
Andrean menatap lekat wajah Sakinah yang berkabut hasraat itu. Matanya yang sipit terlihat sayu, badannya menerima sentuhan demi sentuhan Andrean dengan pasrah.
Andrean tersenyum, mengecup kening Sakinah. “Mimpi yang sangat indah.” ucapnya bergumam.
“Aku tak bisa lagi menahannya.” Ia dorong lembut bahu Sakinah agar tubuh itu terbaring dengan sempurna diatas ranjang.
“Aku menginginkannya.” ucapnya lagi dengan nada sensual.
Ia pandangi wajah Sakinah yang terlihat pasrah, lalu ia pegang kedua tangan Sakinah, mengecup kedua punggung tangannya lembut dengan penuh perasaan, kecupan itu ia lakukan berulang-ulang, hingga jari jemari itu ia kecup juga.
Andrean mengecup bibir Sakinah kembali, menautkan jari-jemari mereka, pertautan tangan itu dinaikkan keatas hingga berada diatas kepala Sakinah. Perlahan tangannya ia lepaskan, tangan itu turun menyentuh dada Sakinah dengan bibir masih menyatu.
Andrean melepaskan ciumannya, menatap wajah Sakinah kembali, lalu ia kecup kembali bibir Sakinah cepat, turun ke leher dan daun telinga secara bergantian dengan teratur, membuat Sakinah mendesah.
Tangannya yang sejak tadi meraba nakal dada Sakinah yang masih berbalut baju tidur, mulai bergerak melepaskan baju itu, pergerakan lincah yang sering ia lakukan sebelumnya dengan wanita-wanitanya, membuktikan kemahirannya, namun sekarang ia melakukannya dengan sangat lembut dan penuh perasaan.
Baju Sakinah sudah terbuka, bahkan pembungkus dadanya juga, yang tersisa hanya kain penutup bagian bawahnya.
“Apa aku boleh melakukan selanjutnya?” Andrean bertanya, ia belai wajah Sakinah lembut.
Sakinah tak menjawab, ia hanya menangkap tengkuk Andrean, menekan kepala itu kedadanya.
Tangannya yang nakal, bibirnya yang seksi bermain-main disana. Tubuh Sakinah merespon aneh, panas menggelitik, terutama bagian-bagian tubuh sensitifnya.
“Aku tidak tahan lagi.” desah Sakinah meremas rambut Andrean.
Andrean mengangkat kepalanya, pandangan mata mereka sama-sama melemah, mereka berdua dikabut asmara.
“Apa kau menginginkannya?” Tatap Andrean.
Tak ada jawaban, respon Sakinah hanya menggigit bibir bawahnya, ia sudah dikuasai sepenuhnya oleh gair*h.
“Aku menginginkanmu, mulai sekarang kau milikku dan aku milikmu. Cup!” Andrean mengecup bibir Sakinah.
Ia melepas seluruh pakaiannya dan pakaian Sakinah,Andrean menarik selimut tebal untuk menutupi tubuh mereka berdua. Entah kenapa timbul rasa malu di dalam hatinya, dulu bahkan ia tak pernah memakai selimut jika bercinta. Namun kini, ia merasa tubuh istrinya sangat berharga, hanya dirinya seoranglah yang bisa melihat dan menyentuhnya.
Dadanya berdebar-debar, ia pun mulai menyatukan tubuhnya dengan Sakinah. Mereka berdua larut didalam keindahan surga dunia, hingga mencapai kenikmatan yang sesungguhnya. Suara er*ngan dan des*han menghiasi kamar mereka untuk pertamakalinya semenjak mereka menikah.
**
Mentari tersenyum malu-malu menyapa sepasang suami istri yang masih dalam keadaan polos ditutupi selimut.
Andrean menggeliat, karena wajah tampannya dibelai sang mentari.
“Hm?!” Andrean terkesiap. Disampingnya Sakinah masih tertidur pulas dengan tubuh polos.
‘Tunggu? Apa aku masih bermimpi?’
Ia cubit-cubit tubuhnya bahkan ia menggigit tangannya.
“Awch!” pekiknya karena sakit.
“Sakit! Berarti ini bukan mimpi 'kan?”
Sakinah menggeliat dan matanya terbuka perlahan. Ia menyapu wajahnya dengan tangannya, terkejut saat melihat mentari.
“Aku telat bangun.” sesalnya.
Ya, kejadian tadi malam membuat ia benar-benar lelah. Hingga ia ketiduran dan tertinggal sholat subuh. Jika ia membandingkan dengan almarhum suaminya, ia bisa mengatakan tenaga Andrean seperti kuda. Berlari dengan sangat kencang. Pria itu bermain dengan durasi lama, membuat tubuhnya terasa pegal.
