Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Dua Kakek


Di Amerika.


Dua orang kakek dengan postur tubuh yang masih gagah berkarisma, walaupun sebagian telah mulai keriput tak kencang lagi, namun masih menunjukkan perut kotak-kotak yang kendor.


Jambang dan rambut yang sedikit memutih, namun tertata rapi. Mereka berdua tiduran dengan santai di ayunan, di tepi pantai. Tiba-tiba dua wanita muda mendatangi dua orang kakek itu. Mereka menjual dagangannya, merayu dan menggoda sang kakek, mulai dari menggelus bulu halus di dada Wizza, hingga bulu halus di bagian pusar Irfan.


Dua wanita itu terus melakukan gerakan menggoda, menunjukkan betapa molek dan indahnya tubuh mereka. Wizza tersenyum nakal, lalu berdiri meraih pinggang si wanita.


“Baiklah, Cantik. Kau harus memuaskan ku yang sudah lama berpuasa!” ucapnya menatap dua gunung kembar yang memantul itu.


“Adik, apa punyamu sudah tidak berfungsi lagi karena telah lama berpuasa dan tidak diasah lagi?” ejek Wizza menatap Irfan yang tampak dingin pada gadis yang menggodanya.


“Apa maksud, Kakak?!” Ia menoleh ke arah Wizza yang telah mulai melangkah pergi.


“Aku takut kau imp*ten karena sudah tidak lama mencelup! Celup sana, tes pedang tumpul mu! Aku pun juga akan mengasah pedang milikku! Hahaha!” ujar Wizza terkekeh. Lantas berlalu pergi dari sana.


Irfan masih diam, wanita itu masih saja merayu dirinya yang sudah tua. Ia lihat wanita itu, ia terlihat masih muda, lebih muda dari putranya, Roque.


“Berapa hargamu?” Pertanyaan yang terdengar perhitungan.


“Sekali main 35 $ USD.” jawabnya, setara 500 ribu rupiah. “jika Tuan ingin murah bisa, tapi saya yang memimpin permainan, tidak sesuai dengan kepuasan Anda, saya akan kasih 25 $ sebagai bayaran pelanggan, bagaimana?” jelas wanita itu. Sudah beberapa hari dagangannya tak laku.


Irfan tersenyum, memegang ujung rambut wanita itu. “Baiklah, aku akan bayar kamu 50 $ USD. Akan tetapi, kau harus benar-benar memuaskan ku, bermain dengan kesukaanku.” tutur Irfan, menatap wajah wanita itu yang menjadi cerah.


Dua pria tua itu telah memesan dua hotel berkelas saling berdekatan dengan minuman yang memabukkan. Dua wanita tadi telah membersihkan diri, memakai lingerie yang bertali super tipis menunjukkan seluruh bentuk anggota tubuhnya nan aduhai.


Tubuh wanita itu begitu wangi karena suntikan farfum sensual, mereka mulai dalam mode kerjanya, menggerayangi tubuh gagah para pria tua.


“Tunggu!” Irfan menyodorkan minuman kembali pada wanita itu, saat sang wanita hendak melahap bibirnya.


Lagi dan lagi, Irfan menuangkan minuman terus menerus, hingga wanita itu mabuk berat tak sadarkan diri. Irfan mengelus lembut bahu dan rambutnya, mengecup kening wanita itu dengan kasih.


“Kau bekerja keras demi uang, aku tak tahu apa alasanmu melakukan pekerjaan ini, apakah karena kamu suka, terpaksa, atau karena kerasnya kehidupan. Aku berharap kehidupanmu menjadi lebih baik.” Ia selimuti tubuh wanita itu, ia keluarkan uang 200 dolar serta ucapan terimakasih.


Irfan memakai bajunya kembali yang telah dibuka wanita itu tadi, ia tersenyum, lalu keluar dan mengunci kamar itu.


Di saat yang bersamaan, disampingnya, sang kakak, Wizza Van Hallen, juga tengah menutup dan mengunci pintu kamarnya.


“Ekhem! A-aku ingin membeli minuman, apa punyamu tidak bisa bangun?” tanya Wizza jumawa dan menunjuk arah segitiga bermuda di dalam celana Irfan.


“Dia berdiri tegak, tetapi aku tidak berhasr*at.” jawab Irfan dengan wajah datar.


“Ah, apa tubuh wanita itu tidak molek sampai kau tidak berhasr*t? Apa kau ingin mencicipi punyaku?” Wizza mengedipkan matanya.


