
“Maafkan aku Nona!” Arhen tertunduk, ia melepaskan tubuh Aini yang ia jamah, perlahan dengan terhuyung-huyung ia berjalan hendak ke kamar mandi. Aini memperhatikan, mengikuti dari belakang, kemudian membantunya.
“Jangan sentuh saya, Nona!” Arhen mengibaskan tangannya menolak bantuan Aini. “Pergilah dari sini!” Arhen kembali mengusirnya. Aini masih berdiri diam.
“Jika kau tidak pergi dari sini, aku akan memper-kosa-mu!” Arhen menarik dan mendorong tubuh Aini, sehingga tersandar dan terpojok ke dinding di samping bathup, lalu ia mengungkung tubuh itu dengan posesif, mencium paksa bibir Aini kembali dengan tangan yang meraba-raba.
Aini menahan tangannya. “Kau sudah terlambat untuk menolaknya, dari tadi aku telah mengusirmu, tetapi kau tidak juga keluar!” Suara Arhen terdengar berat, sambil mengecup lembut leher gadis itu.
Kembali ia mencium bibir Aini, kali ini gadis itu membalasnya, hingga mereka berciuman dengan panas.
Aini melakukan pergerakan menolak, setelah tangan dan kelakuan Arhen semakin tak terkendali, dia mendorong tubuh Arhen dan beringsut ke samping, tetapi Arhen menahannya, hingga pisau cukur lipat di samping bathup tersentuh oleh Aini dan melukai pahanya yang dinaikkan oleh Arhen agar leluasa menyentuh daerah rahasia miliknya.
“Ah!” Aini meringis, antara sakit dan geli, perlahan paha itu mengeluarkan darah karena pisau cukur yang tidak rapi itu melukainya cukup dalam.
Ya, Arhen memang tidak rapi, setelah menggunakan pisau cukur, ia tak melipatnya lagi dan membiarkan begitu saja, biasanya Lucas dan pelayan yang akan merapikan, berbeda dengan Arsen dan Ardhen yang sangat rapi.
Aini yang takut dengan darah langsung pusing dan jatuh pingsan setelah melihat darah keluar dari pahanya sendiri. Arhen yang dibalut sensasi aneh, mulai merasakan pusing yang teramat berat karena belum tersalurkan.
“Kau lari Nona?” Arhen tak melihat dengan jelas, jika Aini telah jatuh pingsan ke bawah. Ia bisa merasakan tubuh itu menghindar dan sekilas melihat dengan buram, jika Aini tergeletak di bawah, tetapi ia tak bisa melakukan apa-apa sekarang, selain perasaan aneh dan kepala yang teramat sakit. “Ah, kepalaku sangat sakit!” Ia tersandung kaki Aini dan terjatuh ke dalam bathup.
“Aakkh!” Ia memegangi kepalanya yang sakit, Ia meringkuk dalam bathup yang kosong.
Aini sampai di kontrakannya, ramadhan tampak tertidur di sofa. Ia menyelimuti adiknya itu, kemudian memilih untuk mandi, mengobati luka di pangkal pahanya, darah di paha itu sudah tak ada. Setelah itu, dia mulai merebahkan tubuhnya di ranjang lusuh yang usang tetapi bersih dan rapi.
Ia menerawang menatap ke langit-langit kamar, mengingat dengan jelas kejadian yang terjadi tadi, Arhen menciumnya, kemudian saat di dalam kamar mandi, ia menjadi pandai dan membalas ciuman itu, hingga mereka berciuman cukup lama.
“Ya Allah, ampunilah perbuatan kami, ini adalah salahku, aku menikmatinya, jelas-jelas dia dalam keadaan yang tidak baik, aku malah-” Air matanya menetes, betapa hinanya dia, tetapi hati kecilnya ikhlas, ia sangat ingin memeluk dan mencium pria tampan itu.
Dia merutuki dirinya sendiri yang tak merasa menyesal, malah menikmati ciuman dan sentuhan itu.
“Biarlah ini menjadi kenangan,” gumamnya tersenyum pahit.
**
Keesokan harinya. Arhen telah sadar, dia setengah ingat dan lupa atas apa yang dia lakukan, ia sungguh menyesal dan merasa bersalah.
