
Hampir setiap hari Arhen meminta pergi ke kantor bersama Dedrick. Di sana, ia selalu mengganggu Calista yang sedang mencari perhatian Dedrick.
Lagi, hari ini Andrean terlihat bersama seorang wanita cantik lagi. Rambutnya panjang diblonde, bertubuh langsing. Ia mengecup pipi Andrean, lalu bergelayut manja ditangan pria itu.
“Cih! Apakah pantas dia menjadi papaku?!” gerutu Arhen tak bisa menerima pemandangan yang ia tonton di layar monitor.
Ya, ia baru saja diajarkan Arsen cara memantau gerakan Andrean melalu laptopnya.
“Sungguh buruk!”
Ya, hampir setiap hari wanita yang mendatanginya ke kantor akan selalu berbeda.
“Arhen.” panggil Dedrick. Bergegas Arhen menutup laptopnya.
“Papa!”
“Apakah Papa mengganggu?”
“Tidak. Apakah urusan Papa sudah selesai?”
“Sedikit lagi.”
“Oh begitu. Padahal aku ingin bermain dengan Tante Calista.”
“Tentu saja. Papa akan meminta Calista menemanimu main.”
“Makasih Papa.” Memeluk Dedrick. Lalu, tersenyum mengejek pada Callista.
‘Anak Sial*n!’ Calista menggerutu dalam hati.
Lagi, Arhen akan menjahili Calista. Wanita itu sungguh kesal sekali.
“Aku tak bisa! Aku sedang tak enak badan.” tolaknya.
“Bukankah tadi kau bersemangat!”
“Jangan banyak alasan!” hardiknya, ”Alex, ayo!” ajaknya pada Asisten pribadinya.
“Papa keluar dulu, bermain-mainlah sama Tante Calista ya.” Dedrick tersenyum.
Calista semakin kesal, Dedrick tak pernah tersenyum pada wanita ataupun anak kecil sebelumnya. Kini, pria itu benar-benar berubah.
“Kau beneran anak Dedrick?” Bertanya berkacak pinggang pada Arhen setelah Dedrick pergi.
Ya, pasalnya semua itu hanya isu yang belum dikonfirmasi kebenarannya. Namun semua orang sangat yakin kalau Arhen anak Dedrick, mereka sangat mirip, Dedrick yang terkenal dingin itu pun sangat hangat dan sabar dengan tingkah laku Arhen yang mengusili karyawan wanita yang hendak mendekat pada Dedrick.
“Tebak saja!” Arhen duduk dikursi kebesaran CEO milik Dedrick. Lalu tersenyum penuh makna, ada yang terlintas diotaknya saat ini.
___________
Arhen pulang dari kantor bersama Dedrick dengan wajah masam.
“Kau terlihat berwajah buruk lagi Kak, seperti mulut ikan cucut.” seloroh Ardhen.
Aaahhh! Arhen menghela nafas panjang. Menghempaskan tubuhnya diatas ranjang.
“Ya, begitulah. Andrean itu tetap berprilaku sama, dia sungguh tak bisa menjadi seorang ayah! Pasti Mom makan hati sekali menikah dengannya.”
Ardhen terdiam cukup lama.
Kemarin, ia berbincang dengan Andrean.
‘Hei Ardhen, Papa belikan sesuatu nih, kamu mau?’ sapa Andrean dengan memberikan es krim banana.
Ardhen mengambil es itu malu-malu dan memakannya.
‘Papa dengar kamu sangat suka memasak, apa kamu punya cita-cita ingin menjadi koki?’ tanya Andrean. Ardhen mengangguk sembari mengisap dan menjilati es krimnya.
Andrean mengelus kepala Ardhen. ‘Baiklah, kalau begitu, Papa akan mencarikan guru pelatihan memasak untukmu. Sekalian Papa juga sudah mendaftarkan kalian ke sekolah baru.’
“Hei, Ardhen!”
“Woi!” Arhen mengguncang tubuh Ardhen yang sedang melamun.
“Kau malah melamun?!” ucap Arhen saat Ardhen telah menoleh padanya.
“Kenapa bukan Papa kedua saja ya, yang jadi Papa kita. Kenapa malah Dedrick.”
“Hei, kau membelanya?” Menatap Ardhen penuh selidik.
“Apa kau disogok olehnya?!”
“Tidak, Kak. Bagaimana pun juga, dia Papa asli kita. Mom sudah cerita saat itu pada kita, kalau Andrean lah ayah asli kita.”
“Tau ah! Mending aku mandi dulu.” Arhen bangun dari tidurannya, berjalan ke arah kamar mandi.
_______________
Di balkon kamar,
Sakinah sedang berdiri menatap sang langit yang berwarna jingga, ditemani angin sepoi-sepoi menyapa wajahnya.
