Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Kamu Istriku 'kan?


“Bagaimana keadaanya, Max?” tanya Frans cemas, saat Dokter sudah merapikan alat-alat periksa nya seperti alat tes darah, pengukur suhu badan, dan lainnya.


“Tuan Muda itu harus istirahat total, tolong berikan obat dan makanan teraturan. Tempelkan ini agar panasnya berkurang. Jika dia masih panas dan merasa tak nyaman, panggil saya kembali.”


“Apa hanya itu?” tanya Frans.


“Ah, sebenarnya, dagu dan hidungnya akan sedikit lecet. Akan meninggalkan noda dan mungkin tidak bisa sembuh. Pemuda itu pasti tampan sebelumnya, aku rasa dia akan terluka jika wajahnya rusak,” gumam dokter itu.


“Tentu saja dia tampan, dia itu saudaraku. Apa kau tidak mengakui ketampanan ku?” sungut Frans. Pemuda itu masih saja songong kalau bicara sejak dulu.


“Hahaha, dasar narsis!” Dokter itu malah terkikik. Dia tidak peduli dengan ocehan Frans. Ya, dia seorang pemuda berumur 29 tahun, seorang dokter muda yang cukup dekat dengan Frans.


Dokter muda itu pun pergi berlalu dari sana setelah meresepkan obat.


Frans menatap Haizum dari atas sampai bawah. “Kau siapanya saudaraku?”


“Aku hanya karyawannya, Tuan Muda!” jawab Haizum takut-takut.


“Oh, karyawan, aku kira kau yang bernama Rufia,” celetuk Frans. “Oh sudahlah, tak penting juga siapa kau, yang penting terimakasih sudah menyelamatkan saudaraku,” ucap Frans, masih memasang wajah congkaknya.


Frans tumbuh menjadi pemuda yang tampan, rambut coklat dengan jambang yang tipis. Dari dulu dia telah menjadi model, namun dia menghentikan kesukaannya itu dan beralih menjadi penjual pizza.


3 jam berlalu, Ardhen tersadar, dia celinguk seperti orang bodoh. Frans tersenyum, langsung memeluknya. Ardhen mendorong tubuh Frans kuat, lalu dia berlindung ketakutan.


“Apa salahku? Kenapa kau ingin membunuhku, pergi!” pekik Ardhen kencang. Membuat semua orang berlari ke ruangan itu


“Hah?” Frans melongo.


“Ada apa ini Frans?” tanya Roque.


“Aku tidak tahu, Pa. Tapi, dia menuduh aku ingin membunuhnya, apa dia baik-baik saja?” tanya Frans menatap Roque.


“Cepat telepon Max!” pinta Ibu Frans. Ya, Dokter muda yang menjadi teman Frans tadi.


“Ka-kamu!” Ardhen terbata dan langsung berlari ke arah Haizum. “Kamu istriku 'kan?” Ardhen berkata aneh dan langsung memeluk Haizum.


Haizum melongo tak percaya.


Haizum melihat dokter dan lainnya mengangguk. “I-iya ada apa Tu-- Sayang,” tanya Haizum membelai wajah Ardhen lembut.


Ardhen tersenyum. “Sayang, mereka siapa?”


“Sayang, kita baru saja melakukan perjalanan, kamu terjatuh dan sedang sakit, jadi sedang di rawat. Ini dokter, dia saudaramu, ini Pamanmu dan istrinya,” terang Haizum.


“Ohh!”


“Iya, kalau begitu, kita periksa dulu ya,” ajak Haizum. Ardhen pun mengangguk patuh.


Dokter memeriksa keadaan Ardhen, bertanya beberapa hal. Yang dia ingat hanya Haizum dan helikopter terbang. Tak ada lagi yang lain termasuk keluarga, usaha, dan apapun itu.


Ya, Ardhen mengalami Amnesia karena terjatuh dan trauma berat. Jadi, dia kehilangan memori atau ingatan yang pernah terjadi sebelumnya saat trauma terjadi. Dia hanya mengingat kejadian setelah trauma. Wajah Haizum dan dia turun dari helikopter memeluk Haizum.


Menurutnya, Haizum adalah istrinya, dan mereka saling mencintai satu sama lain.


Dokter menyarankan pada mereka, membantu Ardhen dengan perlahan, agar saraf otak nya tidak terganggu, jika dipaksakan atau diceritakan sesuatu yang tidak bisa dia terima dan cerna dalam otaknya, apalagi melibatkan emosi.


Oleh karena itu, kepergian Sakinah di tutupi darinya, semua cerita ditutupi padanya.


Roque menceritakan semuanya pada David.


“Syukurlah. Aku senang jika Tuan Muda Ardhen baik-baik saja, semoga ingatannya segera pulih kembali. Aku akan memberitahu kabar baik ini pada yang lain,” tutur David.


“Iya, setelah ini aku juga mau menjenguk Andrean dan Arsen di rumah sakit.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...