
Di ruang makan.
Sakinah telah duduk di meja makan antara Arhen dan Ardhen. Di hadapannya ada Sekar, Andrean dan Dedrick, sedangkan Wizza duduk di kursi ujung diantara Sekar dan Arhen.
Sarapan pagi yang berjalan dengan tenang tanpa suara, tersaji dihadapan mereka masing-masing sepotong roti dan susu hangat.
Dedrick mencuri-curi pandang melihat Sakinah. Entah kenapa dadanya selalu saja berdebar melihat istri adiknya itu.
“Pa, apa hari ini pergi ke kantor?” tanya Arhen.
“Ya.” jawab Andrean dan Dedrick kompak.
Mereka terdiam dan saling menatap, wajah mereka memerah menjadi salah tingkah.
“Aku bertanya pada Papa Dedrick, Papa kedua.” Arhen kembali berucap setelah mereka berdua saling salah tingkah.
“Iya, Papa akan pergi ke kantor setelah ini.” sahut Dedrick.
“Aku ingin pergi ke kantor bersama Papa.”
Wizza menatap Arhen. “Aku ingin ke kantor bersama Papa kedua Granpa.” ucapnya menatap Wizza juga.
Wizza menatap Dedrick, anak itu malah menatap Mamanya. Sedangkan Sekar menatap Andrean.
Andrean meminum susunya sampai tandas, menghiraukan pandangan mata semua orang padanya. “Aku pergi dulu, bye Ma, Pa. Sampai bertemu di kantor.” Ia tatap Dedrick di akhir kalimat, lalu beranjak pergi.
“Tunggu!”
Andrean berdiri diam. “Anak-anak, salam sama Papa.” ucap Sakinah yang diiringi dengan ia berdiri dan mendekat pada Andrean.
Sakinah mengulurkan tangan, Andrean ternganga dan menyambut salaman tangan, lalu Sakinah mencium punggung tangan Andrean, membuat pria itu tercengang, ia dengan cepat menarik tangannya kembali.
“Apa yang kau lakukan?” tanyanya.
Perbuatan Andrean itu sontak membuat Arhen dan Ardhen memberikan dia nilai kurang. Mereka pun jadi enggan menyalami Andrean.
“Bukankah kamu hendak bekerja, aku hanya menyalamimu, anak-anak juga begitu. Ayo, anak-anak salam Papa.”
“Tidak usah Mom. Papa pertama tidak mau disalami.” Arsen dan Ardhen memilih duduk kembali.
“Arhen, Ardhen.” Sakinah sedikit melotot.
“Aku mau pergi dulu!” Andrean langsung beranjak pergi dengan buru-buru.
“Papa kedua, apa aku boleh ikut ke kantor bersama papa?” Arhen mengulangi kembali pertanyaannya.
“Hm, boleh.” jawabnya.
“Aku akan membawa Arhen ke kantor. Apakah boleh?” tanyanya menatap Sakinah. Dadanya bergemuruh hebat. Ia benar-benar grogi, ia dalam keadaan menahan perasaan saat ini.
“Boleh. Arhen jangan nakal ya.” Sakinah memperingati Arhen.
“Aku tidak akan nakal Mom, jangan khawatir.”
Arhen menyalami dan mencium tangan Sekar, Wizza, dan Sakinah. Lalu Ardhen mencium tangan Arhen.
Dedrick lama terdiam menonton pertunjukan salaman itu.
“Apa laki-laki sesama laki-laki bersalaman juga begitu di Indonesia?” tanya Dedrick saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Arhen diam dan tampak berpikir. “Bersalaman itu boleh semuanya Papa, laki-laki atau perempuan. Mom selalu mengajarkan kami untuk menyalami yang jauh lebih besar dari kami, laki-laki atau perempuan. Artinya kita menghormati orang itu.”
“Ooohh.”
“Iya, Pa.”
‘Jadi dia menghormati Andrean dengan mencium tangannya seperti itu? Andai saja...’
Di Belanda, mencium tangan pria itu terlihat sangat ganjil dan aneh. Biasanya para pria yang mencium tangan lady. Bukan lady yang mencium tangan pria.
Mereka telah sampai di kantor, melewati lift VVIP khusus CEO. Arhen berjalan mengikuti Dedrick di sampingnya. Semua karyawan yang berselisih dengan mereka dibuat tercengang, apalagi Callista.
Arhen memakai jas yang sama warnanya dengan Dedrick. Ia sibakkan rambutnya, berjalan dengan angkuh. Sangat mirip! Versi anak kecil dan pria dewasa. Kantor menjadi riuh setelah melihat anak kecil itu.
“Duduk di sini ya, main ini bersama Paman, Papa harus bekerja dulu.”
“Berapa lama?” tanya Arhen.
“Lamanya berapa jam?”
“2 jam.”
