Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Dimandikan?


Disebuah ruang makan VIP restoran bintang lima.


Irfan dan 5 rekan bisnisnya sedang makan sembari membahas tentang usaha jewerly terbaru mereka, kerangka kalung yang telah mereka gadang-gadang akan laku keras dipasaran. Ya, kerangka kalung hasil curian dari seseorang yang bekerja menjadi karyawan di PT. Antaman Wizgold.


Tak! Tak! Tak! Jari jemarinya menekan beberapa tombol laptopnya, hingga datanglah seseorang menghampiri.


Wajah mereka tampak sumringah saat melihat Berend berjalan membawa koper kecil.


“Apakah Kalian semua telah lama menungguku?” tanyanya dengan tersenyum penuh arti.


Arsen berjalan di belakang Berend dengan jas berwarna hitam, lengkap dengan alat-alat ajaibnya yang tak akan pernah tertebak oleh Irfan dan bawahannya. Siapa juga yang akan mengira anak kecil itu begitu licik?


“Maaf, Tuan-tuan Aku kembali membawa putraku, jangan khawatir, dia tidak akan mendengar pembicaraan kita.” jelas Berend.


“Putraku, bermain musiklah disana!” pinta Berend tersenyum pada Arsen. Anak kecil itu juga membalasnya tersenyum.


Arsen berjalan ke depan dan mendekat ke arah meja Irfan bersama rekan-rekannya duduk.


“Baiklah, Papa. Tetapi, aku ingin meletakkan dulu mainanku di sini.” Arsen meletakkan mobil-mobilan serta kereta mainan yang berukuran kecil itu diatas meja.


Arsen tersenyum dan sedikit membungkuk memberikan penghormatan lalu berjalan pergi sembari membawa earphone.


Arsen menempelkan alat itu, duduk dipojokan yang agak jauh dengan meja kecil yang berisi desert. Ia menekan tombol kecil di jam tangannya, lalu memainkan musik, duduk sembari tangannya mengatur rubik.


Untuk Arsen, mengatur rubik yang berantakan itu hanya sebentar, ia memiliki trik untuk menyusunnya, kemudian ia kembali mengajaknya, lalu menyusunnya lagi dengan sama yang warna. Ia melakukan itu berkali-kali, hingga tiba waktunya semua orang menyelesaikan rapatnya diruangan ini.


“Arsen, kemarilah!” Irfan memanggilnya saat rapat mereka selesai.


“Apa kamu suka mobil-mobilan?” tanyanya setelah Arsen berjalan patuh mendekat ke arahnya.


Ia berlagak polos menganggukan kepala.


“Mainan ini terlalu kecil dan tidak cocok untukmu, Kakek akan membelikan kamu mobil yang lebih besar dari ini.” Irfan mengambil mobil kecil itu lalu membolak-balikannya.


Arsen cepat mengambil mainannya yang berada diatas meja dan yang berada di tangan Irfan segera, ia tak ingin kamera kecil dan alat-alat lain rusak, apalagi sampai ketahuan.


“Makasih Kakek. Ini hadiah dari Nenek Ibunya Mom, Beliau sudah meninggal dunia.” jelasnya asal sebut. Ya, pada kenyataan Ibunya Sakinah memang telah meninggal.


Irfan mengusap kepala Arsen. “Kakek tidak akan mengambil dan membuang mainan ini.” ucapnya sambil terkekeh kecil melihat Arsen langsung merebut mobil-mobilan di tangannya.


“Kakek hanya akan memberikan kamu mobil yang lebih besar saja.“ sambungnya lagi.


“Ucapkan terimakasih Sayang.” ucap Berend yang langsung berdiri di dekat Arsen.


“Maaf, maaf Tuan, anak saya terkadang tidak tau caranya berbicara. Hanya aku orangtua tunggalnya, terkadang sempat aku ajarkan. Ya, lebih tepatnya hanya kuserahkan pada bawahanku saja.”


“Ah, kau ini Berend, itu tidak masalah! Dia hanya anak kecil, aku malah menyukai putramu.” jawab Irfan.


__________


Hubungan Andrean dan Sakinah semakin hari semakin baik, lebih sering berbincang dari sebelumnya.


Andrean lebih cepat pulang, sikapnya juga sedikit aneh akhir-akhir ini, lebih cendrung malu-malu di depan Sakinah. Bukan seperti sikapnya yang biasa penuh percaya diri, tukang goda dan gombal sana sini. Sepertinya di depan Sakinah sikap percaya diri itu runtuh begitu saja.


