Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Jalan-jalan


Hari ini, Andrean dan Arsen pergi bersama Xander Pim dan N7K204 ke luar negri, tepatnya ke negara Inggris.


Perusahaan Antaman Wizgold diserahkan pada David dan Ar3s tentu saja pada Hans dan Jimi. Pagi-pagi sekali, Sakinah mengantar mereka ke bandara bersama Arhen dan Ardhen.


“Apa setelah kita besar nanti, kita juga akan sering berpergian?” tanya Ardhen pada Arhen.


“Diantara kita bertiga harus ada yang menjaga Mom! Jadi, kita harus pergi bergantian dong!” jawab Arhen.


“Kita harus menjadi kaya raya, sukses dan punya segalanya! Kemudian meminta Papa berhenti bekerja! Papa bisa menemani Mom!” lanjutnya lagi.


“Berarti aku harus bersungguh-sungguh dengan toko kueku! Kakak juga harus menjadi artis internasional!” ucap Ardhen kemudian.


“Hahahha. Tentu!”


Dua anak kembar itu berbincang-bincang, Sakinah hanya tersenyum, mengelus dua kepala anaknya yang tertawa riang. Beberapa saat yang lalu, Andrean meminta untuk menambah anak, mereka melakukan konsultasi ke dokter.


Tak ada penyakit apapun, mereka berdua subur. Sakinah menjadi dilema kembali, dulu saat menikah dengan Ardi juga seperti itu, bahkan sampai ia menikah 10 tahun lamanya.


‘Apakah ini hanya sebuah keberuntungan? Aku diperkosa, hanya melakukannya sekali. Sekarang masih dengan pria yang sama, aku tidak kunjung hamil.’ Sakinah bergumam.


Ya, ia mulai khawatir dengan umurnya, sekarang ia sudah berumur 37 tahun, sedangkan suaminya baru masuk 32 tahun. Umur 37 tahun termasuk tua dan sudah mulai susah untuk program hamil. Kekuatan fisik sudah mulai lemah.


‘Ya Allah, hamba berserah diri pada Engkau, tempat aku memohon dan meminta. Ya Allah, Engkau yang Maha Mengetahui apa yang tak pernahku ketahui, Engkau Maha Pemberi, memberi sesuatu yang lebih indah dari pada keinginanku.’ Sakinah melantunkan do'a dalam hatinya.


“Mom, kok diam saja dari tadi? Mom khawatir ya? Papa sama Abang pasti akan baik-baik saja.” ucap Ardhen.


“Iya. Apa kita jadi berhenti dan membeli pie strawberry?” jawab Sakinah bertanya dengan senyuman manisnya.


“Hu'um! Kakak suka strawberry!” jawab Arhen antusias.


“Ayo!” ajak Sakinah.


Mereka bergegas membeli pie strawberry dan beberapa buah strawberry segar, serta buah lainnya. Setelah itu, mereka kembali naik ke dalam mobil dan menuju ke mansion.


Tak lama, mereka sampai di mansion.


Clara dan Nani menghidangkan pie strawberry dan potongan buah segar lainnya, serta brownies coklat buatan Ardhen di atas meja ruang televisi.


Arhen dan Ardhen menonton film Tom and Jerry dengan tertawa sambil makan cemilan. Kepala Pelayan serta Clara duduk diujung sana untuk berjaga-jaga.


“Sayang, apa kalian ingin memiliki adik?” tanya Sakinah.


“Serius?! Apa Mom hamil?” Ardhen langsung meraba perut datar Sakinah.


“Heh! Pletak!” Arhen menggentik kening Ardhen. “Bodoh, mana ada adik di dalam perut yang datar seperti itu. Kalau ada adik perut Mom sudah besar, seperti ini!” Arhen memperagakan gerakan Ibu Hamil dengan perut besar.


“Tadi itu, Mom nanya, apa kita mau adik tidak!” tutur Arhen menjelaskan.


“Oh, aku kira ada adiknya. Hehehehe.” ucap Ardhen cengengesan.


“Apa kalian mau adik? Maksud Mom, apa kalian suka dengan adik?” tanya Sakinah lagi.


“Kalo Adik sih suka, jadi Adiknya nanti bisa panggil adik dengan Akang atau Kanda. Hehehe!”


“Heh, Kang Mas! Hahahaha! Seleramu aneh Dek!”


“Ish, bagus tau! Panggilan Akang itu terdengar lembut.” bela Ardhen.


“Hahahha! Kalau Kakak suka adik juga Mom, apalagi kalau adiknya cewek. Jadi bisa gendong dia setiap saat, kayak Papa gendong Mom dan kami. Kakak bisa sisir rambut panjang adik, Kakak bisa belikan baju banyak, pita rambut, tas sepatu. Ah ... pasti menyenangkan!”


“Iya, iya, pasti menyenangkan kalau adik cewek. Akang bisa bikinkan kue dan cemilan untuk adik. Cewek 'kan biasanya suka coklat dan manis-manis. Hm....”


Dua anak kecil itu berandai-andai, membuat Sakinah tersenyum kecil. “Kalian berdua do'akan ya, supaya Mom segera hamil, kalian bisa gendong adiknya.