“Kau sudah menemukan wanita itu Lucas? Aku harus meminta maaf padanya! Apakah dia wanita berkeluarga, single? Atau janda?” Arhen bertanya. Ia menjadi khawatir, jika seandainya wanita itu bersuami, bagaimana reaksi suaminya saat ia menjamah tubuh istrinya, bulu kuduknya jadi meremang mengingat itu. Ia sampai mengelus tengkuknya karena ngeri membayangkan.
Mendengar itu, Arhen sungguh kasihan, kehidupan wanita itu sangat menyedihkan, kini ia malah menambah beban dan luka di hati wanita itu.
“Apa Abang sudah tahu dengan semua ini?”
“Sudah, Tuan Vindo telah menjelaskannya, tetapi tak ada jawaban apapun dari Tuan Muda Arsen,” terang Lucas.
“Hm, Abang pasti kecewa, ia tak akan mau bicara denganku sampai perasaannya membaik, jangan laporkan apa-apa dulu pada Vindo, sampai Abang sendiri yang menyuruh Vindo menghubungimu!”
“Baik Tuan Muda.”
Arhen dengan perasaan bercampur aduk menelfon sang ibu. Dengan suara lambat dan berat, ia memulai berbasa basi, menanyakan kabar dan kerinduannya, tetapi seorang Ibu selalu bisa merasakan perasaan anaknya, walau tak berada di dekatnya.
“Katakanlah putraku, ada apa? Apa yang mengganggu hatimu? Cerita lah! Jangan dipendam sendiri.” tutur Sakinah lembut diseberang telfon sana, tepatnya di Belanda.
“Mom...” Arhen memanggil dengan lirih, tenggorokan nya terasa tercekat, “Mom maafkan aku...” Air matanya mulai menetes, suaranya mulai terdengar parau dan terisak.
“Sayang, ada apa Nak? Katakan pada Mom, maaf kenapa? Mom tidak akan marah.” Sakinah berkata lembut.
“A-ku mem-memper-kosa seorang gadis karena mabuk...”
Deg! Jantung sakinah berdetak cepat.
“Astagfirullhallazim... Astaghfirullahallazim...” Terdengar Sakinah terus beristighfar, suaranya terdengar semakin memelan, ia mengurut dadanya sambil beristighfar tiada henti.
“Maafkan aku Mom...” lirih Arhen berulang-ulang, ia tahu ibunya pasti kecewa padanya. Akan tetapi, inilah Arhen, dia dari kecil memang terbuka dan ceria, ia tak pernah bisa menutupi masalah dan perasaannya pada Ibu dan keluarganya, apapun itu. Berbeda dengan saudara laki-lakinya, Arsen yang dingin dan pendiam suka memendam sendiri masalahnya, sedangkan Ardhen hampir sama, namun masih bisa dibujuk untuk bercerita.
Arhen terus menangis di telfon, suara telepon Sakinah hanya terdengar wanita itu terus melafazkan nama Allah. Sebagai wanita yang juga pernah merasakan hal yang sama, dia mengetahui gadis itu pasti terpukul, takut dan trauma. Sakinah tak bisa membayangkan jika wanita itu tak memiliki hati yang lapang, mungkin saja dia akan nekat melakukan hal buruk ataupun lainnya.
“Lalu, dimana gadis itu sekarang, Sayang?” Sakinah mulai bertanya, setelah hatinya mulai tenang, ia tak ingin menunjukkan marah dan kecewanya. Ia mengenal watak putranya, putranya tak seburuk itu, ini adalah kesalahan yang tak ia sengaja, ia ingin memberikan kesempatan pada putranya untuk menjadi pria yang bisa bertanggungjawab dan lebih dewasa.
“Dia melarikan diri saat Lucas menemuinya Mom, tetapi aku akan segera mendatanginya setelah ini, aku ... aku takut menemuinya ... dia pasti sangat marah dan benci padaku, kehidupannya sangat pahit, dia yatim piatu, dulunya dia dibesarkan pamannya, setelah pamannya meninggal, dia hanya hidup dengan adik laki-lakinya, ia menyambung hidup dengan kerja keras, menjadi bersih-bersih, lalu kini aku menghancurkan hidupnya...” Arhen masih bersedih.
Sakinah terdengar menghela nafas dengan bibir gemetar, air matanya menetes, ia teringat bagaimana dulu dengan nasibnya.
‘Ya Allah, kenapa kejadian hina ini kembali pada putraku,’ Pikir Sakinah bersedih.