Pagi ini hari libur, Dedrick memilih joging bersama Arhen dan Ardhen di halaman depan. Wizza dan Sekar tidak ada di Mansion, mereka harus pergi ke Amerika untuk mengurus sesuatu yang penting.


Sedangkan Andrean lebih memilih memperhatikan Sakinah yang membaca.


“Kenapa kamu memakai pakaian berbeda?” tanya Andrean, ia duduk bersebelahan dengan Sakinah diteras.


Sakinah menoleh dengan tanda tanya. “Maksudnya bagaimana?”


“Itu, terkadang kamu melepas, terkadang membungkusnya, terkadang menutupnya penuh. Kenapa?” tanya Andrean dengan kode tangan melilitkan tangan di kepalanya sendiri.


“Aku tidak pernah membuka hijab ini, kecuali jika hanya bersama anak-anak dan kamu. Tetapi jika pakai penutup semua, seperti cadar, aku hanya memakainya di kerumunan atau orang asing.” jelas Sakinah.


“Rambutmu hanya aku dan anak-anak yang melihat?” tanya Andrean lagi menahan senyum.


“Iya.” jawab Sakinah.


Setelah itu hening kembali.


“Kamu suka teh melati ya?” tanya Sakinah, Andrean menjawabnya mengangguk.


“Kalau kamu suka apa?”


“Aku suka saja semua makanan dan minuman asalkan halal. Hanya terkadang, ada waktu tertentu aku pengen makan manis, pedas atau lainnya.”


“Halal?”


“Iya. Halal itu sesuatu yang diizinkan untuk dilakukan, kita tidak mendapatkan dosa. Sedangkan yang mendapatkan dosa itu disebut haram.” jelas Sakinah.


“Halal itu bukan hanya untuk makanan saja, tetapi juga untuk sebuah tindakan.” sambung Sakinah lagi.


“Contohnya seperti apa?”


“Seperti berselingkuh, bersentuhan dengan wanita yang tidak mahrammu.”


“Mahram? Apa lagi itu?”


Sakinah menutup buku yang ia baca, lalu mencari buku yang tersusun rapi di atas meja. Buku itu dibawa Sakinah dari dalam kamarnya.


Lalu ia meletakkan sebuah buku di hadapan Andrean.


“Mahram itu orang-orang yang haram atau tidak boleh dinikahi, namun boleh bersentuhan dengannya. Seperti anak dan lainnya.”


“Baca saja buku ini.” tunjuk Sakinah pada buku yang ia letakkan di depan Andrean.


“Jadi, kalau kamu?”


“Aku?” Sakinah tersenyum. “Aku telah kamu halali, telah kamu nikahi, kamu berhak untuk menyentuhku dan melihatku. Makanya, aku hanya membuka hijab di hadapanmu di dalam kamar.


“Ooh.”


Ya, perlahan Andrean mulai penasaran dengan semua sikap Sakinah, penasaran dengan Agama yang baru saja ia pilih setelah menikahi istrinya itu. Ia pun mulai bertanya sedikit demi sedikit.


“Berarti aku boleh tidur denganmu?” tanya Andrean serius, tetapi pipinya memerah, malu.


Padahal pertanyaan seperti itu biasanya sangat lancar ia lontarkan.


“Boleh. Tapi....” Sakinah menjeda kalimatnya.


“Tapi apa?”


“Kamu harus mandi wajib dulu, mandi taubat dulu.”


“Apa lagi itu?”


“Bukan apa-apa sih, tetapi hatiku merasa lebih nyaman jika kamu melakukan itu. Dengan mandi bersih, aku merasa hubungan kita lebih baik.”


‘Hubungan?’ Andrean tersenyum sendiri, seolah sedang pedekate dengan istrinya sendiri.


“Jika sudah mandi bersih, tidak boleh lagi pacaran dan mendekat dengan wanita lain, hanya boleh bersentuhan dan bercintaa denganku saja.”


“Apa kamu sudah siap?” tanya Sakinah menatap Andrean.


“Mandi bersih? Aku mandi selalu bersih.” protes Andrean.


“Ya, tetapi mandi bersih atau mandi wajib itu bersuci yang diniatkan dari hati.”


“Mau aku ajarkan? Apa kamu siap?”


Andrean mengalihkan pandangannya, malu.


“Hu'um.” Angguk Andrean pelan.


‘Dimandikan?!’ Wajahnya memerah.