Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Ajakan Makan Malam


Mereka bertiga pun memilih beranjak pergi, Kepala Pelayan membuntuti mereka bertiga sampai naik ke dalam mobil untuk berangkat ke sekolah. Sedangkan Nani dan Clara masih berdiri canggung.


“Keluarlah! Siapkan makanan yang bergizi dengan porsi banyak!” Andrean mengibaskan tangannya.


“Baik Tuan. Kami permisi keluar Tuan, Nyonya.” ucap Clara dan Nani kompak.


Mereka berdua keluar sembari menutup pintu kamar itu kembali dengan rapat.


Haaaah! Terdengar Sakinah menghela nafas panjang. Andrean malah terkekeh mendengarnya. Sakinah mendelik.


“Sayang, kau terlihat sangat seksi saat malu dan terkejut, aku suka. Apalagi suara manjamu tadi, aku suka sama semua reaksi tubuhmu.” ucap Andrean lembut, lalu mengecup bahu Sakinah.


Wajah Sakinah semakin merah, malu. Andrean semakin ingin menggodanya. Sejak ia berani menyentuh Sakinah, keberaniannya pun kembali ada, ia ingin selalu mencurahkan isi hatinya pada Sakinah. Wanita didepannya itu benar-benar cantik dan sexsi dimatanya.


“Mandi bareng, yuk!” ajak Andrean.


“Gak mau!” tolak Sakinah spontan. Lalu, segera ia memperbaiki perkataannya, ia tak ingin berkata kasar pada suaminya, takut berdosa.


“Maksudku, aku tidak sanggup lagi, aku lelah. Bagaimana kalau nanti malam saja, ya.” tawar Sakinah.


Andrean tersenyum kecil. Dia benar-benar ingin mengajak mandi bersama, tetapi sepertinya istrinya ini sedang memikirkan hal mesum.


“Tapi, aku sudah tidak tahan, ayo lah.” goda Andrean dengan suara manja.


“Kamu tidak lelah?” tanya Sakinah menatapnya.


“Tidak.” jawab Andrean dengan tersenyum.


Sakinah mendesah pelan. “Baiklah, tetapi pelan-pelan ya. Satu kali mode posisi aja ya, badanku terasa pegal.” ucap Sakinah pasrah.


Yang ia pikirkan, ia tak ingin menolak ajakan suaminya untuk berhubungan. Ia tak ingin menambah dosa jika menolak ajakan suaminya.


Andrean tersenyum, ia dekatkan wajahnya, kemudian ia kecup kening Sakinah penuh perasaan.


“Makasih.” ucapnya lembut menatap lekat wajah Sakinah.


“Ayo, mandi bersama.” ajaknya.


Andrean berdiri, beranjak ke kamar mandi, kemudian disusul Sakinah.


Di dalam kamar mandi, Andrean telah menuangkan sabun cair beraromaterapi lavender ke dalam bathup, membuatnya berbusa.


Sakinah masih berdiri, tegang, malu di tepi sana.


“Kemarilah!” ujar Andrean.


Perlahan Sakinah mendekat. “Gosokkan punggungku!” pinta Andrean.


“Iya.” jawab Sakinah patuh.


Sakinah masuk ke dalam bathup, duduk dibelakang Andrean, kemudian menggosok-gosok punggungnya.


“Nanti malam kita makan malam diluar, ya!”


“Baiklah.”


“Nanti malam jam 7 malam bersiap ya, aku akan menelfon sopir untuk mengantarmu.” lanjut Andrean lagi.


“Iya.” sahut Sakinah.


Setelah cukup lama menggosok tubuh Andrean, pria itu berdiri dan keluar dari bathup. Ia menghidupkan shower, menuangkan shampo di rambutnya, menggosoknya hingga berbusa.


Sakinah memandang tubuh atletis itu sampai selesai mandi dan memakai handuk.


“Aku tau, kalau aku tampan, Sayaaang. Apa kamu masih ingin menatapku sampai masuk angin berendam di sana?”


“Ti-tidak!” jawab Sakinah gelagapan, malu.


“Hehehe. Segeralah mandi, kalau tidak ... aku akan menerkammu lagi!” ucapnya terkekeh.


Andrean keluar dari kamar mandi, masih dengan senyuman terkembang diwajahnya. Sakinah langsung berdiri, menghidupkan shower.


“Aku kira ... akan melakukannya lagi!” Sakinah menepuk-nepuk pipinya sendiri dibawah guyuran shower, pipinya semakin merah karena berpikir terlalu panjang.


Setelah selesai mandi, Sakinah keluar dengan baju handuk, kemudian handuk kecil membungkus kepalanya. Andrean sudah berpakaian kemeja rapi, ia sedang mengotak-atik hpnya dengan duduk bersilang kaki di ujung ranjang.


Selesai memakai baju, Andrean langsung berdiri dan memencet tombol, sehingga diluar terdengar langsung sebuah ketukan.


Dengan cekatan Nani langsung mengambil hair dryer. “Permisi Nyonya, izin mengeringkan rambutnya.” ucapnya.


