Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Pulau


“Oh!” jawab Andrean. “lalu, kamu tidak menambahkan area daerah kekuasaannya?” tanya Andrean lagi.


“Seperti town atau castle maksud, Papa?” tanya Arsen.


“Hm, mungkin!” jawab Andrean bergumam.


Arsen terdiam sejenak, lalu kembali bertanya, “Arbluefire, permainan perang yang merebut kekuasaan daerah lawan. Lebih cendrung castle seharusnya. Tetapi town juga menarik! Bagaimana menurut Papa?”


“Hm, menurut Papa ... Castle adalah wilayah utama, lalu town, garden dan lainnya menjadi wilayah pendukung!” usul Andrean.


“Jika kita membuat game town, itu sama dengan game buatan Amerika! Jika kita bertema dengan game Castle, itu sama dengan game buatan Italia!”


“Eh? Apa kau mendownload semua aplikasi game, Nak? Sampai kau hafal begitu?”


“Ya, aku mendownload beberapa game, membandingkan dan mencari inspirasi dari sana!”


“Hm, bagaimana jika Arbluefire terbaru, update even kotak harta karun!” usul Andrean lagi.


“Kotak harta karun? Itu 'kan sudah ada! Setiap menyelesaikan misi, merebut wilayah pertahanan lawan dan membunuh monster besar akan mendapatkan kotak misteri seperti senjata dan cloting!”


“Itu 'kan kotak hadiah, bukan kotak harta karun. Karakter baru ada tiga yang akan dimunculkan, jadi ... untuk menyelesaikan misi, mereka harus toup up, senjata yang digunakan harus khusus, hanya bisa dibeli dengan diamond gold. Tiga karakter ini adalah King and Queen secret palace!” jelas Andrean.


“Aaaa, ok, i'm understand!” ucap Arsen meletakkan jari tangannya di dagu, matanya beberapa kali berkedip dan ia terus berpikir.


“Kini, kita harus memikirkan istana dari tiga karakter ini, daerah kekuasaan mereka, harus istimewa dari karakter lain.” Andrean berkata sembari mengelus kepala Arsen.


“Aku butuh bantuan Papa! Berikan aku orang pintar yang bisa melukis dengan seni fantasi!” ucap Arsen sangat serius.


“Baiklah. Muah!” Andrean mengecup pipi Arsen.


“Papa!” serunya menghapus bekas ciuman itu. “Menggelikan!” Andrean hanya terkekeh senang saat melihat Arsen kesal.


**


Hans dan Jimi sedang bersama rekan bisnisnya, sedangkan Billa hanya bisa menunggu direstoran bersama beberapa pengawal. Pertemuan Mereka tanpa sengaja, apalagi Jimi belum sempat membersihkan diri tadi dari make up-nya. Rencana mereka keluar hanya membeli beberapa barang penting.


“Tuan Jiming Ho Chen, saya sangat senang sekali bisa bertemu dengan Anda secara langsung. Saya ucapkan banyak terimakasih atas menerima kerja sama kita.” Lawan bicaranya berbasa-basi.


“Ku dengar, Ar3s akan menambahkan pembangunan dan membutuhkan banyak karyawan. Lalu stok batu mulia juga mulai menipis karena pengolahan jewelry untuk event.” ucapnya.


“Jika Tuan Jiming Ho Chen setuju, saya memiliki simpanan batu mulia, bisa digunakan untuk kerangka awal perhiasan. Tetapi, saya membutuhkan sedikit bantuan. Ini proposal saya.” Pria itu menyodorkan berkasnya.


Jimi membaca berkas itu. “Saya tak bisa memutuskannya sekarang, saya harus menyepakati dulu dengan Tuan Muda Arsen.” jawab Jimi.


“Tentu saja Tuan, tidak masalah.” jawabnya.


Pria lawan bicara Jimi dan Hans sekarang adalah Puloh. CEO cabul dari Perusahaan Brilindor Siix. Di sampingnya ada seorang sekretaris baru nan cantik dan molek. Bukan lagi sepasang manusia yang Hans lihat di acara ulangtahun Tuan Mudanya kala itu. Ya, wanita itu Jesylin dan temannya.


“Ini kartu nama Sekretaris saya, jika Tuan Arsen setuju, Anda bisa menghubungi sekretaris saya. Dia sangat loyal, ramah dan penurut.” Terukir senyuman aneh dari bibir Puloh, wanita disebelahnya terlihat senyum menggoda.


Ya, ada makna tersirat di dalam kalimat terakhirnya. Sayangnya, Jimi pria setia dan Hans pria yang tak pernah memikirkan wanita, hidupnya hanya ia habiskan untuk cita-citanya, menjadi orang sukses yang bisa membanggakan orangtuanya! Dan kini, orangtua serta adik perempuannya sangat bangga akan hasil pencapaiannya menjadi asisten pribadi Arsen.


