Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Gadis Kecil Gemuk


3 bulan telah berlalu.


Kontrak kerja Sakinah telah finish disebuah perusahaan elektronik tempat ia bekerja. Ia telah berhenti dalam tiga hari ini setelah mendapatkan surat pengalaman kerja.


Di dalam kamar, Sakinah melipat semua pakaian anak-anak dan dirinya, memasukkan ke dalam koper, membungkus beberapa barang-barang kecil penting lainnya.


Shalsabilla sedang meminta orang mengangkat barang-barang Sakinah bersama Jimi. Semua barang-barang seperti, TV, sofa, lemari dan lainnya dipindahkan ke rumah Shalsabila.


Rumah petak sakinah ini akan disewakan setelah ini.


Hari ini, Shalsabilla meminta izin libur mengajar selama 2 hari ke depan. Sedangkan Jimi yang bekerja bebas selama ini, hanya mengikuti dan menemani istrinya yang uring-uringan semenjak mendengar Sakinah akan pindah.


“Aku pasti akan merindukan mereka, aku telah 7 tahun bersama mereka, pasti aku akan merasa kesepian setelah ini...” lirihnya.


Jimi memeluk Billa. “Sabar Sayang, kita bisa mendatangi mereka sambil honeymoon ke Belanda nanti.” Jimi mengecup pucuk kepala Billa berkali-kali. Menghibur istrinya itu.


“Kalian ini, seperti aku tak akan pulang ke Indonesia saja. Kampung halamanku di sini, menikahinya hanya 2 tahun saja, orang seperti dirinya tak akan mungkin bertahan bersamaku, apalagi anak-anak tak begitu tertarik dengannya.”


“Ya, 2 tahun itu cukup lama, Kinah. Aku khawatir dia akan melakukan hal buruk padamu.”


“Ya ampun, kamu ini. Jangan parnoan gitu deh! Kadang kamu juga kayak Arsen, mikir Andrean itu jahatlah, dia bakalan melakukan hal buruklah. Aku 'kan sudah menjadi istrinya, jika dia melakukan sesuatu, nama keluarga mereka juga akan buruk. Mereka itu adalah orang-orang yang mementingkan nama baik keluarga. Jadi jangan terlalu khawatir deh.”


Sakinah mendekat, merentangkan tangannya. Jimi pun melepaskan pelukannya pada istrinya. Billa berhambur kepelukan Sakinah.


“Aku pasti akan merindukan kalian!” Memeluk erat Sakinah.


“Iya, kami juga pasti akan merindukan kalian. Tolong jaga Arsen untukku ya.” ucap Kinah.


“Nah, sekarang ayo kita lanjutkan beres-beres.”


Mereka melanjutkan aktivitas hingga siang datang dan Jimi pun pergi menjemput Sikembar.


Lusa, Sakinah sudah meminta surat pindah mereka pada wali kelas. Hari ini adalah hari terakhir Sikembar di kelas.


Jimi tersenyum dan memotret suasana haru itu. Wali kelas Sikembar, beberapa Guru dan Kepala Sekolah tampak menangis memeluk mereka, teman-temannya juga.


Arhen dan Ardhen membalas pelukan teman-teman, namun teman-teman lain terlihat enggan dan takut memeluk Arsen. Beberapa bingkisan kecil mereka terima, namun tak ada satu pun untuk Arsen.


Setelah berpelukan, mereka pun berjalan mendekat ke Jimi. “Ini buat Abang.” Arhen dan Ardhen membagi hadiah mereka.


“Aku tidak butuh.” ucapnya ketus.


Saat mereka hendak naik ke dalam mobil, ada seorang gadis kecil memanggil.


“Arsen!” teriaknya. Ia memegang sebuah kado berpita berwarna hitam.


Ia berlari dan berdiam diri di depan mobil. Arhen, Ardhen dan Arsen menatap gadis kecil itu.


Gadis kecil berbadan gemuk yang kurang bersih dengan ingus yang sering ia hirup keluar naik.


“A-Aku...” Ia terbata, tangannya yang memegang bingkisan itu gemetar.


Arsen berjalan mendekat. “Apa kau ingin mengatakan sesuatu?” tanya Arsen dengan wajah datarnya.


“Ini untukmu, semoga kamu selalu bahagia di Belanda.” Ia sodorkan hadiah itu pada Arsen dengan wajah menunduk.


Cukup lama adegan gadis kecil itu mengulurkan hadiah pada Arsen.


“Hei, gadis gemuk itu nekat juga ya.” bisik Arhen pada Ardhen.


“Setidaknya, dia satu-satunya fans fanatik Abang.” jawab Ardhen berbisik juga.


“Apa menurutmu Abang akan mengambilnya?” tanya Arhen.


“Tentu saja tidak! Abang 'kan sombong.” Ardhen membalasnya berbisik lagi.


“Aku setuju, aku juga sependapat denganmu.”


!!!


Apa yang terjadi? Arhen dan Ardhen tercengang. Pemandangan apa barusan itu?


