Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Ke Jakarta


Andrean dan Sikembar akhirnya selesai mandi. Kini, mereka telah duduk bersama dimeja makan. Ruksha telah menghidangkan belut goreng cabe hijau, terong uap, tumis kangkung, telur puyuh, dan terakhir, sambalado asam durian.


“Kenalkan, ini adik saya, Salwa dan Suaminya, Usman, mereka berempat keponakan saya, anak mereka.” jelas Sakinah pada Andrean.


“Anak-anak, ayo, salam.” pinta Usman, setelah mendengar Sakinah memperkenalkan anaknya pada Andrean. Lantas berdiri.


“Andrean!” ucap Andrean.


“Usman!" jawab suami Salwa, ia menjabat tangan Andrean. Kemudian Andrean melempar senyum dan sedikit membungkukkan kepala pada Salwa.


“Arsen!”


“Arhen!"


“Ardhen!”


Sikembar memperkenalkan diri mereka pada Salwa dan Usman, lalu juga bersalaman dengan anak-anak mereka. Anak-anak Salwa dan Usman pun juga menyalami Andrean.


Anak Salwa yang bungsu masih malu-malu, namun matanya tak henti-henti menatap Sakinah. Biasanya ia sering melakukan video call di rumah saat Rukhsa mengasuh mereka semua.


Setelah berbincang sebentar, Ayah Sakinah mengajak merek ke meja makan.


“Nah, sekarang sudah kenalan, ayo, makan dulu, supaya kita lanjut berbincang-bincangnya nanti.” ucap Ayah Sakinah.


Rukhsa menyendok kan sedikit nasi dengan sambalado untuk Ayah Sakinah ditambah terong uap. Mereka pun makan dengan lahap, setelah makan para pria berbincang-bincang di ruang tamu.


Sakinah dan Rukhsa langsung ke dapur membawa piring kotor.


“Anak-anak, main dulu ya, Ibu harus ke dapur dulu,” ucap Salwa pada 4 anaknya.


Salwa berjalan ke dapur, dimana Sakinah dan Rukhsa sibuk. Ia mencoba membantu, selama mencuci piring dan berkemas, tak ada yang bicara diantara mereka bertiga.


“Ini sudah rapi, apa kita berkumpul di depan?” tanya Rukhsa mencairkan suasana yang sejak tadi tegang.


“Duluan aja, Sha. Aku mau ngomong dulu sama Kak Kinah,” ujar Salwa.


“Oh, baiklah.” Ruksha pun berjalan terlebih dahulu ke depan, ia tak bergabung dengan para pria, namun ke arah para keponakannya yang cepat sekali akrabnya.


Anak-anak Salwa dan Sikembar tampak akur.


Setelah kepergian Ruksha, Sakinah memilih duduk di kursi makan, Salwa juga. Akan tetapi, wanita itu tak bicara apapun, hanya diam saja. Sakinah pun tak mengerti, jadi dia juga memilih untuk diam.


“Kak,”


“Ya,”


“A... apa Kakak marah padaku?” tanya Salwa.


“Tentang apa?” Sakinah malah bertanya balik.


“Tentang selama ini...,” ucap Salwa pelan. “selama ini aku ... sering berkata kasar dan melukai hatimu.” lanjut Salwa dengan suara setengah tercekat.


“Iya, aku marah.” jawab Sakinah, Salwa terdiam. “Akan tetapi, aku selalu memaafkanmu ... aku memahami ... aku mengerti kamu, dan aku menyayangimu adikku.” ucap Sakinah lembut dengan pandangan mata yang teduh.


“Maafkan aku Kak, maaf...” lirihnya.


Sakinah memeluk Salwa erat. “Kita adalah keluarga dan selamanya akan tetap jadi keluarga, walau apapun yang terjadi.” Sakinah menepuk-nepuk pelan punggung Salwa yang tengah ia peluk.


~~


Tak terasa sore telah menjelang. Salwa masih bercengkrama di rumah, sedangkan Usman sudah pergi terlebih dahulu, ada petani yang hendak menjual buah sawit nya, jadi ia akan pergi membeli dan menimbang buah sawit itu.


Di tengah perjalanan pulang, ia melihat Shaleh yang telah menyandang tas besarnya dan menarik satu buah koper, ia langsung menghentikan mobilnya.


