Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Dibius


Hal pertama yang diingat oleh Andrean adalah bibir cantik yang tersenyum itu, kemarin bibir itu dengan agresif mencium bibirnya sekilas.


“Ingin tidur ya, sebentar, aku rapikan dulu!” Sakinah buru-buru merapikan ranjang dengan menarik-narik seprai yang sedikit berantakan bekas ia tiduran sedari tadi.


“Hari ini kamu kemana saja?”


“Hari ini, a-aku ... aku berbelanja.”


“Kemana?”


“Di ... di ... di Distro Van Boule!” Sakinah menggaruk hidungnya. Kebiasaan yang sering ia lihat jika Ardhen putranya sedang berbohong.


‘Kau sungguh tidak bisa berbohong! Sebenarnya kau kemana? Menemui siapa? Apa kau tak sepolos yang aku kira?’ Andrean menatap gerakan tubuh Sakinah yang gugup.


‘Ya Allah, ampunilah hamba yang telah berdusta pada suami sendiri. Bagaimana ini, sudah seharusnya hamba berkata jujur dan memberitahunya bahwa ia memiliki tiga orang putra.’ Sakinah larut dalam pikirannya.


“Oh begitu ya, apa saja yang kau beli? Aku mau lihat!”


“Ah, itu ... aku tidak jadi membeli apapun, aku hanya melihat-lihat saja, belum ada yang tertarik.” Sakinah semakin menggaruk hidungnya.


“Oh, begitu! Baiklah kalau begitu, aku mau tidur dulu!” Andrean memilih tidur terlebih dulu diranjang.


Sakinah juga menyusul, tidur disamping Andrean, mereka saling memunggungi dengan jarak yang cukup lebar karena ranjang mereka luas dan besar.


**


Pagi-pagi sekali, Monessa telah datang menangis, meminta maaf dan mengakui jika anak yang ia kandung bukanlah anak Andrean, ia keliru. Sekar dan Wizza tampak lega. Arhen dan Ardhen tampak santai tanpa expresi apapun, seolah kedua anak itu sudah tahu. Expresi paling aneh hanya dimiliki oleh Sakinah seorang, ia khawatir jika Andrean meminta Monessa menggugurkan anaknya.


Jiwa seorang Ibu pasti tak ingin menggugurkan anaknya, makanya Monessa memilih tidak mengakui anaknya sebagai anak Andrean, begitulah pikiran Sakinah. Ia dipenuhi dengan rasa bersalah, karena ia tak ingin bercerai makanya Andrean mengancam Monessa.


“Kenapa begitu? Ada apa ini Andrean? Apa kau mengancamnya?” Sakinah menatap Andrean tajam.


“Tega sekali dirimu mengancamnya. Aku mengizinkanmu menikah, tidak masalah jika kau memiliki dua istri, aku tak mengapa, kau harus bertanggung jawab atas kesalahanmu!” seru Sakinah.


Sakinah berdiri, menggenggam kedua tangan Monessa. “Maaf ya, jangan khawatir, Andrean pasti akan bertanggung jawab dan menikahimu.” ucapnya pada Monessa dalam bahasa Indonesia.


Monessa hanya bengong, Sakinah menatap Clara, wanita itu pun menerjemahkan ucapan Sakinah pada Monessa.


Dengan perasaan takut-takut, Clara terus menterjemahkan ucapan Sakinah.


Tadi, dini hari, ia sudah diintrogasi oleh David dan Andrean, mulai dari Sakinah kemana saja, membeli apa, makan apa hingga bertanya dengan siapa saja Sakinah berbicara. Kini, wanita yang digosipkan mengaku hamil itu datang kembali. Ia dilema, takut salah sikap.


“Apa yang harus aku pertanggungjawabkan! Itu bukan anakku!”


“Darimana kau tahu dia anakmu?! Aku saja hamil kau tidak tahu, waktu itu kau memperkosaku!” teriak Sakinah marah.


Hampir semua orang tercengang melihat Sakinah yang lembut itu berubah bengis.


“Maaf, Ma, Pa. Bukan maksudku berprilaku tidak sopan, tetapi ini terlalu kejam untuknya. Kasihan sekali dia!”


“Monessa, tak apa-apa!” Sakinah mengelus tangan Monessa lembut.


**


Sakinah bersikeras mengajak Monessa memeriksa kehamilan, ia takut Monessa mengalami syok karena ia hamil muda. Dulu, saat ia hamil, ia sangat sensitif,ia tak ingin Monessa merasa tertekan.


Ia juga tak ingin mendengarkan Andrean yang beberapa kali mengatakan, jika anak yang dikandung wanita itu bukan anaknya.


“Sudahlah Andrean, nanti Mama akan menjelaskan pada Kinah perlahan, kamu jangan khawatir, Mama juga akan ikut dengan mereka.” Sekar berbicara pelan pada Andrean.


Sekar, Sakinah dan dua Maid, Amy dan Clara menemani Monessa untuk pemeriksaan kehamilan.


Setelah selesai pemeriksaan, Sakinah menjadi lebih khawatir, ia mengajak Monessa segera beristirahat dengan mengantarnya ke rumah wanita itu. Tetapi Monessa ingin menikmati pemandangan, Sakinah pun menurutinya, agar pimikiran dan suasana hati wanita itu membaik. Dokter mengatakan Monessa mengalami setress sehingga kondisi bayinya sedikit melemah.