“What?! this real?!!!”


Sebenarnya Arsen tak mencium pipi gadis itu, ia hanya mendekat dan berbisik, namun dari sudut punggung belakang yang kedua adik kembarnya lihat seperti sedang mencium.


“Makasih, Roselia.” bisiknya.


Wajah gadis kecil berbadan gemuk itu langsung merah padam. Arsen anak laki-laki kecil yang dingin dan selalu berwajah jutek itu mengenal namanya, bukankah itu pencapaian yang luar biasa?


‘Dia menyebut namaku dengan ucapan terimakasih?’


“Aku pergi dulu.” ucap Arsen kembali. Ia berbalik dan meninggalkan gadis kecil yang menatapnya tak berkedip.


Ia masuk, kendaraan pun dijalankan oleh Jimi.


“Abang, kau mencium gadis itu?” tanya Ardhen dan Arhen.”


“Tak ku sangka kau mesum juga.”


Arsen melirik kedua adik kembarnya, kemudian menjitak kepala mereka.


“Abang! Sakit!” Arhen dan Ardhen mengelus kepala mereka yang terkena jitakan.


“Diamlah!” ucapnya, Ia memeluk hadiah itu kemudian menutup matanya.


Hadiah kecil berpita hitam. Arsen tertarik melihat pita itu. Selama ini, Arhen dan Ardhen selalu mendapatkan bingkisan hadiah berwarna cerah, kebanyakan berwarna merah, biru, putih dan pink.


Ia kembali membuka matanya, kemudian membuka bingkisan itu. “Flasdisk?” gumam Arsen.


Arsen tersenyum, gadis yang sering dikucilkan oleh teman-temannya itu sepertinya benar-benar mengenal Arsen.


“Dasar gadis aneh, masa memberikan hadiah flashdisk! Aku kira isinya jam tangan!” ejek Arhen.


“Urus saja hadiahmu!” hardik Arsen dengan mata melotot.


___________________


“Mom, Miss!” Terdengar suara Arhen berlari memeluk Shalsabila dan Sakinah setelah sampai di rumah. Ardhen juga menyusul memeluk mereka berdua. Sedangkan Arsen hanya menyalami dan mencium punggung tangan mereka.


“Hei, kau itu harus membiasakan diri bersifat imut, lihat kedua adikmu memeluk kami, kau saja yang cuma bersalaman!” sungut Billa.


Arsen tak peduli, ia mengabaikan Shalsabilla, terus berjalan masuk ke dalam kamar.


“Kalian ganti baju dulu, Abang udah duluan ganti baju tuh.” tunjuk Kinah.


“Ok, Mom!” jawab Arhen dan Ardhen kompak.


“Apa kau yakin aku bisa menaklukan anakmu yang satu itu?” tanya Billa sembari melihat punggung anak-anak Sakinah masuk ke dalam kamar mereka.


“Arsen?”


“Ya, siapa lagi!” dengus Billa.


“Bisalah. Dia itu anak yang pintar dan patuh.” tegas Kinah.


“Itu kalau padamu, kalau denganku dia sering menipuku, dia sangat pintar. Kau masih ingat 'kan saat aku pulang kampung bersama dengannya. Aku sudah berusaha agar dia tak menemukan keluargamu dan keluarga Ardi. Tetapi jangankan bertemu, Dia bahkan membuat janji jalan-jalan dengan ayahmu, dia juga membuat masalah dengan Hanum dan telah melakukan pertunjukan hebat.”


“Kau masih ingatkan? Saat dia memberikan kita sepucuk surat tes DNA dan menanyakan siapa sebenarnya ayah mereka. Dia telah melakukan tes DNA kekerabatan dengan adik laki-laki Hanum. Aku yang besar saja bahkan tak pernah terpikirkan seperti itu.”


“Aku bahkan berpikir sekarang, anakmu yang satu itu sedang menyusun langkah untuk ke Belanda, makanya dia sekarang mundur. Sejak kapan dia menyukaiku? Sekarang malah memilih tinggal bersamaku.” ucap Shalsabila panjang lebar.


“Aku yakin kau bisa menjaga dan mendidiknya. Kau adalah Ibu kedua mereka.” Sakinah tersenyum menatap Billa.


“Iya. Aku Ibu kedua anak-anak...” ucapnya pelan. Menoleh ke arah Kinah, kemudian memeluk Sakinah.


Dulu, saat Sakinah hamil, ia memeluk wanita malang itu. Nasibnya benar-benar menyedihkan, ditinggal meninggal suami, Ibu meninggal dunia, dituduh sebagai pembunuh dan anak sial oleh adik sendiri, di fitnah dan diusir dari desa karena hamil tanpa seorang ayah.


Saat itu Shalsabilla berjanji, akan menjadi Ibu kedua anak-anak bersama Kinah. Apalagi Jimi kekasihnya juga mendukungnya. Mereka memutuskan menjadi sepasang Ayah dan Ibu kedua anak-anak hingga sekarang sampai mereka berdua menikah.


...***...