Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Saya Abraham Holt


“Kenapa bisa Papa yang memperkenalkannya pada Abang?” tanya Arhen penasaran.


“Yaaaa, memangnya kenapa?” balas Arsen malah balik bertanya.


“Abang!” Arhen merentalkan kakinya dua kali dilantai.


“Sudah!” Arsen mengibaskan tangannya. “sekarang sudah waktunya!” Arsen menatap jam tangannya, lalu menatap Jimi.


Jimi, Hans serta Barend bersiap pergi. Tentu saja sebelum pergi, Billa memeluk suaminya itu begitu erat.


“Hati-hati Honey, aku akan selalu berdo'a yang terbaik untukmu!” Sedikit drama lebay yang membuat Arsen berkali-kali berdecih di atas mobilnya.


“Dasar anak kecil yang dingin!” ucap Billa. Arsen hanya tersenyum kecil mendengarkan Billa yang kesal padanya.


“Do'akan ya Honey. Cup!” Lagi, seolah akan berpisah bertahun-tahun saja.


Akhirnya, Jimi benar-benar masuk ke dalam mobil. Billa melambaikan tangannya, setelah mobil hilang dari pandangan, ia menggendong Arhen, Sakinah juga hendak menggendong Ardhen masuk kembali ke apartemen.


“Tunggu, Nyonya. Biar kami yang menggendong Tuan Muda.” ucap Clara yang selalu mengikuti Sakinah kemanapun.


“Kami tidak mau! Kami rindu digendong sama Mom dan Miss. Lagian, kami bisa berjalan biasanya, baru sekarang kami minta digendong!” jawab Arhen tegas.


“Tidak apa-apa Clara, biasanya aku sering menggendong anak-anak. Aku senang melakukannya.” ucap Sakinah tersenyum.


Akhirnya Clara, Amy dan Nani hanya bisa menuruti dan mengikuti langkah Sakinah dan Billa kembali ke apartemen, tentu saja bukan mereka saja, tetapi ada beberapa pengawal pria yang berbadan kekar dibelakang mereka.


**


Beberapa minggu yang lalu.


Abraham Holt, ia teman sekelas Ardhen. Hari itu, saat Ardhen bercerita tentangnya, Andrean langsung menyelidiki dan mulai memandang keluarga Holt yang selama ini tak pernah ia pedulikan, ada pun keluarga Holt menjalin bisnis dengannya tetapi tak terlalu berpengaruh besar untuk perusahaannya.


Ia membuat janji makan malam dengan Samuel Holt sekeluarga, ia adalah Ayah Abraham Holt.


“Selamat malam, aku terlambat datang ya?” ucap Andrean berbasa-basi, ia mengulurkan tangannya.


“Tidak masalah Tuan, kami juga baru sampai!” sahut Samuel, ia menjabat tangan Andrean yang telah terulur.


“Kami sangat senang karena diundang untuk makan malam diresto ini.”


“Terimakasih sudah datang. Mari kita mulai!” Andrean menatap pelayan sembari menjentikkan jarinya. Pelayan itu mengangguk.


Tak lama, akhirnya beberapa hidangan mulai tersaji, hidangan mewah yang terlihat sangat lezat.


“Mari!” Andrean membuka satu tangannya untuk mengajak makan.


“Kau juga duduklah Dav, jangan berdiri terus. Anakku pasti akan marah jika melihatmu seperti ini. Mereka akan mengatakan aku atasan kejam yang tak memberimu makan.” ucap Andrean setengah berbisik pada David.


David tersenyum kecil. “Aku nyaman seperti ini Tuan Muda, lagian tidak ada anak Tuan Muda juga di sini.” jawab David berbisik juga.


Andrean memperlihatkan cincin permata berwarna biru yang melekat dijari tangannya.


“Apa kau masih meragukan kemampuan putra sulungku?” tanya Andrean dengan suara biasa tanpa berbisik lagi, sembari ia memotong-motong daging stik yang telah dihidangkan dalam piringnya oleh pelayan tadi.


“Itu ... saya tidak akan meragukannya, Tuan Muda.” David segera memilih duduk disampingnya Andrean.


Ya, cincin permata biru yang pernah diberikan Arsen kala itu padanya, sebenarnya selama ini ia tak pernah curiga dengan cincin itu, ia hanya cemburu saat Sakinah dan Dedrick memakai cincin yang sama, makanya ia juga ingin memakainya. Tetapi, setelah ia menemukan banyak keanehan, ia baru mengetahui fakta penting.


