Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Naik Buayan


“Ya udah, ayo duduk di taman kecil itu dulu, untuk memakan makanan ini!” ajak Sakinah.


“Ayo!”


Mereka berdua duduk di bangku taman yang berhiaskan bunga-bunga cantik dengan lampu berwarna-warni yang berkerlip.


“Kamu mau Sayang, enak loh! Aku suapi, ya!” Sakinah menyendok makanannya, membawa ke arah mulut Andrean. “Ayo, buka mulutnya!” ucap Sakinah.


Andrean membuka mulutnya patuh, memakan makanan yang disuapkan Sakinah sambil memandang wajah Istrinya.


“Hm, enak 'kan?” tanya Sakinah.


“Iya, apalagi disuapi istri begini, duduk berdua dengan menatap wajahmu, apapun benda yang aku kunyah, akan terasa sangat enak!” jawab Andrean.


“Dasar, tukang rayu ulung!” Sakinah mencebikkan bibirnya. Andrean hanya tersenyum kecil mendengarnya.


Ini bukan hanya sekedar rayuan, tetapi benar-benar seperti itulah isi hatinya sekarang.


“Masih mau?” tanya Sakinah saat melihat Andrean menatapnya begitu intens.


“Ok!” Andrean membuka mulutnya dan mengunyah makanan itu perlahan, pandangan matanya tak lepas dari Sakinah yang lahap memakan jajanan.


“Masih mau nambah?!” tanya Andrean saat melihat makanan itu sudah habis.


“Tidak, ayo, kita naik buayan kaleng!” ajak Sakinah menatap ayunan besar itu dengan menunjukkannya.


Andrean terdiam sesaat, menatap ayunan besar ledendaris itu, dengan julukan ayunan cinta pertama, di pasar malam ini.


“Kenapa? Kamu takut, ya, saat naik ketinggian?” tanya Sakinah.


“Tidak! Ayo, kita ke sana!” Andrean menggenggam tangan Sakinah.


“Tetapi... saat naik itu, aku ingin meminta sesuatu padamu nanti, ya!” kata Andrean menatap Sakinah dengan tersenyum lembut.


“Baiklah!” jawab Sakinah tersenyum manis.


Sepasang suami istri itu jalan bergandengan tangan ke arah ayunan besar itu. Petugas ayunan pun segera membantu Andrean dan Sakinah, lalu menghidupkan mesin diesel ayunan itu.


Saat hampir di puncak paling atas, Andrean memeluk Sakinah, lalu berkata. “Sayang, menurut legendanya, jika kita berciuman diatas puncaknya, kita akan bersatu selamanya. Maukah kau selamanya bersamaku?” Andrean menatap lekat istrinya, menyentuh dagu Sakinah.


“Aku sungguh tidak percaya dengan hal seperti itu! Mitos kok di percaya! Jodoh, rezki, maut itu adalah milik Allah! Tidak ada yang bisa memastikannya!” jawab Sakinah, membuat raut wajah Andrean sedikit sendu.


“Namun, jika hanya sebuah ciuman romantis diatas puncaknya ayunan ini, kenapa aku tidak mau? Bukankah ini moment saat berkencan berdua bersama suamiku tercinta.” Sakinah tersenyum, kemudian langsung mengecup bibir Andrean.


Kamera, Drone! Kembang api! Menjadi saksi meriah menyambut mereka sebagai persiapan dadakan yang dipersiapkan oleh David.


Ciuman hangat nan mesra pun mereka selesaikan saat buayan kaleng itu kembali turun. Mereka turun dari buayan itu, berjalan bergandengan tangan.


Sepanjang jalan, Andrean selalu tersenyum, sungguh indah berkencan saat telah menikah. Ia merasakan kebahagiaan yang membuncah saat bersama Sakinah dari pada wanita-wanita yang ia pacari dulu.


Setelah bermain sepuasnya di pasar malam menaiki wahana-wahana lainnya, Sakinah dan Andrean pun pulang.


“Sayang, kok berhenti di sini? Bukannya kita mau pulang?” tanya Sakinah menatap heran, karena mereka berhenti di depan hotel bintang lima yang tak jauh dari pasar malam tadi.


Manager Hotel menyambut Andrean, langsung mengiring Andrean dan Sakinah menaiki Lift VIP khusus.


Andrean mengangguk dan mengibaskan tangannya. Manager dan David pun juga beranjak pergi dari sana. Dua pengawal berdiri diluar kamar Andrean dan Sakinah berjaga-jaga. Sedangkan David masuk juga ke kamarnya yang saling berhadapan dengan kamar atasannya itu. Lalu, Manager hotel kembali melakukan kegiatannya.


