
Seminggu kemudian.
Arhen dan Arsen duduk di samping Ardhen, menatap Sakinah memakaikan pakaian adiknya. Beberapa hari yang lalu, Dokter telah mengizinkan Ardhen pulang ke rumah dan melakukan kontrol seminggu kemudian.
“Ah, aku tidak sabar menunggumu sembuh total Dik, mencicipi masakan lezat mu, cake manis buatanmu, membayangkannya saja sudah ngiler.” kata Arhen. Ia menumpukan dagu di atas kedua telapak tangannya.
“Kata Dokter, tidak lama lagi Kak, aku akan segera sembuh. Aku akan membuatkan Abang, Kakak dan Mom masakan lezat, Potato Banana Rice.” sahut Ardhen.
“Makanan seperti apa itu?”
“Itu makanan terbaru yang akan aku coba Kak. Sebenarnya aku melihat makanan ala Belanda di internet, tetapi itu berbahan tepung. Mom 'kan tidak suka makanan beroti seperti pizza, burger. Jadi, aku buat berbahan kentang tumbuk yang diolah, ditambahkan nasi.” jelasnya.
“Loh? Banananya mana?”
“Dibentuk seperti banana, Kak.” jelas Ardhen.
“Belum dicoba, belum tentu berhasil.” ucap Arsen tiba-tiba.
“Abaaaaaang!” Arhen melotot. “Kenapa sih, Abang tuh kalo ngomong nyelekit banget.” gerutu Arhen.
“Mom, lihat tuh Abang!” rengek Arhen mengadu.
“Kalian sudah periksa PR belum?” tanya Sakinah mengalihkan perdebatan mereka.
“Sudah Mom. Soalnya sangat mudah!”
Sakinah hanya bisa tersenyum kecil, anak-anaknya memang sangat pintar sejak kecil, Ia selalu meminta anak-anak untuk bersikap biasa, tidak menonjolkan diri, tetapi guru-guru selalu bisa menilai kapasitas kepintaran setiap muridnya. Terkadang Guru memberikan mereka tugas sedikit lebih banyak dan sukar dari pada murid lain.
‘Bu, sepertinya putra-putra Ibu sangatlah pintar, kami telah berdiskusi dengan Kepala Sekolah akan menaikan mereka ke kelas 3 SD. Kami berharap Ibu tidak keberatan, sangat disayangkan jika mereka masih di kelas satu.’ Seorang Guru perempuan mengajak Sakinah berbincang, ia adalah wali kelas Sikembar.
‘Tapi Bu Guru, anak-anak saya masih berumur 6 tahun, bahkan untuk kelas satu SD, mereka masih belum cukup umur.’ sahut Sakinah kala itu.
‘Itu karena mereka pengecualian Bu, seperti yang telah saya paparkan ini,’ Guru itu menunjukkan berkas nilai ujian dan ulangan serta test dadakan untuk Sikembar. ‘Ibu bisa melihat hasilnya.’ ucap Guru itu menjelaskan.
‘Kalau begitu, saya mohon bimbingan Ibu saja, saya menyerahkan semua keputusan yang terbaik untuk mereka kepada Ibu Guru.’
“Mom!”
“Mom!” panggil Arhen mengguncangkan badan Sakinah yang sedang melamun.
“Ah, I-iya!” Sakinah menoleh pada Arhen. “Maaf, kamu mengatakan apa tadi?” tanya Sakinah.
“Mom khawatir ya, nikah sama Andrean itu?” tanya Arhen penuh selidik.
“Husttt! Jangan begitu, sama yang besar harus sopan, apalagi dia itu Papa kalian. Mulai sekarang belajarlah memanggil dia papa. Paham?!”
“Tadi Kakak lebih suka sama Papa Dedrick, ya 'kan, Bang?” Arhen menatap Arsen meminta persetujuan. Arsen malah diam saja tak membelanya.
“Bagaimanapun juga, Dia tetap Papa kalian, Dedrick juga Paman kalian, jadi sangat wajar jika kalian menyukainya. Ingat, Mom selalu mengajarkan sopan santun setiap hari, ada empat bahasa yang harus digunakan. Yang pertama kata mendatar, cara bicara dengan sesama besar, lalu kata melereng dan mendaki, menghormati yang besar dan lebih tua dari kita. Yang paling terakhir kata menurun, berbicara lemah lembut pada yang lebih kecil.” Sakinah memencet hidung Arhen.
“Kakak begitu kok Mom. Abang tuh yang dingin dan selalu ketus!” Menatap Arsen tajam. “Iya 'kan, Dik?” Menoleh pada Ardhen.
