Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Menggoda


“Oh, Rufia, kenalkan ini Kakak kembar keduaku, Arhen Ryker Van Hallen!” ujar Arhen. Membuat Rufia tersentak dari lamunannya.


“Kenalkan, Kak! Dia teman kuliahku, Rufia.” Ardhen tersenyum ke arah Arhen.


“Rufia!” Rufia mengulurkan tangannya pada Arhen.


“Arhen!” Arhen menjabat tangan Rufia, bola matanya yang bulat berwarna abu-abu jernih membuat Rufia terhipnotis sesaat, apalagi dengan senyuman menggodanya.


“Kak, dia itu temanku, sekarang juga bekerja bersamaku, jangan tebar pesona!” delikan tajam dari Ardhen. Bola mata bulat berwarna abu-abu miliknya juga terlihat sangat mempesona saat menatap Kakak laki-lakinya serius.


Arhen melepaskan jabatan tangannya dengan Rufia. “Hehehe, sorry Lady! Apa kau memiliki hubungan khusus dengan adik kecilku ini?” tanya Arhen menggoda Rufia.


Pipi Rufia memerah mendapatkan pertanyaan seperti itu.


“Pertanyaan tidak bermutu apa itu! Kakak ini, isi otaknya pacaran mulu!” sungut Ardhen.


“Hehehehe! Aku tanya hubungan, bukan bilang kalian pacaran 'kan? Hubungan itu banyak, teman juga hubungan namanya, hubungan pertemanan, hehehe!” Arhen nyengir.


“Ah, terserah kakak berkilah aja lah! Gosip yang baru-baru beredar ini, apakah itu sungguh ulahmu? Atau kau bermain-main lagi! Jangan menyusahkan Abang terus menerus!”


“Itu 'kan emang pekerjaan Abang! Aku 'kan adiknya!” jawab Arhen santai, lalu memasukkan sweet potato cake ke dalam mulutnya.


Ardhen menatap cake itu. “Tumben kau suka ini, Kak? Padahal aku sudah buat banana cake!” ucap Ardhen.


“Kata gadis cantik ini, banana cake nya tidak diperjual belikan!” Arhen melirik Rufia, ia membalas ucapan Arhen dengan bahasa Inggris, sehingga Rufia mengerti.


“Maaf, aku tidak tahu, sungguh!” Rufia langsung merunduk, bergegas ke lemari es, mengambil banana cake yang sudah dipersiapkan Arhen untuk tamu spesialnya. Begitulah ia berpesan.


••


Beberapa saat yang lalu.


Ardhen dan keluarganya telah keluar dari toko Vend Boutique, hendak pulang ke mansion, tiba-tiba saja Abraham datang.


“Dhen, temani aku sebentar!” pintanya memohon.


“Mom, aku pinjam Ardhen dulu, ya!” Menunjukkan wajah manja penuh kasihan pada Sakinah, sehingga wanita itu hanya tersenyum dan mengangguk, memberikan izin.


Ardhen menemani Abraham membeli beberapa barang, tetapi setelahnya ia meminta Abraham mengantarkan dirinya segera kembali ke Vend Boutique, karena Arhen telah selesai syuting, padahal Arhen berkata padanya, ia masih sangat lama selesai syuting, ’Mungkin saja selesai malam!’ Tetapi, Arhen malah akan menuju ke Vend Boutique sekarang.


“Kakak akan datang, aku menemanimu kembali setelah berjumpa Kakak gimana?”


“Yah! 'Kan kalian bisa jumpa di mansion nanti! Kayak gak ada hari lain aja! Tinggal se-mansion pun!” rungut Abraham.


“Kamu gak ngerti, Ham! Kakak itu artis, jarang banget ada waktu santai, ngumpul bareng keluarga, aku gak mau ganggu waktunya yang penting itu terbuang percuma, hanya gara-gara aku!” jelas Ardhen.


“Ok! Ok!” Abraham tak ingin berdebat dengan Ardhen, ia memilih memutar kembali mobilnya ke Vend Boutique.


Sesampainya di sana, Arhen langsung membuat banana cake, sedangkan Abraham memilih berbincang-bincang dengan Rufia.


30 menit, banana cake sudah jadi, setelah dingin Ardhen langsung memasukkan ke lemari pendingin.


“Sudah selesai?” tanya Abraham pada Ardhen yang baru keluar dari ruang masak.


“Sudah,” jawabnya sambil mengibaskan rambut poninya. “Eh, kamu sudah mulai bekerja Ruf?” tanya Ardhen menoleh pada Rufia. Tadi ia tak sadar saat masuk kembali bersama Abraham karena terburu-buru.


