Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Rumah Pohon


Irfan berjalan perlahan, antara yakin dan penasaran. Selangkah demi selangkah, akhirnya ia sampai jua, di depan batang pohon tunggal satu-satunya di sana, pohon tinggi itu rimbun dengan cabang besarnya. Ia berdiri tepat di depan batang pohon itu, terdiam dan melamun.


Kala itu...


“Hai, Roqa. Kenalkan, dia Irfan, mulai sekarang dia menjadi adikku, sama sepertimu.” ujar Wizza tersenyum memperkenalkan Irfan pada Roqa.


Roqa menatap Irfan sekilas, ia masih sibuk bermain tanah, membuat kue-kue tanah bersama adik keduanya.


“Duduklah, Tuan Muda. Apa kau mau membeli kue buatanku?” tawar Roqa kecil polos, mengajak Wizza bermain bersamanya.


“Ahahaha. Iya, ya.” Wizza yang berumur 11 tahun duduk bersama Irfan menjadi pembeli kue tanah buatan Roqa.


Inilah awal perkenalan Irfan dengan Roqa. Hari-hari selanjutnya, mereka sering bertemu. Ayah Roqa adalah salah satu pengawal kepercayaan Ayah Wizza. Makanya Roqa dan Wizza cukup akrab dari awal, karena sudah berkenalan.


Pertemanan itu tentu saja tak berjalan mulus selamanya, setelah ia dan ibunya masuk ke rumah Wizza. Roqa pun juga enggan berteman dengannya, tampak menghindar dan menjauh. Irfan yang terlanjur menaruh rasa padanya tak bisa menjauh, walaupun ia telah menekan perasaan itu dengan sangat kuat.


Hingga pada suatu hari, saat mereka sudah SMA, sedangkan Wizza sudah sibuk mulai belajar bisnis, membuat ia jarang bertemu dengan Roqa. Irfan menemui Roqa yang sedang menunggu Wizza di bawah pohon. Irfan tahu, jika Wizza tak bisa datang karena ada keperluan yang mendesak, jadi ia datang ke sana.


Saat melihat kedatangannya tentu saja Roqa terkesiap. “Kenapa kau yang datang kemari? Apa kau yang memberikan surat ini?” Roqa menunjukkan surat berwarna pink.


“Tidak.” Irfan menggeleng. “Surat itu ditulis oleh Kakak, itu pitanya dirajut berbentuk huruf W.” Ia memilih berjalan lebih dekat ke hadapan Roqa.


“Maaf, aku tahu, ini salah. Aku tak perlu jawaban dan aku tahu ... jika kau tak menyukaiku. Akan tetapi, hatiku masih saja keras, aku suka dan sangat mencintaimu, Roqa.”


Hening! Tak ada jawaban atau selaan. Cukup lama, hingga Irfan kembali berkata, “Maaf, anggap saja kau tak mendengarkan. Kedatanganku ke sini hanya ingin memberitahu mu, Kakak tidak bisa datang karena ada urusan mendadak. Jadi, aku mengabarimu. Mungkin sebentar lagi, Kakak akan menelfonmu jika ia sudah sampai. Ia harus ke luar negri, makanya tak sempat datang kemari. Maaf.” jelas Irfan. Lalu, ia berjalan pergi meninggalkan Roqa yang masih termangu.


Tak ada panggilan atau pun jawaban dari Roqa, hingga Irfan yang awalnya masih pelan berjalan, kini berjalan cepat.


••


Irfan menghela nafas berat, ia pejamkan matanya. Di bawah kakinya berpijak kini, dimana ia mengatakan perasaannya untuk pertama dan terakhir kalinya. Irfan berjongkok, menatap sebuah sekop telah terletak di sana.


“Kau sudah melihatnya, galilah tanah itu!” teriak Wizza yang berdiri lumayan jauh bersama Jondri.


Irfan menoleh sekilas, kemudian menggali gundukan tanah yang terlihat habis digali karena tanahnya masih terlihat baru, gembur tanpa rumput.


Setelah menggali cukup dalam, ia melihat sebuah kotak kecil, ia ambil kotak itu. Lalu, berdiam menatap pohon besar itu cukup lama, pohon yang terlihat masih sama seperti dulu.


Kepalanya terangkat mendongak ke atas, melihat rumah pohon di atasnya.


“Hei kau, kemarilah! Ayo, naik! Masa kalah sama aku dan adik perempuanku!” teriak Roqa. Semua anak-anak sudah naik, sedangkan Irfan merasa gemang dan takut untuk naik ke atas rumah pohon itu.