“Baiklah, aku akan menunggu 2 jam 10 menit. Kalau Papa belum datang, Paman ini akan mendapatkan hukuman. Papa harus cepat datang, Janji.” Megulurkan jari kelingkingnya.
“Janji.” Dedrick mengaitkan jari kelingkingnya.
2 jam 10 menit telah berlalu, Arhen masih duduk tenang di kursi, menonton video dilaptop. Pria yang ditugaskan menjaga Arhen itu pun merasa santai dan melanjutkan pekerjaannya kembali.
“Paman! Kemari!” Arhen memanggil.
“Aku ingin main kuda-kudaan.” Pria itu terdiam sebentar, kemudian ia pun merangkak dengan Arhen menduduki punggungnya.
“Husst! Cek-cek! Husst, Kuda!” ucapnya sembari terus menepuk-nepuk lengan pria itu.
Ia adalah Sekretaris ke tiga Dedrick. Jarang mengikuti rapat, lebih cendrung membuat data dan mempersiapkannya. Sedangkan Calista adalah Sekretaris keduanya.
Kurang lebih satu jam merangkak, lutut pria itu terasa sangat sakit, ia tak kuat lagi. Arhen melempar-lempar kertas yang ada di meja ke lantai. Ruangan menjadi berserakan.
Callista masuk terlebih dahulu. “Apa yang kau lakukan anak nakal?” Wanita itu langsung menjewer telinga Arhen. Ia benar-benar benci dengan anak yang mirip dengan Dedrick pria yang sangat ia sukai itu.
“Wanita seperti apa Ibumu itu? Pasti wanita yang tidak benar!” hinanya.
Arhen memanjat ke atas meja, ia melompati Calista wanita dengan pakaian sexsy itu. Bergelayut di lehernya, menggigit bahu mulus Calista, mencubit tengkuknya.
“Auwch! Anak kurang ajar, awas kau!” Ia mencoba mendorong Arhen yang bergelayut di tengkuknya agar terlepas. Satu tangannya lagi menarik rambut Arhen agar terlepas dari bahunya.
Brugh! Mereka berdua terjatuh.
“Arhen!” Dedrick langsung menggendong Arhen yang berada diatas tubuh Calista.
Calista meringis sakit. Tubuhnya yang jatuh, tengkuknya yang sakit karena dicubit dan bahunya perih karena digigit.
“Papa, wanita itu jahat, dia mencubit dan menjewer telingaku, dia menghina Mom, mengatakan aku anak nakal, padahal aku gak nakal.” Arhen sedang berakting menangis menjadi anak yang paling tersakiti.
“Anak kecil, itu semua karena kau melakukan yang tak musti kau lakukan!” sungut Calista merapikan pakaiannya, mengelus tengkuk dan bahunya yang sakit.
“Tanya saja pada Paman itu Pa. Kakak gak jahat kok. Iya 'kan Paman?” tanyanya dengan tersenyum mengancam.
“I-iya Pak.”
“Dedrick, dia menggigitku, lihatlah dia membuat ruangan ini berantakan!” seru Callista tak terima.
“Lalu kenapa kertas ini berserakan?” Tanya Dedrick menatap Arhen.
Arhen langsung bergelayut manja, tangannya yang sedang memegang bahu dan tengkuk Dedrick yang sedang menggendongnya langsung ia peluk lebih erat, menyandarkan kepalanya di bahu gagah itu.
“Maaf, Pa. Tadi Papa Janji, hanya 2 jam 10 menit, tetapi Papa ingkar janji. Aku melempar kertas karena kesal.”
“Papa tidak sayang padaku lagi...” ucapnya lirih.
Arhen mengangkat kepalanya yang ia sandarkan dibahu Dedrick tadi, menatap Dedrcik dengan wajah menghiba. Sungguh, wajah aktingnya yang bersedih sangat sempurna terlihat. “Papa jangan marah ya, maafkan Kakak.”
“Kakak gak mau jauh dari Papa. Cup!” Arhen mencium pipi Dedrick, membuat pria itu bersemu merah. Ciuman yang diberikan Arhen menyentuh kedalam hatinya.
Jika bisa berandai-andai, ia ingin menjadi ayah kandung anak yang digendongnya ini.
Dedrick memeluk Arhen. “Aku tak ingin mendengar alasanmu!” Menatap tajam Calista.
“Bereskan, aku akan keluar!” ucapnya dingin pada pria yang dijadikan kuda oleh Arhen tadi.
Ia keluar dari ruangan sembari menggendong Arhen.
“Hei, apa anak itu anak Pak Dedrick?” bisik seorang resepsionis.
“Tentu saja, kau tak melihat betapa sangat miripnya mereka.” jawab teman disebelah kanannya.
“Berarti benarkah gosip itu? Jika Pak Dedrick memiliki anak haram dengan wanita tak jelas?” tanya temannya yang disebelah kiri.
“Hussst! Pelankan suara kalian, jika tak ingin dipecat.” sahutnya memperingati teman-temannya.
...***...