Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Cambuk


Arsen menatap tumpukan file yang dikerjakan oleh Hans, pria yang sangat bisa ia andalkan. Hans seolah menjadi orang tuli, matanya hanya fokus pada tumpukan itu, tak sedikitpun fokusnya teralih pada yang lain, walaupun suara cambukan terdengar!


Berend duduk bersimpuh dilantai keramik dengan baju terbuka, hanya memakai celana boxer.


Apartemen Arsen terasa sepi dan seram saat ini, auranya mencekam dingin menusuk tulang sama seperti sikap pemiliknya yang dingin!


Xander Pim hanya bisa diam, berdiri tertunduk melihat Berend.


Arsen menatap jam ditangannya, memastikan masih lama untuk Billa dan Jimi datang kembali ke apartemen karena mereka berdua sedang berkunjung ke mansion keluarga Van Hallen karena Billa ingin bertemu dengan Kinah, sahabatnya.


“Paman, apa cambukan itu sakit?” tanya Arsen menatap Berend.


“Itu sepadan dengan kesalahan saya Tuan Muda.” jawab Berend.


Ya, sebenarnya peraturan ini dibuat oleh Berend sendiri! Siapa yang melakukan kesalahan, akan dihukum cambukan agar jera, biasanya ialah tukang cambuknya, sekarang malah bawahannya yang mencambuknya, tepatnya Xander Pim, pria yang ia tugaskan menjadi bodyguardnya Arsen.


“Apa kau sudah jera Paman?” tanya Arsen lagi.


Berend hanya diam.


“Paman Xander, cambuk lagi!” perintah Arsen, kemudian ia membalikkan badannya. Tak ingin melihat adegan sadis itu!


Tak terdengar suara teriakan ataupun kesakitan, namun suara cambukan jelas terdengar, bahkan punggung Berend jelas-jelas merah padam, sepertinya luka dalam!


Arsen kembali membalikkan badannya, menatap tubuh Berend yang sudah terluka karena cambukan. Sedih? Kasihan? Pasti! Arsen mengasihi Berend, ia sudah mulai nyaman dan percaya pada pria bertato itu!


“Apa wanita itu sangat penting, Paman?” Arsen bertanya kembali.


Berend masih diam.


“Jesylin, umur 25 tahun, lulusan Universitas Vrije Amsterdam, jurusan management ekonomi, yatim piatu, memiliki satu orang adik perempuan angkat, sekarang ia tinggal bersama nenek dan adik angkatnya.” Arsen membaca secarik kertas berukuran A4 yang berisi tentang data Jesylin yang lengkap.


“Golongan darah O, memiliki 2 orang mantan pacar. Pacar pertama sudah menikah, mantan kedua berselingkuh dengan temannya sendiri. Menjadi sekretaris di perusahaan Brilindor Siix sudah 3 tahun lamanya. Pernah ditiduri atasannya beberapakali...” Arsen melambatkan bacaan yang terakhir, ia tidak paham dengan maksud pernah ditiduri.


“Puloh berarti cukup baik padanya ya, berarti dia sering menyanyikan nina bobok dan bercerita dongeng pada Jesylin ini! Sepertinya dia sangat peduli, berarti Jesylin bisa digunakan 'kan?” Arsen bergumam.


Xander dan Berend tentu saja paham dengan informasi yang dibacakan Arsen, namun mana mungkin itu dijelaskan pada anak dibawah umur! Walaupun Arsen pintar, Berend melakukan perbuatan buruk itu selalu dibelakangnya, Arsen hanya tahu jika Berend suka memiliki banyak pacar.


Ya, pacaran menurut Arsen hanya sebatas pelukan dan ciuman, itupun sangat dilarang Sakinah untuk ia tonton, bahkan Ibunya berpesan, jika ia sedang bermain game atau membuka sesuatu, jika melihat adegan ciuman harus segera menutupnya. Untung saja, Arsen patuh, jadi otaknya masih polos, sepolos umurnya.


“Jadi Paman, apa kau sudah jera? Apa kau masih ingin melindungi wanita kesayangan Puloh itu?!” Arsen menatap tajam Berend.


“Ampun Tuan Muda. Maaf, tetapi Puloh orang yang sangat licik, dia tidak benar-benar mengasihi Jesylin.”


Hufftt! Arsen menghembus nafas kasar. “Paman, kau masih membelanya? Kenapa?!”


Berend diam, ia menundukkan pandangannya menatap lantai.


