Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Ciuman Terakhir


Vindo membagi tugas, dia akan masuk dari belakang dengan menaiki gedung belakang, sedangkan Berend Elmo dan lainnya dari depan. Vindo membunuh dengan senjata listrik dan tembakan bius, agar yang ditembak tidak menimbulkan suara keras. Itu semua berjalan lancar karena tak ada yang menyadari kedatangan dirinya dengan beberapa pengawal yang dia bawa. Saat sampai di puncak, dia membunuh pilot helikopter yang sudah bersiap untuk berangkat.


Setelah membunuhnya, dia bersembunyi dan menangkap Johan, pengawalnya juga membunuh pengawal Johan yang ikut dengannya, dia mendorong Johan ke depan, agar semua pengawalnya dapat melihat dan mendengar perintahnya.


Sedangkan Barend juga diam-diam masuk, lalu saat dia sampai di depan, tampak Vindo juga sudah berhasil, dia menunjukkan dirinya, sehingga Vindo meminta cahaya infrared dimatikan. Dia menyusul Andrean dan Dedrick, menggendong Jay bersama dengan dua CEO tampan itu menjauh dari sana.


Dor! Dor! Kembali terjadi tembak menembak. Andrean dan Dedrick terus memeluk erat anak masing-masing. Punggung Dedrick tampak sudah mengalir deras darah, tapi dia terus berlari. Andrean berlari terpincang-pincang.


Arsen masih terpaku bodoh, telinganya seolah tuli, matanya seolah buta. Dia memeluk Sakinah yang telah memejamkan matanya, Roselia dan Hans yang sudah pergi terlebih dahulu setelah Arsen memeriksa nadi keduanya.


Dia benar-benar kehilangan dua wanita yang dia cintai, walau memilih salah satu diantara mereka, tetap saja dia kehilangan. Dia masih berharap tadi ibunya selamat, karena wanita itu tersenyum, mengelus kepalanya dan mengecup pipinya. Rupanya, itu adalah ciuman terakhir dari sang ibu.


Dor! Dor!


“Tuan Muda!”


“Tuan Muda!”


Brak! “Tuan Muda!”


Arsen masih seperti patung, orang kaku yang kehilangan akal. Dia mengabaikan panggilan dari Vindo.


Greb! Vindo menarik tubuhnya. Dooooar! Tembakan meleset dari senjata berbahaya yang bisa meledakkan kepala berkeping-keping kecil.


“Tuan Muda, sadarlah!” Vindo mengguncang tubuh Arsen.


Entah apa yang merasuki dirinya, Arsen menatap Vindo seperti pandangan iblis, menatap tiga manusia yang telah tidur bersimbah darah dengan pasangan sayu, lalu melihat sekeliling yang banyak manusia terkapar.


Arsen mengambil semua permen 20 juta yang ia miliki dari kantong celananya.


Ya, tas perkakas miliknya telah dipungut oleh Vindo untuk melindungi diri dan bergerak ke arah Arsen yang tampak terduduk lemas tadi. Vindo memberikan tas itu. Arsen berjalan seperti manusia kesurupan ketengah orang-orang yang saling menembak sambil melempar permen-permen mahal harga 20 jutanya perbiji.


Doar! Boom! Terdengar ledakan-ledakan kecil dan ledakan besar menyusul. Semuanya menoleh ke sana. Hening! Tak ada lagi tembakan.


Lalu, Doooaar! Terjadi ledakan keras. Tak ada yang bisa melihat apa yang terjadi, hanya kabut besar dan suara ribut.


“Arseeeen....” lirih Andrean menatap ledakan itu, dia tahu, ledakan kemarahan bercampur kesedihan. Jelas, ledakan itu sembarangan di ledakkan Arsen tanpa perhitungan matang sebelumnya.


Air mata Andrean menetes sebelah. Artinya, istrinya Sakinah sudah tiada, dari kejauhan dia bisa melihat Vindo meminta orang mengangkat tiga orang ke arah mereka.


Dor! Dor! Kembali terdengar dua tembakan dalam kabut tebal itu, kemudian hening kembali.


“Aku akan ke sana, Tuan!” Barend Elmo langsung berlari ke arah kabut. Diantara mereka, memang Berend Elmo yang cukup fit, dari fisik tubuhnya dan hanya luka disebelah bahu saja. Sedangkan Dedrick sudah pucat, bahkan punggungnya sudah diikat kain oleh Andrean, darah itu masih belum berhenti. Andrean pun juga tak kalah sama, di bagian kaki dan pahanya, lalu tulang selangkanya. Bajunya sudah dipenuhi darah.


Sedangkan tiga anak kecil itu, hanya bisa diam gemetar ketakutan.


Barend Elmo masuk ke dalam kabut pekat bekas ledakan itu. Tak lama, dia menggopoh Arsen yang mengeluarkan banyak darah di wajahnya.


“Daaaad!” teriak Vindo. Saat Berend Elmo hampir sampai di hadapan mereka semua, pria kekar itu tumbang, punggungnya tertancap besi sangat dalam. Sepertinya dia diserang saat dia lengah dari belakang.


Tak lama, terdengar suara kembali dari kabut tebal, ruang produksi dan di atas gedung.


“Siaga!” teriak Vindo. Para Pengawal langsung membopong semuanya ke dalam mobil dan membawa Dedrick, Andrean, anak-anak, Arsen, Berend, serta tubuh Sakinah, Roselia dan Hans dari sana.


Sedangkan Vindo masih tetap di sana, berniat membunuh semuanya yang tersisa dari sisa ledakan dahsyat yang dibuat Arsen tadi. Setidaknya ledakan itu telah membunuh 80% Bawahan Johan, Vindo percaya itu.