
Arsen terdiam saat melihat danau buatan yang ada di titik koordinat.
“Sejak kapan ada danau di sini?”
“Ini adalah hutan lindung, sepertinya ada orang nakal yang merusak hutan,” celoteh Xander Pim.
“Kenapa tidak ketahuan, ya?”
“Mungkin-- karena posisinya di tengah hutan,” jawab Xander Pim.
Arsen dan kelompoknya telah siaga sejak tadi, hutan dan danau buatan ini tampak hening. “Apa Tuan Muda yakin di sini tempatnya, alat pelacak nya sedang tidak eror 'kan?” Xander Pim mengelus dagunya.
“Tidak, ini berfungsi dengan baik kok!” Arsen melihat jam di pergelangan tangan, cincin blue safire serta hp jadul dan hp smart yang baru dia keluarkan untuk mencek aplikasi yang dia buat untuk mendeteksi keberadaan Hans dan Roselia.
Arsen meraih tas yang dia sandang, di dalam tas itu ada banyak perkakas dan alat-alat penting miliknya, alat yang mahal luar biasa. Arsen mengambil sebuah teropong yang hanya sebesar telapak tangan. Dia melihat ke ujung danau.
“Ada gubuk di ujung sana! Apakah Kak Hans dan Ros di sana?” Arsen bergumam.
“Bagaimana cara kita menyebrang ke sana?” tanya Xander Pim menatap danau buatan itu.
“Dengan mobilku!” jawab Arsen. Xander Pim melongo. “Ayo!”
Arsen memilih duduk di samping Xander Pim yang mengemudi. Dia menekan tombol mobil berwarna biru. Brak! Mobil terdengar berderak dan.. “Aach!” Xander Pim terkejut, karena tiba-tiba mobil terlompat.
Ban baru muncul, sedangkan ban lama terlipat ke samping dalam. Ban mobil itu panjang dan besar. “Jalankan seperti biasa, Paman!”
Perlahan tapi pasti, Xander Pim mulai melajukan mobil sedikit, mereka terapung. “Mundur, jemput mereka sampai mobil ini penuh!”
Arsen dan Xander Pim duduk di depan, sedangkan di bangku belakang, ada 5 pengawal saling berhimpit-himpitan.
Setelah sampai diujung, Xander Pim kembali menjemput pengawal, sekarang isinya lebih banyak lagi. Ada 4 orang di depan dan 7 orang di belakang. Semua orang takjub dengan kecanggihan yang dimiliki oleh Arsen.
Belum usai mereka berdecak kagum, Arsen telah berkata, “Cepat, kita harus duluan ke sana, sambil Paman menjemput yang lainnya.”
Arsen dengan beberapa pengawal mulai berjalan mengendap-endap menuju sebuah gubuk di tengah hutan. “Hei, di hutan ini tidak ada suku pedalaman aneh 'kan?” Arsen menatap pengawal karena tempat ini hening sekali.
“Kami belum pernah mendengar, kota kita sudah maju sejak dulu kala,” gumam mereka menyahuti Arsen.
Setengah perjalanan lagi Arsen sampai di gubuk itu. Dia menghentikan langkahnya. “Tunggu. Tanah di depan kita terlihat aneh!”
Tanah yang terlihat seperti gundukan dan bekas galian. “Sial! perhatikan langkah kalian, jangan sampai menginjak rumput hijau itu!” pekik Arsen setelah mengamati. Sayangnya, ada dua pengawalnya yang menginjak itu.
“Kalian yang belum menginjak, perlahan mundur sampai tanah gambus itu. Kalian berdua, tahan kaki kalian!” pinta Arsen.
Arsen membuka tasnya kembali, mencari perkakas miliknya, satu payung lipat dan tali dia keluarkan. Dia ikat tubuh kedua pengawal itu dengan kuat bersama dirinya juga.
“Dengar, saat hitungan ketiga, kalian lepaskan pijakan itu dan tekuk kaki kalian ke atas! Kalian paham!” Kedua pengawal itu mengangguk.
“Kalian, siap! Satu, dua, Tiga!”
Duar! Duar! Duar! Ledakan kecil awalnya dari bawah kaki dua pengawal itu, lalu dilanjutkan dengan yang lainnya dan bahkan api terakhir membumbung tinggi.
Arsen dan tiga pengawal itu terbang sejenak ke arah tanah gambus. Brugh! “Akkch!” teriak dua orang pengawal itu jatuh ke tanah dari ketinggian 10 meter.
Payung itu tak kuat menopang tiga orang, tetapi setidaknya mereka selamat, Arsen berdiri dari tubuh dua pengawal yang dihimpitnya, dia buka dua tali itu. Dan....
Dor! Dor! Semua pengawal termasuk Arsen menembak ke arah tanah. Di tanah gambus itu keluar ular-ular berbisa. Ular itu terbangun dan keluar karena ledakan yang dahsyat tadi.
“Aaaaahhh!” Beberapa orang kena patok ular berbisa itu.
Dor! Dor! Beberapa orang pengawal yang menyusul di belakang membantu, Xander Pim juga.
Semua ular akhirnya musnah, perjalanan yang mereka tempuh pun semakin mereka waspadai. Arsen bahkan sebelum sampai sering melempar tempat itu dengan beberapa bongkahan tanah.
Hingga mereka sampai di gubuk. Hening!
“Biar aku periksa Tuan Muda!”
Setelah dua orang masuk, yang lain pun juga menyusul perlahan. Arsen masih berjalan dengan waspada, hingga dia berada di sebuah tempat kosong yang gelap. Sebuah hp yang ada rekaman, pita rambut serta jam tangan Hans di atas meja. Lalu, ada sebuah kertas dengan tulisan.
“Selamat, kau telah sampai. Sayangnya, mereka telah kubawa pergi, semoga cepat bertemu, from J.”
Arsen meremas kertas itu, menonton video mereka menampar, memukul dan menendang Hans dan Roselia dengan kejam.
“Rupanya titik koordinat itu bukan dari cincin. Tapi dari pita ini ya!” Arsen memeluk pita itu. Pita yang dia berikan saat hujan turun kala itu.
Saat mereka hendak pergi, ada dua helikopter yang datang, langsung menembaki mereka dari atas.
“Tuan Muda berlindung!”
Saat hendak berlindung, Arsen melihat sesuatu. “Gawat, semuanya keluar, gubuk ini akan terbakar!” Belum selesai dia memperingati.
Duaar! Dapur gubuk itu meledak dan terbakar, api langsung menjalar dengan cepat. Beberapa orang terjebak dan terluka bakar. Bukan hanya itu, mereka yang menyelamatkan diri ke luar gubuk juga di serang tembakan bertubi dari atas helikopter.
Arsen memakai kacamatanya, kacamata yang bisa melihat titik target.
Duaar! Arsen bukan menembak orang di atas helikopter, tetapi menembak tangki helikopter.
Duar!! Satu lagi, helikopter itu jatuh dan meledak.
“Semua ini hanya jebakan untuk mempermainkanku dan mengulur waktu! J?” Arsen menatap tajam dan penuh amarah pada Helikopter yang terbakar itu.
...----------------...