
“Kakek tinggal sama kami aja ya!” Arhen menggoyang-goyang tangan Ayah Kinah.
“Iya, Kek.” Ardhen mengangguk setuju, ia memegang tangan Ayah Kinah satu lagi. Sedangkan Arsen berpangku tangan, berjalan disampingnya Ardhen.
“Tidak bisa. Di kampung, Kakek punya sawah, ternak dan Bibi Rukhsa. Pasti Bibi Rukhsa akan kesepian karena ditinggal sendirian di sana.”
“Kalau begitu, bawa Bibi Rukhsa juga sekalian.” usul Arhen.
“Bibi Rukhsa mengajar mengaji. Kasihan sama murid-muridnya Bi Ruksha nanti, mereka belajar mengaji sama siapa lagi?”
“Bukankah kalian juga akan dibawa ke Belanda? Kakek tak bisa naik pesawat, kemarin ke Batam saja Kakek naik kapal.”
“Yaaahh....” rajuk Arhen dan Ardhen berwajah cemberut.
“Sudah, jangan begitu. Kakek sudah tua, kita yang seharusnya sering-sering menemui Kakek.” ucap Arsen.
Mereka berempat terus berjalan pulang sembari mengobrol.
“Eh, lihat Bang! Dia masih tidur.” bisik Arhen pada Arsen, melihat Andrean yang tidur di kursi teras.
“Ssstt! Jangan ganggu, mungkin Papa kalian sangat kelelahan. Dia bahkan tertidur sambil duduk. Ayo, simpan dulu sarung dan pecinya.” ajak Ayah Kinah.
Sakinah sudah mandi, sarapan sudah terhidang. Ia berjalan ke teras, menarik sudut lengan baju Andrean.
“Hei, hei! Bangun!” panggilnya.
Sakinah menarik sedikit kuat, namun Andrean masih tidur. Kemudian ia tepuk paha Andrean berkali-kali, sampai pria itu reflek menangkap tangan Sakinah dan menariknya.
Sakinah sampai terhuyung ke depan. “Auwch!” ringisnya. Ia berusaha menahan tubuhnya agar tak menindih Andrean.
Andrean membuka matanya berlahan, mendapati dada sakinah tepat berada di wajahnya. Ia telah salivanya.
Baru bangun tidur, di suguhkan pemandangan seperti itu, membuat ia berpikir keras, apakah ini mimpi?
“Kau sudah bangun, lepaskan tanganku.” ucap Sakinah.
Andrean menatap tangannya yang menggenggam tangan Sakinah kuat. “Maaf.” Ia segera melepaskan tangan Sakinah.
“Aku sudah menyiapkan sarapan.”
“Hu'um.”
Sakinah kembali masuk ke dalam rumah.
Andrean melepaskan nafas panjang saat melihat punggung Sakinah. “Kacau!” gumamnya.
Ia beranjak pergi dari teras, masuk ke dalam kamar, mandi, dan bergabung bersama yang lainnya di meja makan.
Hidangan pertama yang terhidang adalah cah kangkung telur puyuh, sambal terasi dan kerupuk. Lalu nasi goreng.
“Kamu mau sarapan nasi goreng atau makan?” tanya Sakinah.
Andrean menatap semua piring orang, Ayah Sakinah dan Arsen memilih makan nasi bersama cah kangkung, sedangkan Rukhsa, Arhen dan Ardhen memilih nasi goreng telur ceplok.
“Nasi goreng.” ucapnya kemudian. Sakinah pun menghidangkan nasi goreng untuknya.
Arsen duduk disamping Ayah Kinah. Andrean melirik anak laki-laki itu sebentar. Kemudian menatap Ardhen yang tersenyum padanya, sedangkan Arhen bermuka jutek.
Setelah makan, Andrean mencoba mengambil hati anak-anaknya. Yaitu Arhen dan Ardhen, mengabaikan Arsen yang ia kira anak Shalsabilla.
Hingga sore menjelang, Arhen selalu mengabaikan Andrean, berbeda dengan Ardhen yang merespon pertanyaan dan ajakan Andrean.