Andrean menatap Sakinah yang terlihat memberungut.
“Apa ini kenyataan? Apa kita tadi malam melakukan hubungan intim?”
Sakinah menatap kesal, ia ketinggalan sholat subuh tadi, lalu disuguhkan pertanyaan aneh dari suaminya.
“Maksudnya?” Alis matanya berkerut, wajah baru bangun tidurnya itu semakin cemberut.
Andrean mendekat, menggeser tubuhnya, langsung memeluk dan mencium Sakinah tanpa ba-bi-bu, membuat mata Wanita itu terbelalak.
“Ma-”
Andrean langsung menindih tubuh Sakinah, mengecup bibirnya. Tak membiarkan suara apapun lagi keluar dari bibir istrinya itu.
Ia sudahi ciumannya.
“Jika ini bukan mimpi, bolehkan aku merasakannya lagi, agar aku bisa percaya ini adalah kenyataan.” ucapnya lembut, ia tempelkan keningnya dikening Sakinah.
Ia mulai menjelajahi tubuh Sakinah dari atas hingga bawah, melarikan bibirnya dari bibir ke leher dan daun telinga Sakinah. Perlakuan Andrean itu membuat Sakinah menggeli, apalagi tangan nakalnya yang menjelajah kemana-mana.
“Sayang, aku menginginkannya.” bisik Andrean.
Tak ada jawaban iya ataupun penolakan dari Sakinah, walupun ia merasa badannya pegal, entah kenapa tubuhnya menjadi baik-baik saja saat gairahnya naik, perlakuan Andrean membuat ia melayang. Pria yang berstatus suaminya itu menggagahinya.
Pagi ini, kamar itu kembali dipenuhi dengan suara kenikmatan surga dunia.
**
Arhen, Ardhen dan Arsen telah lama menunggu dimeja makan.
“Kenapa Mom belum turun juga ya? Papa juga?” tanya Ardhen.
“Iya, dasiku jadinya dipasangkan Amy, padahal biasanya Mom yang pasangkan.” rungut Arhen.
Arsen hanya diam saja, seperti biasa, wajah dinginnya menatap jam tangan yang melingkar ditangannya itu.
Selang beberapa waktu, tiga anak laki-laki itu telah menghabiskan sarapannya. Ibunya belum juga turun.
“Mom tidak sakit 'kan?” gumam Arsen.
“Sakit?” Arhen dan Ardhen menoleh, kemudian mereka bertiga berlari ke atas.
Saat hampir di depan pintu kamar orangtuanya, Kepala Pelayan mencegah mereka.
“Tuan Muda, kalian mau kemana? Biar para Maid yang mengambil sesuatu yang tertinggal, bersiaplah, takutnya nanti terlambat.”
“Kami ingin bertemu Mom, dia belum turun sejak tadi.” jawab Arhen.
“Nyonya Muda tadi begadang karena mengerjakan tugas, jadi ia masih tertidur hingga sekarang. Saya harap Tuan Muda mengerti, pasti Nyonya sangat kelelahan. Tuan Muda tidak mungkin tega 'kan membangunkan beliau.”
“Mom mengerjakan apa? Mom 'kan tidak pintar, apa Papa mengerjainnya?” celetuk Arhen.
“Ti-tidak Tuan Muda. A-anu, Nyonya dan Tuan sama-sama mengerjakan tugas bersama. Bukan Nyonya sendirian saja.”
“Tugas apa sih!”
“Hm, itu, tugas keluarga. Saya juga tidak mengetahuinya karena itu rahasia.” Kepala Pelayan membuat sembarangan alasan.
Kepala Pelayan tadinya hendak membangunkan majikannya, dulunya sebelum menikah dengan Sakinah, Andrean selalu bangun paling terakir, karena Sakinah juga tak turun, ia berniat membangunkan, namun ia mendengar suara *******, sehingga ia urungkan dan berdiri agak jauh.
“Aah, aah, aaaaaah!” Terdengar suara-suara aneh itu kembali, bahkan satukali suara yang terdengar sedikit terpekik dan panjang.
Suara itu milik ayah dan Ibu mereka.
“Mom dan Papa kenapa?!” Mereka bertiga berlari ke arah kamar.
“Tuan Muda, tunggu!” Kepala Pelayan mencoba mencegah, namun mereka bertiga, jadi...
Arsen membuka pintu.
“Mom, kenapa?!” Ketiga anak kecil nan polos itu berlari dan langsung memeluk Sakinah.
Sumpah, Sakinah dan Andrean gelagapan sekarang. Malu? Pasti.
Kepala Pelayan yang berdiri di depan pintu karena tidak bisa mencegah tiga anak laki-laki itu hanya bisa memalingkan tubuhnya, lalu beranjak pergi perlahan.
...***...