“Baiklah, aku lelah! Paman Xander bantu Paman Berend mengobati lukanya!” Arsen membaringkan tubuhnya di sofa panjang, menutupi wajahnya dengan bantal sofa.


‘Apa alasan Paman Berend begitu kukuh membela wanita itu? Apa sama seperti semacam Mom mempertahankan Papa Andrean? Padahal Papa banyak pacar juga sebelumnya? Kemudian Papa berubah? Apa Paman Berend ingin membuat Jesylin berubah?’ pikir Arsen.


‘Banyak wanita yang dekat dengan Paman, ia juga tidak hamil, tidak punya anak! Lalu, kenapa mencoba membelanya? Kalau Mom ... karena ada kami bertiga, ayah kandung kami Papa Andrean, jadi wajar. Sedangkan Paman Berend, apa alasannya?’ Arsen mendesah.


‘Coba saja aku dewasa! Pasti aku tahu jawabannya! Atau ... aku tanya Mom saja?!’ Arsen bergumam.


Berawal dari sandiwara, ia memperkenalkan Arsen sebagai anaknya pada teman-teman dan rekan bisnisnya untuk ia mata-matai, tumbuhlah rasa kagum, bangga dan sayang! Sifat dingin, tegas dan penuh ambisi Arsen membuat ia sangat tertarik dan nyaman.


“Tuan Muda, maaf. Sungguh, aku tak ada sedikitpun niat untuk mengkhianatimu. Aku tahu, kau mulai curiga dan rasa percayamu berkurang padaku karena aku melindungi wanita itu. Tolong maafkan aku...” lirihnya. Ia belai wajah Arsen.


Xander Pim terharu melihat pemandangan itu. Bagaimana bisa atasannya itu begitu tunduk dan masih membelai Arsen penuh kasih sayang, padahal ia baru saja dicambuk atas perintah Arsen.


“Tolong kau jaga Tuan Muda sebaik-baiknya!”


“Siap, laksanakan Tuan Berend!” jawab Xander.


Setelah mengucapkan kalimat itu, Berend pergi dari apartemen.


**


Entah berapa lama Arsen tertidur, ia terbangun saat mencium aroma masakan yang sangat familiar di apartemennya. Aroma masakan Ardhen adik bungsunya!


Ia mengucek matanya.


“Kamu sudah bangun, Sayang?” tanya Sakinah.


“Mom?” ucap Arsen dengan suara seraknya, ia terkejut saat mendapati Sakinah ada di apartemen.


“Kenapa Mom bisa di sini?”


“It-” jawaban Sakinah terpotong karena Andrean menyahuti duluan.


“Dasar Ayam Gendut! Kerjaannya tidur mulu, makan dan main hp!” ucap Andrean terkekeh.


“You Hungry Bird! Fat Chicken! Not me!” jawab Arsen kesal.


Hahahaha! Andrean malah terkekeh.


“Kenapa datang ke apartemenku?!” Menatap tajam Andrean.


“Memastikan anakku tidak kelaparan!” jawab Andrean santai.


“Aku punya banyak uang untuk membeli makanan!” sungut Arsen kesal.


“Lebih banyak uangku! Aku memiliki banyak usaha dan CEO perusahaan besar! Uangku tak terhingga banyaknya!” ucap Andrean narsis, menjahili Arsen.


Ya, terbukti anak laki-laki penuh ambisi itu terpancing! Ia langsung berdiri dari berbaringnya.


“Aku pastikan, aku akan menjadi pria kaya raya, jauh melampaui Papa! Akan aku perluas usahaku, akan aku taklukkan perusahaan-perusahaan besar di negara ini, tunduk dalam kuasaku!” serunya menatap Andrean tajam.


Andrean malah membalasnya terkikik, malah mendekat ke Sakinah dan meraih pinggang istrinya itu.


“Sudah, kamu kenapa senang sekali menjahili dan membuat anak-anak kesal.”


“Sudah Sayang, jangan menanggapi Papa. Dia hanya ingin menjahilimu saja! Padahal dia sangat bangga memiliki putra-putra seperti kalian.” Sakinah meraih tangan mungil Arsen, Manarik anak laki-laki kecil itu masuk dalam pelukannya.


Wajah Arsen langsung melunak, ia benar-benar takhluk dengan Ibunya. Andrean mengacak rambut Arsen yang berada dalam pelukan Sakinah sambil tersenyum.


“Jangan sentuh!” Arsen mengibaskan tangan Andrean, namun pria dewasa itu masih saja mengacaknya dengan terkekeh!