Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Triplet Terjebak Cinta (Season Tiga)


Di Inggris, Universitas Harvard.


Seorang pemuda baru saja mendapatkan gelar sarjananya, ia baru berumur 16 tahun. Wajah tampan rupawan, hidung mancung, bibir merah, bola matanya sedikit sipit, dengan warna putih jernih di tepinya, sedangkan ditengahnya berwarna hitam legam.


Tinggi 185 cm, tubuh atletis, rambut lurus, hitam lebat. Ia kini tengah berfoto bersama keluarganya. Wanita cantik berhijab dengan cadar di samping kanan, pria dewasa yang maskulin di samping kirinya, di depan seorang gadis kecil berumur 5 tahun memakai pakaian hijab yang sama dengan ibunya. Mereka adalah ayah, ibu, dan adik perempuan pemuda tampan itu.


Cekret! Cekret! Jepretan kamera berbunyi beberapa kali.


“Ayo, foto bersama!” seru seseorang. Di samping ke dua orang tua pemuda tampan itu, bergabunglah dua pria tampan lainnya yang tak kalah tampan dari pemuda itu.


Mereka mengabadikan kenangan itu beberapakali jepretan dengan kamera dan ponsel.


“Selamat, Tuan Muda,” ucap seorang gadis berumur 16 tahun yang baru berjalan mendekat ke arahnya. Ia memakai kaca mata dengan kaca yang cukup tebal. Di sampingnya berdiri seorang pria gagah yang selama ini mengabdi pada pemuda yang baru saja mendapatkan gelar sarjananya itu.


“Hm, kau datang juga. Sebenarnya, kau tak perlu repot-repot datang. Aku cuma butuh Kak Hans,” ucapnya dingin.


Pemuda yang baru memperoleh gelar sarjana dari universitas terbaik itu adalah Arsen Ryker Van Hallen. Putra sulung Andrean Ryker Van Hallen bersama Sakinah.


“Oh, maafkan saya, Tuan Muda. Saya menjadi lupa diri, karena senang Anda telah menyelesaikan studi Anda,” sahut gadis itu lagi.


“Ah, tidak masalah kok, Rose! Tak perlu minta maaf. Kalau Abang tidak suka, aku suka kau pergi ke Inggris, kau senang 'kan, bertemu denganku?” tanya pemuda tampan lainnya yang tadi bergabung berfoto bersama Arsen dengan menggoda, satu alis matanya naik turun.


Pemuda tampan dengan bola mata bulat berwarna abu-abu, rambut kuning keemasan, memiliki tinggi 182 cm dengan tubuh atletis, hidung mancung, bibir merah berisi, memiliki lesung pipi di sebelah kanan satu buah. Ia adalah Arhen Ryker Van Hallen, putra kembar ke-dua dari Andrean dan Sakinah.


Gadis itu menyelipkan rambut ikalnya ke telinga, lalu tersenyum malu-malu. Suasana itu membuat Arsen panas dan kesal.


Gadis ini bernama Roselia, adik kandung Hans. Dulu, mereka satu sekolah di Indonesia saat masih kecil. Arhen mendekat, lalu menatap wajah Roselia dengan tersenyum. “Hei, apa kau malu, Gadis?” goda Arhen. Hans hanya bisa melirik sekilas tanpa berani bicara apapun saat adiknya di goda.


“Arhen!” panggil Arsen dengan tatapan tajam.


“Ya, ya, ya!” Arhen mengangkat ke dua tangannya dengan terkekeh.


“Kau reseh, Kak,” ucap pemuda tampan satunya lagi.


Ia adalah putra kembar ke-tiga dari Andrean dan Sakinah, yang bernama Ardhen Ryker Van Hallen.


“Sedikit,” jawab Arhen mengedipkan matanya pada Ardhen.


Ardhen hanya bisa tersenyum kecil melihat sikap Kakaknya itu. Ia pemuda tampan yang memiliki wajah teduh, bola mata bulat berwarna abu-abu, rambut coklat tua, dengan dagu sedikit belah. Dulu, ia sangat mirip dengan ayahnya, Andrean, tetapi semakin bertambah umur, ia beranjak dewasa, wajahnya semakin berubah.


Tak ada satupun diantara sikembar yang mirip, apalagi mirip Sakinah atau Andrean. Jika berkumpul bersama, tidak akan ada yang bisa menebak mereka itu kembar, bahkan untuk menjadi adik kakak saja, tidak ada yang menebak jika tidak diberitahu, begitulah perbedaan dari segi wajah, warna rambut dan sifat mereka.


“Bang, gendong!” ucap gadis kecil berumur 5 tahun manja pada Arsen. Ia adalah putri satu-satunya Sakinah dan Andrean, namanya Jamila Ryker Van Hallen. Sering dipanggil Mila.


“Baiklah.” Wajah dingin dan datar itu berubah lembut, lalu menggendong adik kesayangannya.