“Apa kakak pikir, aku masih Irfan berumur 6 tahun yang bisa dibodohi. Kau membuat wanita itu mabuk dan menguncinya 'kan? Kalau tidak, kenapa kau memakai baju lengkap seperti itu? Jika hanya ingin membeli minuman, kau bisa memesan online atau meminta pelayan. Banyak alasan!” Irfan tersenyum mengejek.


“Dasar! Kau sudah nakal ya, sekarang?!” Wizza langsung merangkul Irfan, menjitak kepalanya.


“Hahahhaaha!”


Mereka berdua tertawa terbahak-bahak di sepanjang koridor. Sedangkan di dua kamar hotel, dua wanita penjual jasa itu tengah tertidur pulas tanpa dijelajahi tubuhnya oleh dua pria tua yang berstatus duda itu.




Rumah Sakinah telah didatangi kembali oleh Hanum sekeluarga dan Tek Sariman sekeluarga.



Hanum telah menyerahkan surat rumah itu kembali dengan cara berhutang ke bank, mengembalikan uang sipembeli 3 kali lipat dari harga jual, ia sangat marah, tetapi tidak bisa berkutik lagi dihadapan suaminya dan Andrean sipenguasa. Jika suaminya pengangguran, dengan apa ia akan membiaya kehidupannya yang suka ia pamerkan selama ini. Ia tak ingin suaminya pengangguran.



Gerobak lontong besar yang berukir dan atapnya bagonjong ala rumah gadang, sungguh 3 kali lipat lebih baik dari gerobak yang dirusaknya saat itu.



“Ini, kami harap kalian sekeluarga memaafkan dan menerima niat baik kami.” ucap Buyung Galeme dan Pak Agus yang mewakili berbicara.




“Tak perlu seperti ini, Arsen.” ujar Rukhsa lembut.



“Bi, aku hanya mempertahankan sesuatu yang menjadi milik Mom dan milik Bibi, bukan merampas apalagi merusak dan dengan tak berperasaan menjual milik orang lain.” jelas Arsen tersenyum tapi wajahnya jelas menatap Hanum dan Tek Sariman. Menyindir dengan kode keras.



••



“Itu, apakah saya bisa kembali bekerja di perusahaan Pak Andrean?” tanya mereka setelah serah terima surat rumah dan gerobak.



“Oh, itu, iya sih, aku bilang 'kan akan memaafkan, bukan akan menerima kalian bekerja seperti biasa. Jika kalian ingin bekerja sih, harus mulai dari awal lagi prosesnya, tidak bisa kembali diposisi kalian semula,” ucap Andrean tanpa dosa.



“Hah?!” Mereka semua terperangah, kecewa dan marah.



“Apa sebenarnya kalian tidak tulus meminta maaf padaku dan keluargaku? Kalian minta maaf hanya untuk perkejaan saja?” tanya Andrean menatap mereka tajam.



“Bu-bukan begitu, Pak Andrean. Kami hanya tak ingin jadi pengangguran.” jawab Buyung Galeme lesu.



“Kalau begitu gampang, kalian bisa menjadi mandor 'kan? Itu tidak buruk, dari pada jadi tukang angkat buah sawit, panen sawit? Atau kalian mau bagian produksi? Produksi limbah banyak tempat kosong sih,” terang Andrean.



“Ti-tidak, izinkan kami jadi mandor saja!”



“Baiklah, aku akan meletakkan Pak Agus bagian mandor di lapangan sortir buah dan Pak Buyung Galeme dibagian mandor di olahan minyak baku.” jawab Andrean tersenyum.



Senyum dua pria itu kecut, pekerjaan ini sama saja beratnya, tapi lebih baik seperti itu dari pada yang dikatakan Andrean sebelumnya.



“Baiklah, kami akan terima Pak.” jawab mereka.



“Bagus, kalian bisa ajukan pada HRD, langsung berikan pada Pak Adwira.”



PT. Wilz Plantsgroup, memproduksi beberapa bahan olahan, minyak, tepung, bahan olahan makanan lainnya, bahkan yang terakhir kemarin produksi terbaru mereka adalah sabun, pewangi dan farfum yang telah berkolaborasi dengan Arsen saat pengalihan tanah Flores Lawyer, bahwa kayu gaharu bisa diolah menjadi farfum.



Arsen tersenyum devil saat melihat muka Hanum yang berubah suram mendengar suaminya hanya menjadi mandor biasa, tidak seperti sebelumnya.



...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...