Wizza kembali turun. “Ayo, Kakak bantu, tidak apa-apa. Kamu pegang kakak erat-erat ya, jangan lihat ke bawah.” ucapnya, Irfan pun mengangguk patuh dan memeluk erat Wizza.


“Dasar jahat! Kenapa kau melemparku!” teriak Roqa yang sudah remaja dengan rambut panjang terurai nya. Kepalanya muncul dengan mata melotot.


“Oh, ada orang di atas, ya. Aku kirain gak ada.” jawab Irfan remaja santai.


“Pergilah dari sini. Sudah berapa kali aku katakan. Aku tak ingin lagi berteman denganmu. Kau itu penjahat, perebut kebahagian Tuan Muda. Pergi dari sini!” maki Roqa.


Irfan menghela nafas panjang, beberapa memori menari-nari dalam ingatannya. Ia sentuh kulit pohon itu. “Roqa, dari awal hingga detik ini, aku masih mencintaimu. Hanya kamu...” lirihnya pelan, lalu berbalik dan berjalan ke arah Wizza dan Jondri.


“Kau sudah mengambilnya? Ayo, kita kembali. Kita menginap saja di sini semalam, kita akan tinggal di rumah belakang.” ucap Wizza tersenyum.


Mereka pun sampai di rumah belakang. Rumah itu kini di huni oleh adik ketiga Jondri.


“Silahkan Tuan, saya sudah merapikan kamar tamu.”


“Terimakasih.”


Wizza dan Irfan tengah berdiri di balkon kamar yang menghadap ke arah kediaman Roqa dahulu. Jondri dan Roqa sejak dulu bertetangga dan sekolah di tempat yang sama. Ayah Jondri mantan tukang kebun, Ibunya mantan tukang cuci dirumah keluarga Van Hallen.


“Apakah kalian yakin satu kamar untuk berdua?” tanya Jondri lagi memastikan.


“Ya!”


“Baiklah, nikmati waktu kalian. Aku keluar dulu, sekalian menyiapkan makan malam untuk kalian.”


Wizza mengambil kotak yang sama dari dalam tasnya. “Apa kau tidak ingin membuka dan membacanya?” tanya Wizza memainkan kotaknya. Irfan menatap kotak yang sama, sangat mirip, ukiran dan warnanya.


“K-kakak-”


“Ssst! Ya, aku juga dapat, tentu saja aku yang terlebih dahulu menggali tanah itu. Dan aku mencocokkan nya dengan punyaku, jadi aku tidak salah ambil!” ucap Wizza.


“Apa kau ingin membacanya sendirian? Atau mau aku temani?” Wizza mengetuk-ngetuk jemarinya ke penyangga pagar balkon.


“Ak-aku ingin sendiri.” jawab Irfan.


“Baiklah, kalau begitu, aku mandi terlebih dahulu.” Wizza menepuk pundak Irfan. Lalu, berlalu pergi.


Irfan memilih duduk di kursi yang tersedia di balkon, mengambil mainan kalung yang selalu ia pakai. Klik! Terdengar suara bunyi terbuka dari kotak kecil itu.


Perlahan ia ambil salah satu surat di kotak kecil itu.


Sejak engkau hadir menyapa, terangkai kata penuh makna, menghiasi indahnya karya Tuhan yang memesona. Hilang rasa bimbang, perlahan menjadi sebuah keyakinan. Aku terkesima, di bilik hati kecilku, tertanam kau dalam pengayoman.


Mungkinkah selembar daun yang kecil dapat menutupi bumi yang luas ini? Lihat, daun ini bahkan bisa layu dan kering. Akan tetapi, jika daun ini menutupi mataku, mungkin saja aku tak akan bisa lagi melihat bumi yang luas ini, aku hanya akan melihat sebuah daun.


Air hujan yang menyirami pohon ini jatuh membulir begitu banyak, ia takkan pernah sanggup menghanyutkan sebuah rumah kokoh, kecuali kalau air itu melebihi kapasitasnya jatuh. Bukankah begitu?


Sama halnya dengan diriku, semuanya itu takkan sanggup mengakiri kisah kita, kecuali kita membiarkan semua itu masuk ke dalam pintu gerbang hati terdalam.


Irfan, kumencintaimu.


^^^Roqa^^^


Begitulah awal pembuka surat pertama yang ia baca di paling atas.