
Malam tadi!
Hari-hari yang dilalui Dedrick di Amerika bertujuan untuk menyembuhkan dirinya dari trauma, menghindari gejolak cinta di dalam dadanya pada Sakinah istri adiknya, berharap menemukan jodohnya segera.
Pelebaran usaha yang ada di sini hanya penopang kehidupan saja, karena di Amerika Dedrick bukanlah siapa-siapa! Bukan keturunan Ryker ataupun Van Hallen bangsawan berkuasa yang kaya raya! Itu hanya berlaku di negara tanah airnya saja, Belanda.
Dedrick bekerja seperti biasa, lalu mengikuti kencan buta, bertemu dengan beberapa gadis, mencoba jalan dan kencan! Semuanya gagal total! Yang pertama karena diganggu Calista, yang kedua memang dia merasa risih dan tak nyaman.
Calista dengan tekatnya yang kuat, mencari dimana keberadaan Dedrick, menyewa sebuah apartemen yang tak terlalu jauh dari perusahaannya. Gadis itu terus-menerus mengirim proposal lamaran pekerjaan, selalu tak direspon oleh Dedrick, bahkan email gadis itu diblokir.
Kemanapun ia pergi, selalu saja Calista tak jera-jera mengikuti. Mulai dari perang mulut, jambak-jambakan, siram-siraman, hingga berakhir di kantor polisi, gadis itu tetap saja kukuh. Ia menghalau semua gadis yang berkencan dan pedekate dengan Dedrick.
Bisa dibilang, sikap Calista sekarang lebih barbar, tidak ada anggun-anggunnya seperti biasa. Ya, mungkin karena Dedrick sekarang mulai membuka diri dan mau bicara dengan wanita. Biasanya, saat di Belanda Dedrick akan bersikap dingin pada semua wanita.
Dedrick terkadang merasa lega, namun terkadang risih dengan Calista!
Seperti biasa, Dedrick sorenya pulang bekerja pergi kencan buta, bertemu seorang wanita kenalan dari aplikasi jodoh! Lalu menghabiskan waktu pergi ke Club Malam bersama wanita itu.
Menggelikan! Dedrick sebenarnya risih, namun ia mencoba memaksakan diri, berharap ia akan menjadi pria normal!
Calista juga membuntutinya!
‘Sudah kuduga! Dia pasti membuntutiku!’ Tersungging sedikit senyuman di bibir Dedrick.
“Cheerz!” Wanita yang menjadi teman kencan Dedrick mengadukan gelasnya dengan Dedrick.
Dedrick bukanlah pecandu alkohol, tidak terlalu suka, namun ia cukup kuat jika hanya segelas atau dua gelas meminumnya, itu ia lakukan biasanya sebagai penghormatan saat ia bersama rekan bisnisnya. Jadi, sekarang ia menganggap wanita itu rekan bisnisnya, jadi ia meneguk minuman pahit dan asam itu!
“Mari menari!” ajaknya pada Dedrick.
“Ok!” Dengan kaku Dedrick menerima uluran tangan wanita itu.
‘Bertahan, kau harus bertahan Dedrick!’ Ia menyemangati dirinya sendiri, ingin rasanya ia hempaskan tangan wanita itu, mendorongnya, lalu meninggalkannya pergi.
‘Aku harus sembuh!’ Lagi, ia bermonolog dengan hatinya.
“Hei, apa yang kau lakukan?! Dia itu suamiku, mau kau ajak kemana dia?!” teriak Calista kemudian menarik rambut wanita teman kencan Dedrick.
Dedrick sedikit tersenyum.
“Apa maksudmu?!” tanya wanita itu yang juga membalas Calista dengan tatapan tajam.
“Lepaskan rambutku!” serunya. Calista melepaskan rambutnya dengan mendengus, lalu berkata!
“Aku istrinya!” Menepuk tangan Dedrick yang terpaut dengan wanita itu hingga terlepas.
“Jangan aneh Calista! Itu tidak benar, aku masih singgle!” Dedrick mencoba menjelaskan pada wanita itu.
“Oh, aku percaya. Aku yakin wanita ini hanya wanita yang tergila-gila padamu sehingga mengada-ada!” jawab wanita itu, kemudian menarik tangan Dedrick pergi ke kerumunan manusia yang berjoget.
Suara dentuman musik dan hentakan orang-orang menari membuat kepala Dedrick pusing. Ia merasa mual! Aroma tubuh manusia yang bercampur keringat dan alkohol, perempuan-perempuan yang menempel bahkan saling berciuman saat menari membuatnya semakin risih.
“Ayo, berjoget sambil minum!” Wanita itu menyodorkan gelas berisi alkohol.
Dedrick tersenyum kaku dan hanya memegang gelas itu.
‘Tidak! Ini tidak benar! Aku harus keluar! Wanita ini tidak benar!’ Perlahan Dedrick mencoba pergi dan menjauh dari sana.
“Hai, gadis cantik, minum sendirian saja!” Beberapa pria mengganggu Calista. Matanya terlihat jelalatan.
