Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Bertengkar


“Ohhh...”


“Iya.”


Mereka akhirnya sholat subuh berjamaah. Setelah Sholat, Arsen berpamitan pada dua adiknya dan kelompok Sudin, ia ingin berbincang dengan Hasan.


“Ok, kami tunggu di sini, ya.” jawab Sudin dan lainnya.


Arsen dan Hasan pergi ke arah lapangan bola kaki, cukup jauh dari tempat kelompok Sudin, namun masih bisa terlihat.


“Aku setuju jadi admin Arkiller Rows for Indonesian Palace. Aku harus gimana lagi nih?” tanya Hasan setelah mereka memilih duduk di rumputan hijau itu.


“Udah isi data dan tanda tangan kontrak?” tanya Arsen.


“Udah, nih, lihat.” Hasan menunjukkan notifikasi sistem di dalam game.


“Ok, wait. Aku bantu Abang!” sahut Arsen, kemudian ia mengeluarkan hp canggihnya yang berlogo buah tergigit.


Entah apa yang dipencet Arsen, sedetik itu juga Hasan langsung mendapatkan notifikasi dari sistem. “ Waaaah! Akhirnya, aku jadi admin Arkiller Rows for Indonesian Palace!” serunya memeluk Arsen erat.


Arsen tersenyum. “Kau hebat sekali. Pasti levelmu sudah tinggi banget, ya. Apa jangan-jangan, kamu admin pusat?” tanya Hasan menatap Arsen.


“Kenapa Abang berpikir aku admin pusat?” tanya Arsen.


“Ya ... karena kau bisa membantuku menjadi admin Arkiller Rows lah! Gak mungkin kalo level kamu rendah bisa bantu aku.” tutur Hasan.


Arsen menunjukkan hp satunya lagi dengan logo mi. “Level rendah kok.” jawabnya kemudian. Arsen memang main game Arbluefire sekali-kali dengan akun kecil untuk mengecek sistem di game.


“Yaelaaah! Ini 'kan di hape kamu yang ini. Di hape buah bergigit itu pasti udah tinggi levelnya.” kekeh Hasan.


“Nih, hp ini gak ada game sama sekali.” Arsen menggeser kursor, memperlihatkan semua aplikasinya di hp itu.”


“Loh? Tadi kamu pakai hape ini bantu aku jadi admin.” tegas Hasan.


“Karena aku pemilik game ini.” ucap Arsen.


“Hahhahaha! Aduh Dik, kalau menghalu jangan terlalu tinggi!” Hasan terkekeh tidak percaya.


“Ya sudah, kalau Abang tidak percaya.” Arsen menyimpan kedua hpnya. Begitu pula dengan Hasan tak peduli, ia masih yakin dengan pendiriannya, kalau Arsen punya level tinggi dan bukan pemilik game.


“Eh, kau marah Bocah?” Hasan menarik tangan Arsen yang memilih berdiri. Anak lelaki itu diam saja dengan tatapan dingin.


“Bu-”


“Woy!” Sebelum terdengar jawaban dan pertanyaan Hasan selanjutnya, beberapa orang telah datang menghampiri mereka berdua.


Mereka adalah Erik, Edi dengan beberapa temannya. Arsen melihat teman Edi, pria yang waktu itu ia biarkan menang main bola dari Hasan. Tiba-tiba Arsen menjadi jengkel dan menyesal membiarkan gerombolan jahat ini menjadi pemenang. Dia kira waktu itu, kelompok mereka baik, rupanya, kelompok Hasan lah yang sering di bully dan dijahati.


“Iyo ang kandak an Aden ka adiak den?!” tanya Edi menatap Hasan tajam. (Benar, kau berkata pada adikku, kau memandangku?)


“Lawak, adiak ang yo bana pangadu jo pa adu domba! Antah bilo Aden mengecek mode tu. Adiak ang nan mulai cari gara-gara.” (Lucu, adikmu pengadu dan suka adu domba. Entah kapan aku bicara seperti itu. Dia yang memulai cari masalah.).


“Ah, banyak gaya ang leh!” sorak Edi. (Ah, banyak gayamu!)


“Paja tu?” tanya Edi pada Erik menunjuk Arsen. (Dia)


“Lambuik paja baduo ko sanak, santuang Jo kaki, libeh tang mariah nyo, bia ndak nyo tau sia awak!” Edi berucap dengan berkacak pinggang. (Hajar mereka berdua teman, tendang dan pukul, biar mereka tau siapa kita!)


Arsen yang mengerti bahasa daerah tapi tidak lancar mengatakannya, menatap tajam Edi dan kelompoknya. Saat Hasan hendak maju, Arsen merentangkan sebelah tangannya untuk menghentikan aksi Hasan.