Deg! Dedrick yang juga berdiri di balkon kamar sejak tadi menangkap sosok Sakinah yang juga berdiri di balkon kamarnya. Jarak balkon mereka cukup jauh.
Sakinah yang memakai dress berwarna biru muda dengan hijab yang selaras terlihat seperti bidadari yang sedang mengepakkan sayapnya dimata Dedrick.
Dadanya semakin berdebar. “Hatiku, aku mohon jangan bertindak bodoh. Kenapa kau berdetak ditempat yang salah. Dia milik adikku, istri sahnya.” Berkata pada hatinya dengan meletakkan telapak tangan di dadanya.
Ya, selesai dari kantor, ia langsung mandi dan memilih bersantai seperti biasa di balkon kamarnya sampai bintang malam menyapanya. Kini, bulan sepertinya sudah merayunya terlebih dahulu dengan kehadiran Sakinah.
Sakinah bermenung sembari melantunkan pujian dan nama-nama Allah dalam hatinya. Ia hanya berharap, kebahagiaan untuk anak-anaknya.
Dedrick menekan perasaannya, ia masuk kembali ke dalam kamarnya agar tak lagi melihat sosok wanita yang menggetarkan hatinya itu, namun di dalam hatinya bergejolak, menentang, hingga akhirnya ia mengintip di balik kaca kamar menatap ke arah balkon kamar Sakinah.
Malam pun tiba, Andrean pulang sudah larut malam. Ia mengetuk pintu kamar yang dikunci oleh Sakinah dari dalam. Dengan sedikit sempoyongan, wajah polos baru bangun tidur dengan rambut sedikit kusut, ia membuka pintu kamar.
Andrean menatap terkesima wajah itu. “Cantik.” gumamnya pelan, lalu langsung masuk. Sepertinya Sakinah tak mendengar pujian itu.
Sakinah mendekat berniat membantu membuka pakaian Andrean. “Kamu mau mandi atau cuci muka dan kaki saja?” tanya Sakinah dengan suara serak.
“Mau kamu,” jawab Andrean pelan.
“Apa? Aku gak dengar.”
“Aku mau mandi!” Mengibaskan tangan Sakinah. “Aku bisa buka baju sendiri.”
Andrean langsung ke kamar mandi. Sakinah hanya bisa menghela nafas. Harus bersikap seperti apa dia menjadi istri seorang Andrean?
Cukup lama baru Andrean keluar dari kamar mandi. Ia memakai celana boxer tanpa baju. Tubuhnya sangat sexsy, membuat Sakinah merunduk malu.
“Ambilkan aku air!” perintahnya pada sakinah sembari menggosokkan handuk di rambutnya.
Sakinah mengambilkan air yang ada dinakas, memberikan padanya. Air itu bergetar, membuat Andrean menatap lama gelas itu.
‘Kenapa gelas yang dia pegang bergetar? Wajahnya memerah?’ Andrean menatap sembari berpikir.
Lalu sebuah senyuman muncul di sudut bibirnya. ‘Apakah dia malu? Sungguh wanita bodoh yang polos. Bagaimana kalau aku kerjain saja!’
“Minumkan!” perintah Andrean lagi.
Dengan patuh Sakinah menyodorkan gelas pada bibir Andrean, pria itu menatap wajah Sakinah.
‘Dia sungguh cantik!’
Sepertinya sekarang bukan wajah Sakinah saja yang memerah, namun wajah Andrean juga. Ada getaran aneh di dadanya saat menatap wajah istrinya.
“Aku ingin menciummu,” ucapnya setelah meminum air.
Deg! Deg!
Wajah Sakinah semakin merah. “Hm...” jawab Sakinah salah tingkah.
‘Dia tambah cantik seperti itu. Sekarang aku beneran ingin menciumnya!’ Andrean mengusap wajahnya. Ia hanya berniat mengerjai Sakinah tadi, tapi malah ingin berniat sungguhan sekarang. Sungguh pria yang tak tahu rasa menahan!
Sakinah masih berdiri kaku, jari tangannya saling menyatu, matanya ia tutup. Ia tampak gugup sekali.
‘Apa dia bersedia untuk aku cium?’
Pufft! Andrean malah tertawa melihat exspresi Sakinah itu. Sungguh kaku.
‘Bukankah diinfo yang aku dapatkan dia seorang janda? Kenapa dia terlihat polos seperti anak perawan yang pertama kali berpacaran? Apakah suami pertamanya tidak mengajarkannya? Atau memang mereka belum melakukan hubungan badan? Buktinya dia tak punya anak dengan suami pertamanya, malah hamil anakku. Apa waktu itu, dia masih gadis?’
...***...