Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Tumbang


Johan bersama 10 pengawal tersisa, dia memerintahkan 5 orang untuk tinggal menyerang diam-diam. 5 ikut dengannya.


“Kalian berdua ke ruang produksi Anggur dan gudang, hidupkan semua mesin dan apapun yang bisa mengeluarkan suara. Dan kau, keruang mesin, hidupkan semua cahaya, mesin manual dan alat manual. Lalu pergi ke atap tiga, pergilah langsung menggunakan helikopter cadangan di sana!”


“Tapi, Boss. Bagaimana dengan Anda?”


“Aku punya cara, cepat kalian ke sana!” jawab Johan. Mereka bertiga pun patuh, pergi ke ruang mesin dan produksi.


“Kau pergi ke atap bangunan utama, ada satu helikopter di sana, pilotnya sudah mati, kau paling lemah, berusahalah menyelamatkan diri dengan menjalankan helikopter itu! Cepat! Aku akan menuju ruangan lain!”


“Ta-tapi, Boss!”


“Pergi!” usir Johan, kemudian berlari kencang.


Brugh! Dia saling bertabrakan dengan Arsen yang sedang mengamuk. Doar! Tembakan dan satu ledakan. Dalam kabut asap yang tebal itu, Johan dan Arsen saling bergumul. Satu bawahan yang tersedia memegangi tubuh Arsen dari belakang. Dalam kabut tebal itu, Arsen dikeroyok oleh dua orang.


Arsen tersungkur karena wajahnya dipukul oleh bawahan Johan, tetapi dia mendapatkan senjata dan menembak tepat di kening pengawal Johan Dua kali, dia berniat membunuh Johan sayangnya peluru itu habis.


Bugh! Dalam kabut itu, Johan dan Arsen saling pukul. Untuk pertama kalinya, topeng Johan terlepas, dia bisa melihat dengan jelas wajah itu.


“Kau!” Arsen mencengkram kerah baju Johan.


“Ya, aku Johan Rhys alias James Athew, kau suka kejutan?” Johan tersenyum menyeringai sambil membalas cengkraman kuat di leher Arsen.


“Cuih! Seperti itu kau bilang membebaskan, dengan membunuh ayahku, mengirim ibuku hidup menderita, menikah dengan manusia rendahan dan ba*jingan? Lalu kau juga membunuh Eline Fey yang tak tahu apa-apa! Dia adalah wanita yang sangat aku cintai. Sekarang bagaimana? Kau tahu 'kan rasanya kehilangan wanita yang kau cintai dan ibumu? Begitulah yang aku rasakan, ahahhaha!” Johan tertawa puas dan terus mencengkram leher Arsen.


Brugh! Mereka kembali bergerak dengan sedikit memutar posisi tubuh, namun masih sama-sama mengunci. “Sebentar lagi ayahmu juga mati, kau akan menyaksikan kehilangan ayah, sama seperti ku. Sekarang aku sangat puas melihat kau menderita dan merasakan apa yang aku rasakan. Oh ya, sebentar lagi, kau juga akan mendengar kematian dua adikmu!”


Deg! Arsen menggila, lalu memukul kuat Johan.


“Tuan Muda!” Dalam kabut itu, disela mereka berdua berkelahi, Berend Elmo datang memanggil.


Johan mendorong Arsen dan menghilang dalam kabut. Lalu terdengar suara nyaring berderak, lalu menggelinding, dan menggiring, seperti seseorang menarik sebuah besi. Arsen dan Berend Elmo menghentikan pergerakan.


Brak! “Aaah!” Berend Elmo meringis. Bagian belakangnya ditusuk. Arsen pun di pukul bagian kepalanya, tepat di antara pelipis, mata, alis dan kening.


“Tuan Muda!” Berend Elmo langsung menangkap Arsen dengan wajah yang mengalir deras darahnya.


Berend Elmo dan Arsen berusaha menggapai-gapai keluar, Johan dan bawahannya yang juga tengah terluka parah pergi dari kabut itu ke arah bangunan lantai dua.


Berend Elmo terus membopong tubuh Arsen yang melemah, tampak wajah orang sumringah menyambutnya, dan ada beberapa pengawal yang sudah bersiap masuk kabut juga dengan penutup hidung dan kacamata serta senjata lengkap. Lalu tiba-tiba, Brak!


Berend tumbang! Terlihat Vindo memanggilnya dengan berlari kencang. “Daaaaaaad!” Berend tersenyum sembari mengeluarkan air mata.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...