Mila menempelkan kepalanya di bahu Arsen dengan manja, ia membelai kepala gadis kecil itu dan menepuk-nepuk pelan punggungnya. Arhen dan Ardhen juga mendekat.


“Princes Mila, capek, ya? Mau Uda masakin sesuatu nggak?” tanya Ardhen menyentuh hidung adiknya. Mila membalikkan wajahnya ke arah ceruk leher Arsen, mengabaikan.


“Ahahahha! Sudahlah, kalau ada Abang, kita berdua hanya seperti tiang penyangga!” ucap Arhen terkekeh saat mendapati penolakan dari adik kesayangannya.


Kini, sampailah mereka di penginapan. Setelah puas bermain dan membeli oleh-oleh.


“Mom capek?” Tiga putranya mendekat dan bertanya, lalu langsung memijit Sakinah. Arhen di bagian tangan, Ardhen di bagian kepala, lalu Arsen di bagian kaki.


“Gimana Mom, udah mendingan?” tanya Ardhen.


“Hu'um.” sahut Sakinah memejamkan mata, merasa rilek saat dipijit sikembar.


“Kamu bagaimana studinya di Italia?” Sakinah membuka matanya menatap ke arah Ardhen.


“Ya ... masih berjalan lancar Mom, tidak seperti Abang yang hanya kuliah 2 tahun langsung selesai, otaknya kayak mesin komputer, aku 'kan otaknya gak kayak gitu, Mom,” jawab Ardhen.


“Makanya belajar, jangan fokus praktek masak aja!” sahut Arsen menimpali.


“Aku 'kan memang sekolahnya memasak, Bang. Ya, jadi banyak memasak lah,” sahut Ardhen tak mau kalah.


“Benar, kau kuliah jurusan tata boga, tetapi setiap studi itu, kita juga akan ada pelajaran umum seperti statistika, management, matematika, sains dan lainnya juga. Jadi, jangan fokus masak aja, dong,” jelas Arsen dengan wajah dinginnya, tangannya masih memijat telapak kaki Sakinah lembut.


“Hm, ya,” jawab Ardhen pelan. Kalah berdebat dengan Arsen, sedangkan Arhen hanya terkekeh kecil mendengarkan.


“Kau juga, Arhen!” Arsen menoleh menatap tajam pada adik satunya lagi.


“Eh? Ah, iya, Bang.” jawab Arhen tersenyum kecut.


Sikembar lebih cepat tamat sekolah dari pada anak usia sebayanya, jadi terlebih dahulu masuk ke perguruan tinggi. Padahal sebelumnya, mereka bertiga sudah sengaja melambatkan dan mengikuti jalan pikiran teman-temannya agar terkesan seperti anak normal. Namun, karena mereka genius, hasil tidak bisa menipu. Akan tetapi, Arsen melebihi kemampuan berpikir Arhen dan Ardhen, dia adalah anak yang Genius sejak dulu.


Ardhen memilih kuliah di Italia, sedangkan Arsen di Inggris. Tempat yang telah lama mereka idam-idamkan. Sedangkan Arhen tetap kuliah di Belanda. Perjanjian tiga anak kembar itu, salah satu diantara mereka harus menetap di Belanda untuk menjaga sang Ibu.


Arhen memilih menetap, ia ingin kuliah santai di Belanda dengan meniti karirnya. Setelah itu, barulah ia akan meniti karir artis go internasional. Ya, begitulah rencananya!


Entah berapa lama mereka memijit Sakinah, hingga wanita itu terlelap. Tiga anak laki-laki itu, terkhusus Arsen, langsung menggendong ibunya ke atas ranjang. Ardhen dengan sigap merapikan ranjang dan meletakkan bantal.


Setelah meletakkan Sakinah di ranjang, Arhen menutupi tubuh ibunya dengan selimut. Lalu, ketiga putra kembar itu, mencium pipi ibunya bergantian, lantas keluar dari ruangan itu dengan suara pelan, agar tak membangunkan sang ibu.


“Mom kalian sudah tertidur?” tanya Andrean, ia tengah menemani Mila menonton film kartun.


“Sudah, Pa,” jawab Ardhen.


“Kemarilah, gendong sama Kakak.” pinta Arhen, ia menjulurkan kedua tangannya, hendak mengambil adik perempuannya dari pangkuan sang ayah.


“Enggak mau, maunya sama Abang!” tolaknya membuang muka.


“Hei! Kenapa kau begitu tidak adil pada Kakakmu ini, Princes?!” Arhen cemberut, Mila mengabaikan dan mengulurkan tangannya pada Arsen.


Biasanya, adik perempuannya ini selalu digendong oleh Arhen, sewaktu Arsen di Inggris. Akan tetapi, jika sudah ada Arsen, siapapun ia tidak peduli lagi, yang ia inginkan hanyalah kakak laki-laki pertamanya, Arsen.


...****************...


Happy reading Arlove💓