Langkahnya selalu diketahui, rencananya, padahal ia telah mengganti laptop dan hp baru.


Andrean sampai melongo bodoh saat mendapati pertanyaan itu. Untung saja, Sakinah selalu meminta melakukannya dibawah selimut. Jadi, Arsen tak akan melihatnya dengan jelas. Bisa dibilang, yang terlihat banyak hanya kegelapan!


Mungkin, dulu Andrean bermain tanpa selimut, sekarang saat bersama Sakinah, sebelum memulai saja, ia harus banyak ini dan itu, tidak langsung main nyosor. Tarik baju, banting ranjang. Bukan! Bukan seperti itu jika ia melakukan dengan istrinya Sakinah.


Semenjak mendapatkan pertanyaan memalukan itu, ia mulai memeriksa setiap sudut ruangan kamarnya, mungkin saja ada kamera kecil pengintai yang dipasang anak-anaknya? Akhirnya, suatu hari ia curiga pada cincinnya. Dan ternyata benar!


“Kudengar, anakmu hebat membuat kue ya?”


“Lumayan Tuan Andrean, jika Anda berkenan, aku akan memintanya membuatkan kue khusus untuk Anda cicipi.” jawab Samuel Holt.


“Aku kurang suka makanan manis, tetapi temanku pecinta kue. Kau bisa membawa kue buatan anakmu pada alamat ini!” Andrean menyodorkan kartu nama Hans pada Samuel.


“Apa kau mengenal Ardhen, Anak Kecil?” tanya Andrean pada Abraham.


“Iya, saya kenal dengan Ardhen, Paman. Ia juga sering menceritakan jika ayahnya sangat pintar.” sahut Abraham.


“Kau anak kecil yang pandai bicara, sepertinya putra bungsuku suka berteman denganmu!”


“Terimakasih Paman. Aku juga sangat senang berteman dengan Ardhen, dia lembut dan baik.”


“Tentu, sikapnya lebih banyak seperti Momnya.”


Beberapa waktu berlalu. Makan malam pun selesai.


**


Beberapa hari kemudian, Samuel segera menghubungi alamat yang diberikan oleh Andrean. Ia terkesiap saat melihat pemuda di depannya tersenyum dan menyapanya.


“Hans Ares?”


“Ya.” Hans berjabat tangan.


Hans lebih dikenal dengan nama Hans Ares, sebagai asisten pribadi Arsen yang mengurus apapun.


Samuel beberapa kali mengerjapkan matanya, apa mungkin dua perusahaan hebat bersatu? Andrean adalah CEO Antaman Wizgold, perusahaan yang mengelola bermacam-macam perhiasan. Perusahaan Ar3s juga perusahaan pengolahan biji besi dan perhiasan. Mungkinkah?


“Maaf, Tuan Andrean memberikan saya alamat ini untuk saya hubungi.” Samuel sedikit canggung. Takut jika Hans sebagai orang penting perusahaan Ar3s merasa tersinggung membahas CEO perusahaan lain.


“Iya, Tuan Muda Arsen telah mengetahuinya juga. Anda bisa meminta putra Anda mengantarkan kue ke Vend Beutique!” jawab Hans dengan expresi datar.


Samuel sedikit ngeblenk! Entah karena cemas atau apalah, dia tidak juga menyambung. Masih dengan tatapan melongo.


“Jika Tuan Samuel tidak tahu Vend Beutique, ini alamat lengkapnya. Bawalah kue putra Anda ke sana, akan ada yang mencicipi kue itu. Jika Tuan Arsen merasa cocok, dia akan membantu mengembangkan kemampuan putra Anda dengan mengajaknya berbisnis!” jelas Hans.


“Ooooh, terimakasih Tuan Hans!”


Keesokan harinya, Abraham Holt membawa kue buatannya ke Vend Buetique, ia pergi ke sana bersama seorang Pelayan dan Bodyguardnya.


“Permisi, saya Abraham Holt.”


“Ya, silahkan masuk Tuan Muda Abraham.”


Abraham masuk ke dalam, seorang pria yang sangat ia idolakan tengah berdiri melihat beberapa alat masak.


“Tu-Tu-Tuan Samber!” Kue yang dipegang Abraham sampai ikutan bergetar.