Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Perdebatan


Hari ini Sekar mengadakan rapat. Pemungutan suara untuk pemilihan CEO baru pun mulai pecah, banyak yang tidak menyetujui jika Andrean yang manjadi pemimpin baru di perusahaan.


“Bagaimana mungkin kami bisa mempercayai dia menjadi CEO di perusahaan Antaman Wizgold ini? Sedangkan menjabat menjadi Manager Personalia di Wilzplants Groups dia sering tidak hadir, bermain-main, tidak bertanggung jawab pada jabatannya!”


“Pemimpin perusahaan itu bukan menjadi ketua kelas di kelas, ini banyak resiko, uang, saham dan banyak karyawan yang menggantungkan nasibnya di sini!”


“Ya, itu benar, bagaimana keputusan yang tidak bijak ini diambil secara sepihak!”


“Lebih baik putra sulungmu, Dedrick menjalankan perusahaan ini, aku pun lebih setuju, dari pada putra bungsumu yang kelakuannya kita semua sudah tahu.” sambung seseorang yang sudah sangat dekat dengan Sekar dan Wizza, siapalagi kalau bukan Ayah Calista.


Perdebatan semakin sengit, Wizza dan Sekar pun tak bisa lagi melawan kritikan, sedangkan Andrean sedari tadi hanya diam saja mendengar perdebatan itu.


Jujur, ia tak peduli dengan jabatan CEO, ia tak butuh, tetapi mendengar orang-orang meragukan kemampuannya membuat hatinya berbisik, melihat Sekar terdiam membuat dirinya tergelitik.


Ia menepuk meja dihadapannya, cukup keras dan kuat, ia berdiri dengan jas rapinya, tatapannya serius, membuat semua orang terdiam dan menatapnya.


“Terimakasih atas saran dan kritik Ibu Bapak, dari sini saya memahami begitu banyak kekurangan saya.”


“Hari ini, saya berjanji akan melakukan tugas saya sebaik mungkin, berikan saya kesempatan kali ini. Jika saya gagal dan tak menjalankan amanat Ibu Bapak kedepannya, saya akan mengundurkan diri dari jabatan yang akan saya bawa.” lanjut Andrean.


Semua orang terdiam, masih terpana, terlihat jelas sekali ini, tatapan dan ucapan tegas Andrean pada mereka.


Mereka tampak berbisik, berumbuk. Cukup lama hingga mereka memutuskan untuk memberikan kesempatan pada Andrean, kecuali 3 orang dari 10 orang pemegang saham tidak setuju dan memilih mundur.


Andrean tak memaksa mereka bertiga, namun cukup senang. Ya, 3 dari 7 orang yang setuju lainnya adalah Dedrick, Sekar dan Wizza, keluarga kandungnya sendiri. Lalu, pemegang saham lainnya salah satunya adalah Ayah Calista.


“Terimakasih atas kesempatan yang telah diberikan pada saya. Mulai sekarang saya akan berusaha jauh lebih baik.” tegas Andrean.


Mereka saling berjabat tangan, kecuali tiga orang yang tak setuju itu. Mereka keluar dengan wajah masam.


Dedrick tersenyum bangga melihat Andrean menerima keputusan itu dengan tekatnya sendiri, ia menepuk pundak adiknya itu.


“Belajarlah memimpin perusahaan dengan baik dan bijak, memakmurkan diri sendiri dan karyawan, buatlah produk berkualitas bagus agar konsumen bahagia memiliki produk itu.” Dedrick menepuk-nepuk pelan bahu Andrean.


“Ibarat perahu yang akan berlayar, tentu saja ada riak yang menghadang, ada gelombang yang akan menghempas, berpandai-pandailah dalam mengemudinya. Selamat Putraku, Mama percayakan ini semua padamu. Jangan kecewakan Mama dan keluarga kecilmu.” Sekar memeluk Andrean.


“Tatalah niatmu, penuhi hak dan kewajibanmu sebagai pemimpin. Papa percaya padamu.” Perkataan yang terdengar singkat dan satu kali tepukan di pundak Andrean dari Wizza. Dukungan yang sudah sangat lama tak ia rasakan lagi.


Dulu, sudah sangat lama sekali. Biasanya hanya pujian dan dukungan untuk Dedrick saja dari Papanya.


_________


Irfan menautkan kedua alisnya saat menerima laporan jika Sekar memundurkan diri dan menyerahkan kepemimpinan pada Andrean yang terkenal badboy.