“Terimakasih.” Jimi mengambil kartu nama itu, seolah memberi lampu hijau. Puloh tersenyum sumringah.


~~


“Sudah selesai?” tanya Billa dengan menyedekapkan tangannya di dada.


“Sudah, Honey.” Jimi sibuk menghapus make up-nya dengan toner!


“Ya sudah! Ayo pulang!” ajak Billa.


“Hei! Kalian sibuk?!” Billa langsung menghenyakkan pantatnya di sofa, di susul oleh Jimi. Sedangkan Hans langsung menuju kamarnya.


“Dad, Miss, baru pulang? Kenapa lama sekali?” tanya Ardhen yang sedang mencicipi puding strawberry buatannya. Sedangkan Arsen dan Andrean tak menjawab, sibuk dengan laptopnya masing-masing!


“Oh, My Handsome, kamu membuat banyak cemilan lagi? Aku sangat mencintaimu!” Billa langsung berdiri, memeluk dan mencium pipi Ardhen.


“I know, Miss! I love you too. Cup!” Ardhen juga membalas mencium pipi Billa.


“Hm, you always so sweet My Handsome!” ucap Billa, mencubit pipi Ardhen gemes.


“Mana Sakinah?” tanya Billa kemudian dengan mulut penuhnya yang melahap puding dengan potongan besar.


“Mom lagi tiduran di kamar Abang.” jawab Ardhen.


“Oh. Kalau begitu Miss ke kamar Arsen dulu. Berbincanglah dengan Dad!” teriaknya berjalan ke kamar sembari membawa sepiring puding strawberry.


“Ok!”


Ardhen duduk dipangkuan Jimi, mengobrol banyak tentang ini dan itu di sekolahnya, perencanaan usaha kuenya di SweetTown. Sedangkan Arsen dan Andrean terlihat sangat kompak dan sama-sama sibuk sejak tadi.


“Dad, Papa dan Abang sangat cocok sekali! Mereka sejak tadi bermain laptop tidak bosan-bosan!”


“Karena itu dunia mereka, sama dengan kamu, jika memasak akan lupa waktu dari pagi hingga malam!” Jimi mentoel hidung Ardhen.


“Hahaha, iya sih! Abang juga ngantuk-ngantuk kalau aku bahas memasak, sama kayak Kakak lagi ngajakin kami main peran, rasanya membosankan!”


“Nah, begitulah. Kita memiliki hobi dan kesenangan berbeda setiap masing-masing orang.”


**


Barend kini tengah berada diatas bot bersama dua pengawalnya. Ia menuju sebuah pulau terpencil yang sangat jarang orang ketahui. Pulau ini telah ia kuasai sejak dua tahun silam.


Di dalam bot ada beberapa makanan olahan mentah dan jadi, beberapa pakaian dan selimut.


Tak lama, ia pun sampai.


“Darling! Akhirnya kamu datang juga!” Jesylin berlari dan memeluk Berend.


Beberapa hari ini ia tak bisa menghubungi siapapun, tidak ada jaringan di pulau ini. Ada pun alat untuk berkomunikasi, ia tak diizinkan memakainya. Alat itu hanya digunakan untuk keadaan penting saja!


“Aku 'kan sudah berjanji, aku pasti datang!” Ia membalas pelukan Jesylin.


“Maaf ya, aku datang terlambat. Ada hal penting yang sangat mendesak yang aku urus.”


“Hm, iya, tidak apa-apa. Yang penting kamu jadi datang. Aku merasa sangat asing ditempat ini.”


“Jangan khawatir, tempat ini paling aman. Tidak ada siapapun yang bisa menyentuhmu di sini. Oh ya, bagaimana dengan Nenek dan Adikmu? Apa mereka masih kurang enak badan?”


“Darimana kamu tahu kalau mereka kurang enak badan?!” tanya Jesylin. “astaga! Aku lupa, tentu saja kamu bisa tahu karena alat komunikasi pribadi itu, ya?”


“Anak buahku yang mengantarkan mereka kemari yang memberitahuku, kalau Nenek dan Adikmu mabuk laut. Adikmu bahkan sampai pingsan saat diatas bot.”


“Iya, tapi, sekarang keadaan mereka sudah baik. Ayo, kamu harus berkenalan dengan Nenek dan Adikku.” ajak Jesylin.


“Ayo!” Berend berjalan bergandengan tangan dengan Jesylin.


Ya, inilah kesalahan yang diperbuat oleh Berend yang membuat Arsen marah. Ia membawa pergi Jesylin ke suatu tempat yang tak bisa Arsen ketahui, merubah semua rencana awal. Bagaimana nanti ya, jika ia tahu kalau kemarin sore Berend juga telah membawa Nenek dan Adik angkat Jesylin pergi ke daerah yang siapun tak tahu, kecuali Berend dan pengawal terpercaya nya? Apakah atasan kecilnya yang penuh ambisi itu masih bisa percaya padanya?