“Sayang, kenapa menginap di hotel?” tanya Sakinah sambil membuka peniti hijabnya.


“Karena ini!” tunjuk Andrean ke bawah, tepat diantara pahanya. “Dia sudah tak tahan dan tak bisa dikendalikan sejak tadi!” lanjutnya lagi dengan tersenyum mesum.


Sakinah tersenyum kecil sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


“Ya sudah, bersihkan diri dulu sana!” pinta Sakinah, ia masih sibuk membuka perhiasan dan pernak pernik pakaiannya.


“Ok. Tetapi setelah aku membantu istriku melepas bajunya, sepertinya dirinya kesusahan dengan dress ini.” jawab Andrean tersenyum penuh makna.


Memang benar, dress yang dipakai Sakinah agak susah dilepaskan, Sakinah memang perlu bantuan, namun Andrean memiliki niat disebalik bantuannya.


Ia buka resleting dipunggung sakinah perlahan, kemudian ia mendekatkan bibirnya, menyapu punggung itu dengan bibirnya yang sexsy. Perlahan namun pasti tangannya mulai meraba ke lengan, membantu melepaskan dress itu sambil mencium lengan, pundak dan tengkuk Sakinah.


Ia genggam tangan Sakinah kemudian mengecupnya. Meletakkan tangan istrinya di dadanya. Sakinah perlahan melepaskan jas yang dipakainya, baju kemeja di dalamnya dan celana panjang Andrean.


Kini, hanya tertinggal celana pendek yang dipakai Andrean, begitu pula Sakinah juga hanya memakai pakaian dalam penutup dada dan bagian bawahnya.


Andrean menggendong Sakinah masuk ke dalam kamar mandi. Menurunkannya tepat di shower, kemudian ia hidupkan shower.


Andrean menggosok tubuh Sakinah dengan sabun cair, begitu pula Sakinah menggosokkan tubuh Andrean malu-malu.


Tak lama, Andrean membilas bersih tubuh Sakinah dan dirinya. Ia tatap Sakinah dalam. “Sayang, aku sudah tak tahan!” ucapnya dengan suara berat. Kemudian Andrean mengecup bibir Sakinah dengan berhasraat.


Sakinah perlahan mendorong dada Andrean, ia juga sedang mengontrol hasratnya. “Ayo, kita keranjang. Tidak baik melakukan di kamar mandi, dekat dengan tempat buang kotoran!” ucap Sakinah dengan suara mendesah.


Tanpa menjawab, Andrean langsung menggendong tubuh istrinya keluar, menarik handuk segera, untuk mengeringkan tubuh istrinya.


Sambil mengeringkan rambut dan tubuh mereka, Andrean menciumi Sakinah tiada henti, hingga ia benar-benar tak bisa menahan lagi. Ia mengangkat tubuh Sakinah mendadak, membaringkannya di atas ranjang, melakukan persiapan kuda-kuda, bersiap untuk bertempur.


“Ah!”


Malam panjang nan indah telah mereka habiskan berdua dengan peluh dan gairah yang membuncah.


~~


Cuit! Cuit! Suara alarm Sakinah yang telah berbunyi sejak tadi memekakkan, tidak membuat sepasang sejoli itu terbangun sedikit pun. Ya, karena gairah yang membara Andrean dan Sakinah membelah buana sampai jam 3 subuh. Entah berapa kali permainan spektakuler dilakukan oleh mereka berdua, hingga begitu kelelahan.


Jam 10 pagi barulah mereka berdua terbangun.


Seperti sepasang pengantin baru, bukannya mandi dan bersiap-siap untuk bekerja, Andrean malah meminta jatahnya kembali pada Sakinah. Si adik kecilnya terbangun, tidak mau tidur jika tak dinina bobokan oleh istrinya terlebih dahulu.


Dan akhirnya, berakhirlah mereka dengan pergulatan panas kembali.


Jam 1 siang, Andrean dan Sakinah telah mandi dan rapi, David membawa pelayan hotel untuk membawakan makanan untuk majikannya di dalam kamar.


“Tuan Muda, jam 2 nanti kita harus bertemu klien penting.” jelas David.


“Hm.” jawab Andrean, ia sedang makan dan tentu saja minta disuapi oleh Sakinah.


“Lalu...” David berhenti sejenak, Andrean menatapnya. “Sepertinya Jonathan memiliki niat buruk, dia selalu mendekati Hans Ares.” Andrean berhenti mengunyah saat mendengar Asisten pribadi anaknya akan mendapatkan masalah.