“Ya Allah, ampunilah dosa hamba dan kedua orang tua hamba beserta keluarga besar dan keluarga muslim dan muslimat. Ya Allah, kami memohon, kabulkanlah do'a kami, agar Mom bisa hamil dan melahirkan adik perempuan yang cantik dan menggemaskan untuk kami. Kami sangat menantikannya.” Dua anak kembar itu berdo'a dengan suara keras.


“Aamiin.” Clara dan Sakinah sama-sama mengucapkan aamiin.


“Sst, Tuan Muda berdo'a apa?” tanya Kepala Pelayan yang tak mengerti karena mereka berbahasa Indonesia.


“Aamiin.” ucap Kepala Pelayan menyusul setelah mengetahui doa para Tuan Muda.


~~


Arsen dan Andrean tiba di Inggris.


Sebelum memulai aktivitas, Andrean mengajak Arsen jalan-jalan terlebih dahulu, membeli oleh-oleh dan beberapa barang-barang penting. Kemudian meminta pelayan memasukkan barang-barang dan menyusunnya di jet pribadi, seolah mereka akan langsung terbang saat selesai bereaksi.


Mereka berdua menghabiskan waktu selama tiga hari untuk jalan-jalan, kemudian menetap di hotel bintang lima dipusat kota dengan pelayan presidential suite dan deluxe room.


“Pa? Kenapa kita memesan empat kamar? Atas namaku dan Papa? Lalu memesan dua kamar untuk dua pengawal? Apakah itu tidak boros?”


“Wiiih, kau orang kaya pelit rupanya, Putraku!” celetuk Andrean.


“Ish! Bukan begitu, Pa. Tetapi, kita hanya tidur satu kamar juga, mereka berdua juga lebih sering berjaga di luar kamar kita dari pada mengisi kamar mereka. Seharusnya cukup sewa dua kamar. Satu untuk kita, satu untuk mereka.” jelas Arsen.


“Hari ini kita mulai rencananya!” bisik Andrean. Mata Arsen membulat, kemudian terbit senyum devilnya.


Wajah mereka sangatlah mirip sekarang, walaupun rambut dan matanya berbeda, tetapi aura devilnya sama-sama kuat!


“Kamu sudah siap 'kan, Putraku?!” tantang Andrean.


“Tentu saja, Pa!” jawab Arsen bersemangat.


“Sekarang, ayo, foto dulu.” Andrean meletakkan kamera. Lalu mereka berfoto dengan gaya tertidur pulas. Setelahnya, mereka meneliti setiap titik CCTV. Menempel foto itu di depan kamera CCTV. Lalu mereka beraksi!


Andrean dan Arsen menghidupkan laptop, lalu mengotak atiknya.


“Hei, kalian berdua kemarilah!” Dua pengawal itu mendekat. “Kalian berdua masuklah ke kamar masing-masing! Letakkan laptop ini di sana, hubungi aku jika sudah sampai! Usahakan wajah kalian tak terlihat oleh kamera CCTV!” perintah Andrean.


“Baik, Tuan Muda.” Mereka pun melepaskan jasnya, memakai masker, topi dan sarung tangan. Sebelum meletakkan laptop dimeja, mereka menghapusnya dengan tisu khusus agar sidik jari tak terdeteksi.


“Sekarang tugasmu, Nak! Kamu antar laptop ini ke kamar satu lagi!” pintanya pada Arsen.


“Siap, Pa!”


Setelah itu Andrean menelfon Alex yang berada di Amerika. Meminta bantuan pria itu untuk melakukan Hacker besar-besaran diberbagai tempat. Tentu, itu sesuatu yang cukup mudah bagi Alex, jika hanya sebagai usil untuk mengangganggu jaringan saja.


Alex memiliki beberapa orang teman yang memang jahil dan suka menjadi hacker!


“Sekarang, bersiaplah, enter!”


Dua pengawal, Arsen, Alex dan beberapa temannya dibeda tempat menekan enter. Tak lama jaringan pun bermasalah.


Andrean dan Arsen langsung mengirim beberapa video dijaring sosial, potongan rekaman, yang jelas jika orang yang bersangkutan pasti akan tahu jika itu dirinya. Kemudian beberapa data kejahatan terkirim ke petugas kepolisian.


Kemudian meretas data akun perusahaan Puloh dan data penting Jonathan Rhys.


“Selesai, ayo, bersiap pergi!” ucap Andrean pada Arsen dan dua pengawalnya.


“Ok, Pa!”


“Baik, Tuan Muda!”


“Alex, aku serahkan semuanya padamu! Kami harus segera cabut!” Andrean memberitahu Alex.


‘Tenang saja! Aku akan menghapus semua rekaman jejaknya selama di Inggris. Aku sudah mendapatkan tempat-tempat yang kau kunjungi dan hotel terakhir yang kau tempati!’ balas Alex dari Amerika.


Mereka berempat keluar meninggalkan 3 laptop yang masih menyala dan louding. Lalu mengambil foto yang ditempel dikamera CCTV kamar Andrean tadi.


Memberikan kunci kamar pada resepsionis dan uang tips.


“Nona cantik, hotel ini bagus 'kan? Aku suka, tolong jaga privasi kami ya.” Andrean tersenyum menggoda, kemudian mengeluarkan banyak lembaran uang.


“Tentu saja, Tuan! Terimakasih, silahkan datang kembali!” ucapnya ramah dengan tatapan terpesona.


“Cih!” Arsen mendengus, ayahnya memang sangat bisa menaklukkan wanita.