“Baiklah, ayo kita ke taman, tetapi kiya hanya duduk saja, ya, kamu sedang rentan-rentannya. Bahaya, harus banyaj istirahat dan jangan terlalu banyak berpikir.” ucap Sakinaj yang diterjemahkan Clara.


“Terimakasih Tante, Kinah.” jawab Monessa, menatao Sekar dan Sakinah.


Wizza sibuk, sejak pagi sudah pergi ke kantor, sedangkan Andrean juga sudah beradu mulut sejak pagi dengan Dedrick. Ya, ia tak setuju Dedrick pergi ke Amerika.


“Iya, Ma, gak apa-apa. Mama pergi duluan aja, temani Kakak Ipar di Bandara. Aku disini dengan Monessa dan Clara.” ucap Sakinah tersenyum.


Akhirnya Sekar meninggalkan Sakinah bersama Clara, ia kembali bersama Amy untuk menemani keberangkatan putranya Dedrick ke Amerika.


Setelah itu, Monessa meminta diantar ke suatu tempat, katanya itu adalah tempat tinggalnya. Namun, diperjalanan, mobilnya dicegat. Sopir, Clara dan Sakinah dibius hingga pingsan.


Sopir dan Clara ditinggalkan di dalam mobil, sedangkan Sakinah dibawah oleh Monessa dan lainnya ke suatu tempat.


Sakinah diikat disebuah ruangan.


“Kerja bagus, bahkan kau bekerja sangat cepat, Gadisku!” puji seseorang pada Monessa.


Jujur saja, rencana itu baru saja mereka musyawarahkan dua hari yang lalu, tapi kesempatan sudah datang pada mereka. “Sungguh tidak disangka, padahal biasanya keluarga Van Hallen pasti ada pengawalan ketat.”


“Apa benar wanita ini penting, Baby?” tanya Monessa pada pria tua berbaju jas.


“Dia istri Andrean.”


“Apa?! Istrinya Andrean?! Bukannya....” Monessa menghentikan ucapannya, mengingat jelas bagaimana cara Andrean marah beberapa hari lalu, cara anak-anak dan Dedrick menatapnya.


“Iya, dia istrinya Andrean! Tentu saja wanita ini penting, bukan hanya itu, Dedrick sepertinya juga menyukai wanita ini. Dia memiliki dua putra, cucu Wizza Van Hallen.” jelasnya sembari mengelus perut Monessa.


Monessa tersenyum, ia membiarkan pria tua itu mengelus perutnya.


Pria berjacket yang diberi amplop oleh Monessa kala itu menunduk hormat pada pria tua itu. Lalu, memberikan ponsel.


**


Andrean yang penuh curiga berdiam diri di dalam mobil, mengintai. Ia menggunakan mobil biasa agar mudah membaur saat terparkir, bukan mobil mencolok berwarna kuning miliknya.


‘Ardhen? Arhen?’


Andrean melihat dua putranya berlari tergesa-gesa sembari menangis ke arah apartemen.


Andrean memijit keningnya. Hatinya juga sedih, pagi tadi ia langsung berjalan pergi keluar, ia kesal melihat Dedrick yang telah mengemas barangnya, beberapa koper sudah siap. Ia bahkan beradu mulut dengan Dedrick.


‘Andrean, jangan mengalah kali ini, berusahalah menjadi pemenangnya. Memenangkan hati dan kepercayaannya, memenangkan cinta dan kasih sayang anak-anak. Aku juga begitu, akan mencari jati diri dan cintaku.’


“Ahh! kenapa sih, kau begitu keras kepala, Kak!” Andrean kesal mengingat ucapan Kakaknya yang bersikeras pergi.


Drrt! Drrrt! Hp Andrean bergetar.


“Siapa sih!” kesalnya sembari mengambil hp dikantong.


“Apa?!!!” teriak Andrean terkejut setelah mengangkat telepon.


Ia bergegas menghidupkan mesin mobil, memutar setir mobil. Ia putar arah mobil pulang. Tadi, Sekar mengatakan jika Amy dan sopir pribadi menelfon. Mereka di bius, lalu Sakinah dibawa pergi.


“Siapa yang berani melakukan perbuatan buruk ini padanya? Pasti ini perbuatan orang terdekat! Tidak mungkin wanita seperti Kinah yang hanya diam dan tak bisa berbicara bahasa selain bahasa Indonesia itu memiliki musuh.”


Tak lama, Andrean pun sampai di Mansion.


Sekar menangis. “Putraku, bagaimana ini? Tadi kami mengantar Monessa ke rumah sakit, setelah itu perempuan itu meminta berhenti di taman. Karena jam sudah menjelang sore, Mama pergi ke bandara, sedangkan Kinah masih ingin menemani wanita itu, mama pergi bersama Amy.”


“Mama tak mengira jika ada yang mengincar Kinah, hiks, hiks!” tangis Sekar.


“Tenanglah Ma. Aku akan menemukan Sakinah secepatnya. Kakak sudah naik jet tadi 'kan?” tanyanya sembari menghapus airmata Sekar.


“Sudah berangkat, saat Mama baru sampai rumah, mereka baru mengabarinya. Jadi, Dedrick belum tau, Mama juga belum mengabari dia dan Papa karena terlalu cemas.


“Baguslah Ma, jangan beritahu Kakak.” pinta Andrean. Sekar mengangguk dan masih terisak.


...***...