Ardhen malah hanya tersenyum kecil, tak ingin berpihak pada salah satu diantara mereka.
“Sudah, sudah. Kalian temani Adhen dulu, jaga dia. Jangan berdebat lagi. Mom mau masak.”
Sakinah beranjak ke dapur meninggalkan ketiga putranya di dalam kamar.
“Eh! kamu setuju Mom nikah sama Andrean itu?!” Arhen mendekat, bertanya pada Ardhen.
“Arhen jangan desak dia. Biarkan dia memilih siapun yang dia sukai.” cegah Arsen melotot pada Arhen.
“Apa sih yang kamu suka dari pria itu, aku yakin Mom pasti salah mengenal orang. Tidak mungkin Andrean itu Papa kita.” Arhen beranjak pergi dari samping Ardhen, ia berjalan menuju lemari pakaian.
‘Apa mungkin, Dedrick sebenarnya Papa kami? Bukan Papa Andrean? Tapi saat pencocokan ginjal, terbukti jika Andrean papa kami. Semoga saja Mom dan Papa bahagia setelah menikah. Papa akan berubah baik seperti Papa Dedrick yang ramah.’ Ardhen bermonolog dengan hatinya.
Arhen mengeluarkan topi. “Bang, ini topi dari salah satu fans aku.” kata Arhen, “aku melihat coretan Abang dikertas itu bagus, bolehkan aku meminta untuk dijahitkan di topi ini?”
“Maksudnya ini?” tanya Arsen menunjukkan kertas. Arhen mengangguk.
“Ini hanya coretan yang salah. Tetapi tak apa-apa jika ingin memakai ini juga.” Arsen melemparkan kertas itu pada Arhen.
Anak laki-laki itu menyimpan kertas dan topi ke dalam tasnya. “Aku akan memberikannya pada Daddy besok. Mulai hari ini aku ingin membuat lambang diriku sendiri.”
“Seperti Spiderman, ada lambang laba-laba, Kapten Amerika, perisai besi yang ada bintang besarnya, Batman dan Iron Man juga ada ciri-ciri mereka. Aku juga begitu, agar para fans mengenal diriku yang memiliki ciri khas.” Arhen mengedipkan matanya.
Arsen tersenyum, Ia juga tengah berpikir sekarang. Ia mendapatkan ide baru setelah Arhen mengeluarkan pendapatnya.
Arsen tiba-tiba saja menyodorkan jempolnya pada Arhen, membuat anak laki-laki itu terbelalak. Abangnya, Arsen memujinya untuk pertamakalinya.
Arsen menepuk pundak Arhen. “Jika kamu punya lambang, tentu saja Aku dan Ardhen harus memilikinya. Bagaimana kalau kita sekarang membuat lambang kita.” usul Arsen.
“Setuju!” jawab Ardhen dan Arhen kompak.
Arsen mengambil laptopnya, duduk di samping Ardhen yang duduk di atas ranjang. “Bawa buku dan pena itu juga!” pintanya pada Arhen yang berjalan mendekat ke arah mereka.
“Ok, Bang!”
Mereka kini telah duduk diatasnya ranjang, Arsen duduk ditengah-tengah dengan memangku laptop.
“Nah, seperti ini punya Adik. Bagus gak?” Arsen menatap Ardhen.
“Bagus, tapi...”
“Tapi apa?” tanya Arhen.
“Aku suka pisang.” jawab Ardhen.
Mereka sejenak sama-sama berpikir. “Nah, bagaimana seperti ini? Bagus gak?” tanya Arsen lagi.
“Wah, ini bagus Bang. Adik suka!” Wajah Ardhen langsung berbinar.
Lambang satu buang pisang kuning seperti sebuah senyuman di bawah huruf Ard, huruf A ditandai dengan sepasang sendok memasak, lalu huruf D ditandai dengan topi koki.
Arhen tepuk tangan riang. “Abang, untuk aku juga buatkan.” pintanya.
“Bukankah tadi kamu sudah memilih itu.”
“Aku mau yang baru Bang, sebagus punya Adik.” rengeknya
“Baiklah, coba kamu usulkan seperti apa yang kamu suka.” ucap Arsen.
Arhen mencoret buku membuat huruf ArN, membuat topi di huruf N tergantung di atas, sedangkan di kaki huruf A ada tiga bintang.
“Nah, Kakak mau seperti ini, Bang.”
“Baiklah.” Arsen membuat gambar di laptopnya untuk Arhen dan Ardhen. “Nih, selesai.”
“Untuk Abang seperti apa?” tanya Arhen dan Ardhen menatap Arsen kompak.
“Rahasia!” jawabnya.
“Abaaaaaaaaaang!!!”
...*** ...