“Iya, Dhen! Sekalian biar bisa belajar cepat,” sahutnya.


“Baguslah, semoga kamu nyaman.”


Mereka pun bertiga berbincang-bincang sambil melayani tamu, tetapi tiba-tiba ponsel milik Abraham berbunyi, Ibunya menelfon, entah membicarakan apa, tetapi Abraham langsung menarik lengan Ardhen agar menjauh dari sana dan mengikutinya.


“Ruf, kita pergi sebentar!” ucap Abraham menoleh pada Rufia, tangan satu memegang hp di telinga, satu lagi masih menarik lengan Ardhen.


“Bentar ya! Eh, kue di lemari es itu khusus untuk seseorang, ya, jangan kasih pada siapa pun!” teriak Ardhen yang ditarik.


Rufia mengangguk mengerti.


Itulah kejadian, dimana Arhen tiba, ia hanya melihat Rufia seorang di sana, setelah selesai Ardhen langsung masuk dan mendekati kursi yang di duduki kakak laki-lakinya itu.


••


Abraham muncul, langsung menyapa Arhen. “Siang menjelang sore, Kak!”


“Sore hendak jingga, Abraham!” sahut Arhen tersenyum. Abraham tersenyum. Dari dulu dia memang menyukai Arhen.


“Kak, sekarang kau main film baru lagi, ya! Kau sangat keren!” Langsung duduk menyempil.


“Iya dong!”


Mereka pun akhirnya berbincang bertiga di meja lain, Rufia pun juga mulai sibuk melayani tamu-tamu. Sesekali Tuan Samber menyapa dan menanyakan apa yang ingin mereka cicipi di sela kesibukannya di bagian dapur bersama koki muda lainnya.




Di apartemen.



Arsen duduk bersilang kaki di sofa, wajahnya tampak suram. Tadi di kantor, ia marah-marah tak jelas pada Hans.



“Kenapa kakak mengizinkan Ros pergi keluar berduaan sama laki-laki? Apa kakak tidak peduli pada adik perempuan satu-satumu? Kalau kau tidak bisa menjaganya, biar aku letakkan pengawal di sampingnya, kemana pun dia pergi!”



“Maaf, Tuan Muda. Mereka hanya membeli keperluan untuk sekolah, Rayyan juga laki-laki yang baik,” jawab Hans.



“Baik? Apa kakak siang malam bersamanya? Sehingga bisa menilai pria itu baik? Jangan-jangan, dia punya banyak niat! Ros itu gadis cantik, bagaimana kalau dia macam-macam! Hm, maksudku, Ros itu gadis, anak perawan tidak boleh berduaan saja dengan pria, ekhem!” Arsen berdehem, ia baru menyadari suaranya sejak tadi sudah meninggi karena kesal. Perlahan, ia mulai memelankan suaranya.



“Aku tidak ingin mendengar alasan apapun lagi! Apa kakak tidak ingat, bagaimana Mom ku di culik dulu?”



“Maaf, maafkan saya Tuan Muda! Saya akan lebih hati-hati lagi ke depannya!” jawab Hans.



Begitulah, setelah ia menggerutu dan marah-marah tidak jelas, ia ingin mampir di apartemen, setelah sampai di apartemen, Roselia belum pulang.



“Dia minta izin 2 jam, tapi sekarang sudah sore dan itu sudah lebih dari 2 jam, bahkan hendak malam! Aku akan memeriksa Cctv!” Arsen melotot, Hans langsung menyerahkan laptopnya pada Arsen.



Arsen langsung mengotak-atik laptopnya, melihat dari Cctv bawah, kalau Roselia sedang berjalan santai sambil tersenyum bersama Rayyan, mereka saling tatap, membuat darah di kepalanya naik.



‘Mereka telah sampai rupanya!’ geram Arhen dalam hati.



Ia langsung menutup keras laptop, duduk menyila kaki, tangan di sedekapkan di dada. Hans hanya bisa berdiri dengan meneguk salivanya.



Tak lama, Roselia sampai, terdengar suara ia berbicara pada Rayyan.



“Kakakku sudah pulang, Ray! Ayo, masuk saja! Aku tidak sendiri kok, ayo!” ajak Roselia karena melihat lampu sudah hidup, apalagi setelah ia membuka pintu apartemen, sepatu kakaknya sudah terlihat tersusun di rak sepatu.



Rayyan pun masuk bersama Roselia ke dalam apartemen.



“Ka-ka ... kak, kakak sejak tadi pulang?” tanya Roselia, ia merasa gugup karena Arsen terlihat berwajah suram dan wajah kakaknya terlihat ciut.



...----------------...