“Dia adikku! Tolong jangan di ganggu!” Dedrick mendekat.
“Kau tidak becus menjaga adikmu! Lain kali jangan tinggalkan dia sendirian!” ucap salah satu pria yang duduk dekat dengan Calista.
“Ayo teman-teman, cabut!” Gerombolan pria itu membawa minumannya, mendekat ke arah dimana kerumunan orang bergoyang!
“Dedrick teganya kau! Kenapa kau tak bisa menghargai ku?!” Calista bergumam sembari wajah tertelungkup di meja. Dedrick melihat 5 botol telah kosong ia minum.
“Hei, airku habis, mana airnya, isi!”
“Hei, kenapa kau diam saja! Ah, sebentar!” Calista memasukkan tangannya ke dalam tas selempangnya, tangannya mengacak-acak isi di dalamnya, hingga mengeluarkan sebuah kartu.
“Ini, aku bayar pakai kartu! Aku mau minum sepuasnya!” Ia menyodorkan kartunya ke sembarangan arah.
“Kau sudah mabuk parah!”
“Hpmu mana?”
Setengah sadar, Calista mengalungkan tali tasnya pada leher Dedrick, ia berdiri bersandar ke tubuh Dedrick sembari mencari-cari hp di dalam tasnya.
“Ini!” ucapnya, deru nafasnya bahkan bisa menghembus wajah Dedrick karena sangat dekat.
“Kau memberikanku hp yang baterainya juga habis! Ini!” Dedrick memberikan kembali.
Calista berdiri oleng saat Dedrick menjaga jarak dan menjauh darinya, ia mengusap lengan dan bahu mulusnya karena dingin.
“Makanya, kalau mau keluar malam pakai baju panjang, jangan baju pendek seperti ini!” protes Dedrick sembari melepaskan jacketnya dan memasangkan pada Calista.
Sesaat ia teringat kembali dengan Sakinah, wanita yang telah mencuri hatinya, wanita yang selalu menutupi tubuhnya. ‘Huh? Lagi dan lagi aku memikirkannya!’ Bergegas Dedrick menepis pikirannya, agar segera melupakan bayangan istri adiknya.
“Awch!” Calista oleng dan terjatuh! Segera Dedrick membantu dan merangkulnya.
“Ayo kita ke sana, kita tunggu taxi disana saja!”
Dedrick merangkul Calista yang telah ia pasangkan jacket, ia lihat tangan gadis itu tampak bergetar karena dingin. Ia mendesah!
Ya, begitulah kisah mereka sebelumnya, hingga sampai berada diatas ranjang!
**
Dedrick telah selesai mandi, Calista telah berpakaian rapi dan sedang menikmati makanan.
“Ayo makan, kau harus segera mengisi tenagamu yang terkuras.” ucap Calista.
Dedrick mengambil hpnya, hendak menghubungi Alex.
“Itu, bajumu disana! Alex sudah aku usir!”
“Kenapa kau mengusirnya?”
“Karena aku ingin menghabiskan bulan maduku denganmu dikamar ini!”
“Kamu jangan aneh, deh! Kita saja belum menikah, kenapa bahas bulan madu.”
“Saaaayaaanggg! Berarti kita akan segera menikah? Ah, akhirnya...” Calista membuat wajah imut dengan senyuman manis menggoda!
“Hentikan ucapanmu!” Wajah Dedrick memerah. “Kenapa kau memanggilku Sayang, panggil aku Kakak seperti biasa!”
“Oh, jadi kau tidak mau bertanggungjawab padaku?! Baiklah, aku yang akan bertanggungjawab padamu karena telah menidurimu dua kali! Kalau begitu, aku akan menelfon Paman Wizza untuk mempertanggung jawabkan perbuatanku karena telah merenggut keperjakaan putranya.”
“Kau!” Dedrick tak tau harus berkata apa lagi.
“Makanlah makananmu Sayang, jangan-jangan sudah ada anakmu dalam perutku sekarang. Hihihi.” Calista terkekeh.
Ia mengambil hpnya.
Dedrick langsung memeluk dan meraih hpnya.
“Jangan telfon Papaku!”
“Kenapa?!” Pandangan mata mereka beradu sangat dekat sekarang, bahkan deru nafas masing-masing saling membelai wajah.
“Itu ... perbuatan kita ini sangat buruk, tidak seharusnya kita melakukan ini sebelum menikah, Calista. Ini akan menghancurkan harga dirimu.”
“Artinya, kita akan melakukannya kembali setelah kita menikah?” tanya Calista.
“Hah?!” Dedrick terperangah mendengar ucapan Calista.
* Nb*
Hallo....
Saya ucapkan terimakasih untuk kalian semua, makasih Arlove tersayang atas dukungannya....
Oh, ya! Novel Anak Genius itu Anakku sudah ada audionya juga loh! Yuk, mari dengarkan juga... Pengisi suaranya di isi oleh Ana😘 Suaranya bagus!💓
Yuk, kita dukung juga audiobook nya novel Anak Genius itu Anakku!