, langsung Abraham menggendong Rufia, berjalan menuju toilet. “Aku berdiri di sana, panggil aku jika sudah selesai!”


***


Kelompok besar, beberapa mobil sedan hitam dengan pakaian formal berjas dan kameja, lalu beberapa orang karyawan yang memang sudah bekerja di perusahaan makanan milik Ardhen tengah berdiri siaga. Awalnya mereka menerobos mencari Ardhen, karena tidak menemukan, mereka pun melakukan kekerasan dan menembaki satpam, pengawal, karyawan dan lainnya yang mencoba melawan dan memberontak. Salah satunya Cleo, dia mendapatkan tembakan tepat di lengannya dan dadanya.


Peluru yang di tembakkan di dadanya tersangkut di pakaian dalam anti pelurunya, sedangkan lengannya tidak memakai anti peluru.


Londo, pria berambut keriting dengan warna pirang, wajahnya berbintik-bintik, dengan lubang hidung yang cukup besar, sebagai pemimpin kelompok itu, dia sedang berbagi kabar dengan Sony yang berada di Vend Beutique.


Mereka serempak melakukan kekacauan, Sony membakar Vend Beutique, Londo juga menembaki dan menghancurkan perusahaan, lalu kabur dari sana sebelum polisi datang. Saat melakukan aksinya, Londo memakai jambang, kumis, dan riasan super yang membuat wajahnya terlihat sangat berbeda dengan wajah aslinya.


Dia memiliki dendam pribadi pada Arhen dan Ardhen. Sewaktu mereka bertemu di pertemuan kemampuan memasak di sebuah aula hotel milik Hilton dulu. Londo berbicara pada Ardhen, ingin berteman dengannya, tetapi Ardhen mengabaikan dirinya, fokus pada masakannya. Setelahnya, Arhen datang-datang malah tertawa, menepuk-nepuk pundaknya sok akrab. Padahal dia merasa sangat risih di tepuk pundaknya. Dia juga merasa di ejek karena diabaikan Ardhen.


Dia merasa kesal bercampur sedih.


Perasaan itu semakin bertambah, setelah semua perhatian orang-orang tercurah pada Arhen, anak laki-laki tampan yang memiliki banyak teman laki-laki atau pun perempuan, orang-orang menyukainya. Para orangtua menyapanya, superstar cilik.


Malam sebelum dia pulang dari acara itu, Londo membuat minuman dengan susah payah, dari sari buah-buahan, di campur dengan susu cream di atasnya sebagai toping. Minuman itu ingin ia persembahkan pada seorang gadis kecil yang dia taksir.


“Ini untukmu!”


“Untukku? Oh, te-”


“Hei, kau di sini? Aku cariin, eh, kelihatannya minuman ini enak? Minumanmu, ya?” tanya Arhen yang langsung menerobos pertemuan Londo dengan gadis kecil incarannya.


“Iya, kamu mau?”


“Iya, dong, kelihatannya segar!” Arhen langsung meminum minuman itu sampai tandas.


***


Dendam? Satu hal sepele menurut Arhen dan Ardhen, namun membekas dalam bagi orang yang merasakan. Kejadian masa lalu, saat mereka masih anak-anak, dimana Arhen yang ceria tidak bermaksud menghina, tapi Londo malah tersinggung.


Ardhen yang memang lebih fokus pada memasak, memang sering mengabaikan sekitarnya, dia tidak terlalu peka tentang perasaan orang. Baginya, dunia hanya milik Mom, memasak, makanan, dan keluarga. Sayangnya, sikap Ardhen itu menjadi penyakit hati untuk Londo.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...