Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Satu Tahun Kemudian


Satu tahun kemudian.


Bola mata biru milik Andrean telah terpasang di mata Arsen. Saat melakukan operasi mata, Arsen juga meminta operasi perbaikan pada wajahnya, sehingga wajahnya terlihat sangat berbeda sekarang, apalagi dengan bola mata biru milik ayahnya, membuat dia terlihat gagah perkasa.


Arsen, menaburkan bunga di atas kuburan Sakinah dan Andrean, lalu kuburan Hans dan Roselia yang saling berdampingan.


Setelah pulang dari rumah sakit, Andrean terus-menerus batuk tiada henti. Dia tak bisa tidur, tidak berselera makan dan lebih sering merenung. Hingga dia jatuh sakit. Saat diperiksa dokter, dia berpesan, jika dia ingin mendonorkan mata untuk putra sulungnya.


Siapa yang tahu dengan takdir, saat ajal mulai datang mendekat. Mungkin saja, Andrean sudah memiliki firasat dia akan segera menyusul istrinya. Hari itu dia bersikeras ingin ke rumah sakit, dia mandi dan memakai pakaian rapi, meminta operasi mata segera. Tentu saja Arsen menolak, karena ayahnya masih baik-baik saja.


Siapa sangka, belum selesai Arsen mengatakan alasannya menolak. Andrean sudah kejang-kejang, dilarikan ke rumah sakit dan meninggal dunia.


Di kiri Arsen telah berdiri Ardhen bersama Haizum, sedangkan di kanannya berdiri King dan Vindo.


“Abang, ingat, Mom tidak suka dendam!” Ardhen menepuk bahu Arsen. “Aku tahu isi kepalamu sekarang, terlihat dari sorot matamu, Bang!” lanjut Ardhen lagi.


“Nyawa memang harus dibalas nyawa 'kan?”


“Abang, nyawa bukan Abang yang kasih, tapi Allah pemiliknya.”


“Aku tidak ingin berdebat di depan pusara kedua orangtua kita!” Arsen berdiri dan berjalan pergi dari sana.


“Bang!” Ardhen mengejar Arsen. Yang lain pun juga mengikutinya.


Setelah pingsan saat itu, Ardhen perlahan mengingat semua kejadian. Helikopter yang dia tumpangi dikejar helikopter lainnya saat mereka hampir sampai di bandara. Dengan lihai, Haizum masuk menerobos keramaian bandara, memesan tiket class ekonomi ke Amerika.


Saat mereka turun di bandara, menuju alamat Frans, mereka dikejar. Ardhen dikeroyok oleh lima orang pria berotot, sedangkan Haizum mencoba menyerang mereka dengan tasnya. Saat salah satu diantara mereka mengeluarkan senjata, Haizum menarik tangan Ardhen ke arahnya, sehingga pisau hanya menusuk angin.


Beberapa waktu berlalu di daerah lengang itu, mereka mempertahankan nyawa, tidak ada yang menolong. “Aakkh!” Haizum terpekik saat orang menyabet lengannya dengan celurit.


“Kau ke--”


“Awas!” Haizum menarik Ardhen kembali karena dibelakangnya ada penyerang yang masih memegang senjata.


Mereka berdua melawan dan Bugh! Kepala Andrean dipukul dengan kuat oleh seseorang dengan kayu balok.


Bugh! Bugh! Dua kali lagi orang itu memukul arah kepala Ardhen, salah satunya tepat di wajah Ardhen, sehingga dagu dan hidungnya mengeluarkan banyak darah.


Haizum menggigil, merangkak dan mendekap Ardhen.


“Bunuh mereka berdua!” perintah ketua mereka.


Untung saja terdengar suara serunai polisi yang berpatroli, mereka semua berlari menjauh, sayangnya walau Haizum sudah melambai, mobil polisi itu berlalu begitu saja. Mungkin karena mereka terduduk di daerah gelap dan sedikit terpojok.


Haizum merobek roknya, menghentikan darah yang keluar dari dagu dan kepala. Lalu memapah Ardhen ke jalan raya, sampai akhirnya menemukan taxsi.


Mereka menuju alamat rumah Frans dengan taxsi. Sesampainya di sana, mereka berdua harus berdiri cukup lama dan bersembunyi. Haizum sempat meninggalkan Ardhen yang pingsan bersandar di tembok rumah Frans, sedangkan dia membeli obat dan kain kasa di minimarket.


“Tuan Roque Van Denc?”


***


“Bang! Mom akan sedih jika melihat Abang begini!”


“Apa sih! Memangnya aku melakukan apa? Aku hanya melindungi diri, jangan terlalu banyak berpikir, Dhen. Sekarang kita siap-siap saja, kita harus pulang ke Indonesia.”


Haizum menggenggam tangan Ardhen erat.


Mereka berdua telah menikah 4 bulan yang lalu. Setelah mengingat semuanya, Ardhen kembali lagi ke Belanda, dia melamar Haizum yang telah mualaf. Dia tidak bisa marah dengan keputusan itu, seperti dia marah pada Rufia yang berniat pindah agama karena menyukainya, karena kenyataannya Ardhen berharap Haizum menjadi istrinya.


Berawal dari ciuman saat itu, wajah Haizum selalu memenuhi kepalanya. Ardhen menikah dengan sederhana, tanpa acara resepsi atau lainnya.


“Uda, ada panggilan dari Kakak!” King menarik ujung lengan Ardhen.


Ardhen mengambil ponsel itu dan berbicara.


***


Di Indonesia.


Jay dan Jamila dibawa Shalsabilla ke Batam atas izin dari Andrean dan Arsen. Dua anak itu semakin akrab dan akur. Jamila tidak lagi nakal, rajin belajar. Sedangkan Jay, masih menjadi pria pendiam yang jarang bicara.


Dia hanya banyak bicara jika berurusan dengan Jamila. Perjodohan mereka yang direncanakan sepertinya akan berlangsung dengan baik, melihat bagaimana mereka saling menjaga satu sama lain. Apalagi mereka berdua sudah diberitahu oleh Billa jika mereka besar nanti akan menikah.


Setelah Jamila tamat SMA, mereka akan dinikahkan. Tiga kakak kembarnya setuju saja dengan acara perjodohan itu, karena waktu mom mereka hidup, sudah mendengar perjodohan itu.


“Jay, Mila, kalian sudah siap?” terdengar teriakan Billa menggema dari lantai bawah.


“Iya, sebentar Ma!” Panggilan untuk Miss Billa pun juga sudah dirubah oleh Jamila menjadi Mama, sama seperti panggilan Jay pada Billa.


Jay dan Jamilla hampir bersamaan keluar dari kamar mereka, baju warna cream dengan hijab yang senada, Jay juga memakai baju warna yang sama.


“Wah, kalian memang cocok, lihat selera pakaian mereka juga sama Honey!” Billa menatap Jimy yang sudah berdiri di sampingnya.


“Iya, Alhamdulillah, itu bagus. Lalu, kapan istriku yang cantik ini juga memakai hijab?”


“Hm, nanti!” Billa memalingkan wajahnya. Entah kenapa, hatinya belum saja siap untuk berhijab, merasa belum cukup ilmu.


Akhirnya, mereka berempat pun menaiki mobil ke bandara Hang Nadim, menuju bandara Minangkabau.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...