“Apa mereka bodoh atau malu merasa kalah saing denganku? Ahahahahaha.” Irfan tertawa senang.


“Akhirnya kekalahan kalian dimulai.” gumamnya terkekeh.


Ia menghubungi asistennya. “Sekarang kalian sebarluaskan video itu, bayar orang-orang untuk menyerang dimedia. Suara netizen akan sangat berpengaruh. Lakukan sebaik mungkin!” perintahnya pada bawahannya ditelepon.


‘Baik, Tuan. Akan saya kerjakan.’


“Hahahahaha, nikmatilah awal kekalahan kalian, rasakanlah kesenangan terakir kalian untuk saat ini sebelum kehancuran kalian datang.”


Setelah menelfon, Irfan bertambah sumringah, salah satu dari 3 orang yang mundur dari saham Antaman Wizgold bergabung dengannya. Pebisnis ini memberikan modal saham cukup besar dari yang lain. Apalagi beberapa rancangan sebelumnya juga ia serahkan pada Irfan.


Dia tersenyum licik dengan rencana buruknya.


_________


Kini, Pria itu telah menerima beberapa berkas yang akan ia pelajari dengan Andrean. Seorang Sekretaris paruh baya dengan kacamata besarnya memberikan laptop pada Andrean, ia sebelumnya adalah Sekretaris kepercayaan Sekar.


“Tuan Muda, semua berkas telah saya bawa kemari. Ini beberapa proposal dan rencana rancangan yang lama dan terbaru dari kerangka kalung. Lalu, ini biaya anggaran dan bahan.” jelas Sekretaris itu.


Andrean menatapnya cukup lama, menggeser kursor laptop, melihatnya dengan rinci.


“Kalau ini apa?” tanya Andrean.


“Ini rencana kerangka untuk gelang dan cincin, Tuan Muda.”


“Oooh.” Andrean terus menatap layar monitor laptop.


“Baiklah, saya akan memanggil Anda nanti.”


Sekretaris itu mengangguk dan berjalan keluar ke ruangannya yang berada di luar ruangan CEO.


“David, salin semua data ini ke laptop baru. Aku akan memeriksanya nanti di rumah.”


“Akan saya kerjakan, Tuan Muda.”


Andrean tak lagi menulis hal penting di dalam laptopnya yang telah di retas oleh Arsen sejak ia menyadarinya. Ia telah menyalin semua hal penting ke dalam laptop barunya.


Kemudian ia mulai memeriksa beberapa map yang sudah tersusun menumpuk di atas meja.


Ya, Andrean sebenarnya salah satu pria yang genius. Untuk membaca tumpukan berkas sebanyak itu tak memakan waktu yang lama baginya, ia bahkan sudah mencoret-coret kertas tentang rencananya, juga menandai beberapa berkas yang tak cocok menurutnya.


Jadi, sangat wajar ia memiliki putra-putra yang genius, ia adalah keturunan keluarga genius.


Warna jingga dilangit yang sangat indah tak dapat merayu keseriusan Andrean, hingga gelap malam dan sinar bintang datang menyapa kesibukannya. Tepatnya saat ini sudah jam 11 malam, ia masih berkutat dengan laptopnya. Sedangkan David masih setia menemaninya merapikan berkas yang tadi sempat berantakan karena mereka otak-atik sejak tadi.


“Tuan Muda, jam sudah menunjukkan jam 11 malam, apakah Anda akan tidur di sini? Jika iya, saya akan mempersiapkan tempat istirahat untuk Anda.”


Andrean terdiam sebentar, melirik jam di tangan. Menimbang-nimbang.


“Siapkanlah.” jawabnya kemudian.


2 jam kemudian.


1 jam kemudian.


Denting jam terus berdetak, jarumnya terus berputar, bahkan tanpa terasa sudah menunjukkan jam 3 dini hari, rasa kantuk pun sudah mulai menari dipelupuk mata Andrean.


Andrean masih saja sibuk walaupun ia sering menguap sejak tadi, David sudah terkantuk-kantuk membantunya.


“Mari kita istirahat.” ucapnya pada David.


Mereka berdua pun mematikan lampu ruangan, menuju ruangan private yang masih berada di dalam ruangan CEO itu.


Andrean membuka baju dan sepatunya, langsung tidur di ranjang yang sudah dirapikan David tadi, sedangkan David memilih tidur di sofa empuk yang berada di hadapan ranjang.


...***...