“Cih, gak usah buang-buang tenaga sama kumpulan orang bodoh, Bang.” ucap Arsen.


Arsen memasukkan tangannya di kantong celana, mencari permen mahal yang berharga jutaan, ia membuka bungkusnya dan meludahi permen itu.


“Jan banyak gaya ang! Makan gulo-gulo pakai maludah- Akkh! Uhuk! Uhuk!” Belum sampai Edi mengumpat mereka sudah batuk-batuk lalu pingsan. (Gak usah banyak gaya, makan permen aja meludah-)


“Ayo, pergi dari sini, Bang!” Arsen menarik tangan Hasan yang berdiri membeku.


“Ta-tadi itu apa?” tanya Hasan masih kaku, ia sedang ditarik paksa oleh Arsen agar segera pergi.


Erik yang tidak terkena ledakan karena ia jauh berdiri, langsung menangis dan berlari pulang, mengadu pada ibunya.


“Arhen, Ardhen, kenapa lapangan itu berasap, ya? Ayo, kita ke sana!” ajak Sudin melihat kumpulan asap.


Erik mengayuh sepedanya kencang. Saat sampai di rumah ia menangis dan mengadu.


“Apo? Anak sia nan bagak manggaduah anak den?!” pekik Tek Sariman. (Apa? Siapa yang berani mengganggu anakku?)


Tek Sariman dan Erik membawa motornya kelapangan, di sana terlihat Edi dan lainnya pingsan. Tek Sariman berteriak lantang.


“Tolooooooong! Anak den mati!” teriaknya, padahal anaknya pingsan.


Arhen, Ardhen yang baru juga sampai dengan kelompok Sudin menatap ke arah Tek Sariman dan beberapa remaja yang pingsan.


“Mak, tu kelompok nyo a!” tunjuk Erik pada Arhen dan Ardhen. (Mak, itu kelompok mereka)


“Kalera!!! (Bahasa umpatan, penyakit kolera) umpat Tek Sariman, ia langsung memukul dan menjewer Arhen dan Ardhen.


“Agung, capek lah malapor ka Ustadzah Ruksha!” pinta Sudin. “Tek, apo nan tajadi? Paja baduo ko jo kami sajak tadi.” Sudin membela Arhen dan Ardhen. (Agung, cepat melapor pada Ustadzah Ruksha. Tek, apa yang terjadi? Mereka berdua bersama kami sejak tadi)


“Apo nan kalian tahu, ma nyo surang lai? Nyo jo Hasan Adiak Hanum tadi?” Tek Sariman masih menjewer kedua anak laki-laki itu sampai telinganya memerah. (Apa yang kalian tahu, dimana satu lagi? Dia tadi bersama Hasan, adiknya Hanum)


“Apo ko bahas-bahas adiak den?” tanya Hanum tak kalah ketus. Ia baru sampai karena melihat gumpalan asap tebal di lapangan. (Ada apa bahas-bahas adikku)


Terjadilah pertengkaran panjang yang memalukan antara Hanum dan Tek Sariman yang tak layak di tonton oleh anak di bawah umur. Semua orang tau, ciri khas Tek Sariman jika bertengkar dengan siapapun akan membuka celana dan mengeluarkan perkataan yang menjijikan.


“Cuih! Jagan den. Haram manyalero! Kau paragoan se lah kalaki kau!” (Meludah. Aku jijik. Tak berselara sedikit pun, kau tunjukkan saja pada suamimu!)


Sudin menarik Arhen dan Ardhen, lalu mereka semua kabur dari gencaran peraduan mulut dua emak super pedes itu. Akan tetapi, perdebatan itu tak berlangsung lama, karena beberapa ibu-ibu lainnya datang dan menghentikan.


“Astagfirullah Tek!” Bu RT, Ibu Shalsabilla pun hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Tek Sariman.


“Ada apa ini, Bu? Ayo, kita bermusyawarah, kita selesaikan ini dengan kepala dingin.”


“Anak pendatang baru yang bersama Hasan membuat anakku terluka, lihat ini!” tunjuk Tek Sariman. “Anak den...“ Ia kembali tersadar setelah menoleh pada Edi yang tergolek pingsan di rumput.


“Lebih baik, Etek pasang celananya dulu.” Pinta Bu RT.


**Nb**


Beberapa bab lagi tamat, ya...


Hm, apakah menurut kalian ada ibu² yang bertengkar seperti itu?


Jawabannya ada😆😆 nama Tek Sariman samaran sih aku tulis. Tapi adegan berantem begitu ada loh....😆😆😆


Pesan di bab Ini. Saat berantem cukup jambak-jambakan aja ya, jangan sampai buka celana. 🤐🤐


Semoga terhibur Arlove.... terimakasih telah selalu menanti dan setia menunggu kelanjutan cerita ini sampai tamat. Love you💓💞💞