“Ibumu tak menjemputmu?” tanya Andrean pada Arsen.
“Tidak.”
“Oh, kau sering di sini ya bermain sama Arhen dan Ardhen?”
“Ya.” jawabnya masih dengan wajah datar.
Andrean mendesah, dirumah ini yang mudah didekati hanya Ardhen dan Ayah Kinah. Selebihnya susah, termasuk Sakinah. Wanita itu walaupun terlihat patuh dan pendiam, namun ia juga mengabaikan Andrean.
Keesokan hari.
Anak-anak pergi ke Sekolah diantar oleh Andrean.
Arsen dan Arhen langsung turun tanpa sepatah katapun. “Makasih Pa, sudah mengantarkan kami. Hati-hati pulang, Pa.” ucap Ardhen yang paling terakhir turun.
“Iya.” jawab Andrean tersenyum.
Dari awal ia memang telah jatuh hati pada Ardhen, ramah, baik dan menghargainya.
“Kenapa Arhen masih belum bisa menerimaku? Apa karena dia mirip kakak?” Andrean berbicara sendiri.
Sesampainya di rumah, sudah ada orangtuanya dan Dedrick yang datang.
Sakinah sekeluarga menyambut mereka dengan baik, mereka berbincang-bincang, terkadang terselip gelak tawa diantara mereka.
Inti sari perbincangan itu, mereka semua harus kembali segera ke Belanda, termasuk Andrean juga. Mereka izin pamit pada Sakinah sekeluarga.
“Kita balik siang ini?” tanya Andrean, ia berencana seminggu lagi di sini. Ingin mendapatkan hati Arhen.
“Iya, perusahaan tak bisa ditinggalkan lama. Bukankah Sakinah akan menyusul juga nanti.” Sekar memelankan suaranya. Mereka kini sedang berbicara di teras, menjauh dari semua orang.
“Tapi, Ma.”
“Sudahlah, nanti kamu juga bisa lebih dekat dengan mereka. Jika kalian tidak segera kembali, Pamanmu itu akan leluasa, itu akan membuat langkah jahatnya berjalan cepat.”
________________
Ardhen menemui Sakinah di kamarnya yang sedang menyisir rambut.
“Mom, Papa mana?” tanyanya.
“Dia sudah kembali ke Belanda tadi siang.” jawab Sakinah, masih menyisir rambut.
“Kok Papa gak pamit sama kami.”
“Nah, lihat tuh! Masa gak pamit sih!” Arhen datang-datang menyambung.
“Apa Papa sebenarnya gak sayang sama kami? Apa dia terpaksa dan tak bahagia.” Ardhen berkata sendu.
“Bukan begitu, Papa kalian buru-buru. Ada sesuatu yang harus ia lakukan. Pasti dia akan menghubungi kalian segera.” Sakinah mengusap kepala Ardhen.
Arhen malah melengos dan memilih keluar kembali, bergosip pada Arsen.
“Bang, rupanya dia sudah balik ke Belanda. Masa, gak pamit sama kita.”
“Pamit sama Mom gak?”
“Gak tau. Aku gak tanya, kata Mom dia balik tadi siang.”
“Oh.” sahut Arsen, masih menatap layar handphonenya.
“Kakak main apa sih? Kok dari tadi lihat itu terus?”
“Sana!” usir Arsen, Ia tak ingin diganggu Arhen.
Arhen mengerucutkan bibirnya, memilih berbaring di kasur.
“Bagaimana ya rasanya nanti jika di Belanda? Tidak berjumpa Daddy dah Miss lagi. Apakah Andrean itu bisa baik pada kami?”
“Bukankah ada Papa Dedrick, kenapa khawatir?!” sahut Arsen.
“Papa asli kita 'kan Andrean, bukan Papa Dedrick.”
“Kita lihat saja nanti, apa dia pantas menjadi Papa kita atau cuma bisa menyakiti hati Mom.” Arsen menatap Arhen dengan senyuman devilnya.
...***...