“Nanti malam aku akan makan malam bersama istriku, tolong kalian dandankan dia!” perintah Andrean menjelaskan.


“Baik, Tuan Muda.” jawab mereka berdua.


Clara langsung mengganti seprai dengan yang baru, memasukkan seprai yang tadi dipakai ke ranjang kain kotor.


Setelah rambut Sakinah kering, Nani juga memoleskan make up tipis. Awalnya Sakinah tidak suka, namun semenjak Sekar memberitahunya kalau menjadi keluarga Van Hallen harus memperhatikan penampilan, akhirnya ia membiasakan diri perlahan.


“Sudah selesai?” tanya Andrean.


“Sudah, Tuan Muda.”


“Keluarlah! Hidangkan makanan, kami akan turun sebentar lagi!”


“Baik, Tuan.” Clara dan Nani keluar.


Andrean mendekat pada Sakinah, wanita cantik itu kini telah memakai hijab dengan riasan tipis. Ia meraih pinggang wanita itu dengan sebelah tangannya.


“Sekarang pasangkan dasiku!” Menyodorkan dasinya.


Sakinah mengangguk, ia mulai memasangkan dasi Andrean. Pekerjaan yang ia lakukan hanya ini, memasang dasi suami dan anak-anaknya, selebihnya tidak ada. Mencuci, memasak atau apapun itu dikerjakan para Maid.


“Terimakasih Sayang, Cup!” satu buah kecupan cepat dibibir Sakinah.


“Ayo, kita harus mengisi tenaga dulu dibawah!”


Mereka berjalan beriringan berdua. Kini, Andrean paham akan sikap Sakinah, ia tak mengeluarkan lagi cek uang, apalagi melontarkan perkataan seolah setelah menyentuh wanita lalu memberikan sesuatu sebagai imbalnya. Ya, seperti yang dilakukannya dengan wanita-wanitanya dulu.


Waktu itu, ia masih melihat cek itu utuh, Sakinah malah hanya menyimpannya dilaci, tak pernah meminta apapun, hingga ia enggan dan tak berani lagi, malu, segan, takut jika Sakinah tak menyukainya, menjadi satu. Akhirnya, Andrean membaca buku yang waktu itu Sakinah berikan padanya saat minum teh bersama kala itu.


Di sana tertulis, bagaimana hak dan kewajiban tentang hubungan suami istri, halal dan haram, mana yang patut dan tidak patut.


Mereka telah duduk dimeja makan, meja itu penuh dengan makanan. Sakinah membulatkan matanya. “Ini ... bukan kita berdua saja yang akan memakannya 'kan?” tanya Sakinah.


“Memangnya siapa lagi yang akan memakan? Anak-anak, Mama dan Papa sudah pergi.” Andrean mulai mengiris daging steak yang sudah dihidangkan dipiringnya oleh Nani.


“Ini tidak akan habis!”


“Makanlah yang banyak semampumu, tidak masalah jika berlebih, yang tidak boleh itu berkurang.” Andrean mengedipkan matanya, membuat Sakinah langsung terdiam.


Andrean tersenyum simpul, saat melihat Sakinah malu.


**


Setelah selesai shalat Ashar, tiga putranya menatap gaun yang tadi datang kerumah. Gaun itu masih tergantung di kamar Sakinah.


“Apa-apaan sih Papa! Kenapa hanya Mom yang diberikan baju? Untuk kami mana?” tanya Arhen berkacak pinggang.


“Seharusnya aku lebih mengomeli Papa lagi! Dia kekanak-kanakan sekali!” Arhen masih menggerutu.


“Grandma! Kamu harus memarahi Papa, dia itu dendam sama kami!”


“Mana mungkin Papa kalian dendam sama putranya sendiri.” jawab Sekar.


“Papa dendam kok Grandma! Tadi pagi kami diusir dari kamar, karena kami masih kecil, dia sudah besar, jadi bisa obati Mom yang kelelahan kerjain tugas keluarga!” sambung Ardhen.


“Tugas keluarga?”


“Iya, Grandma. Sekalian kami juga mau minta izin, kami saja yang melakukan tugas keluarga itu. Kasihan Mom sampai merah-merah badannya digigit ulat begitu. Kami lebih kuat dari Mom, kami 'kan anak Mom, jadi bisa menggantikan Mom!” lanjut Ardhen lagi.


‘Digigit ulat?’ Kening Sekar berkerut mendengar penuturan cucu-cucunya.


“Iya, kami saja ya Grandma.” Arhen dan Ardhen menatap memelas.


“Iya, nanti Grandma akan mengaturnya.”


“Makasih Grandma, kamu memang the best!” Arhen dan Ardhen memeluk Sekar, sedangkan Arsen diam saja.


“Lalu, baju yang akan kita pakai apa?” tanya Arsen di sela Arhen dan Ardhen yang masih bermanja dalam pelukan Sekar.


“Aaaah! Kenapa sampai lupa! Grandma, ayo, kami harus memakai baju yang senada dengan Mom, jam 7 ini kita berangkat!” Arhen dan Ardhen menarik-narik tangan Sekar.