“Leh!” panggilnya, kemudian langsung turun dari mobil. “Kau mau ke mana?” tanyanya.


“Eh, Man. Aku mau ke Jakarta, mencoba merantau ke daerah baru.” jawabnya tersenyum.


Usman menepuk bahunya berkali-kali dengan pelan. “Kau terlihat bertambah ganteng saja, Man! Padahal sudah berumur 40 tahunan, tapi masih terlihat seperti umur 24 tahun. Awet muda sekali!” pujinya.


“Kau bisa aja, Man!”


“Kenapa kau cepat pergi? Bukankah kau baru beberapa hari ini di kampung? Tidak puaskan dulu rindumu dikampung kita? Atau ... kau sudah bertemu calon jodohmu, ya? Ah, kau janjian ketemu di Jakarta, ya?” tanya Usman menggoda Shaleh.


“Do'a kan saja Man. Semoga segera bertemu. Ah, aku harus segera berangkat, travel sudah menunggu.” Shaleh berpamitan.


Usman mengangguk dan menatapi kepergian Shaleh. Antara dirinya dan Shaleh sekarang terlihat sangatlah berbeda. Dia dulunya yang menjadi pemuda tampan nomor satu, berubah jadi pria berperut buncit, kurang terawat karena sibuk bekerja, begadang karena pekerjaan yang kadang baru selesai jam 3 dini hari. Sedangkan Shaleh, masih terlihat seperti dulu kala, kulit hitam manis, bersih, tanpa noda, badan masih tegap dan atletis dengan senyuman maut menggoda.


~~


Shaleh telah menaiki travel yang ia pesan, beberapa jam, ia sampai di pelabuhan, ia menaiki kapal untuk ke Jakarta. Saat ia duduk ditempatnya, seorang gadis remaja menginjak kakinya tanpa minta maaf, bahkan beberapa kali barang-barang bawaan gadis remaja itu mengganggunya.


“Dik, apakah kamu butuh bantuan untuk menaikkan barang-barang mu ke atas?” tunjuk Shaleh ke tempat peletakkan barang di atas kepalanya, di kabin kapal.


“Ah, tidak, makasih, Om.” jawabnya dengan wajah jutek, lalu mengomel-ngomel sendiri kalau ia risih dekat om-om genit yang SKSD.


Shaleh mendesah, menghela nafas kasar. Anak kecil itu menyindir dirinya, padahal ia hanya berlaku sopan. ‘Sabar,’ gumam ya dalam hati. Ia mencoba memaklumi remaja gadis itu. Jika ditebak, mungkin baru berumur 19 tahun, baru tamat SMA.


Tak lama, gadis itu tertidur, bahkan kepalanya bersender di bahu Shaleh. Jujur, Shaleh merasa risih, namun ia tak enak membangunkan. Jadi ia hanya diam saja, sambil memainkan hp, agar pikiran dan fokusnya tidak kemana-mana. Bagaimana pun ia adalah pria normal. Sekarang, ada gadis cantik tidur di bahunya!


Sekitar 1 jam lebih, gadis itu terbangun, lalu dia malah marah-marah pada Shaleh, mengatakan jika dia adalah om-om genit yang suka memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan, lantas memilih pindah dari tempat duduknya ke tempat lain.


‘Astagffirullah....’ Shaleh hanya bisa mengurut dadanya, tak mungkin ia berdebat dengan seorang wanita yang berumur 19 tahun, jauh terpaut usia darinya.


Untuk menenangkan hatinya, ia kembali melihat hp, melihat beberapa foto Sakinah yang ia ambil dengan mencuri-curi. Saat Sakinah menggendong Ardhen, mencium Arhen dan mengelus kepala Arsen.


“Kau adalah wanita yang paling terbaik.” ucapnya tersenyum. ‘Ya Allah, tolong jaga dia dan keluarganya, bahagiakan dia selamanya, berilah dia kesehatan.’


Shaleh memejamkan matanya, memilih tidur, berharap di Jakarta ia akan bertemu seorang wanita yang bisa menggantikan sosok Sakinah di dalam hatinya.


...****************...


Terimakasih masih menunggu😘 Jangan lupa tinggalkan likenya, ya💖💖💞