Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Apartemen Dedrick


Sakinah dan anak-anak sudah rapi. Sekar telah pergi terlebih dahulu keluar bersama Monessa. Entah kemana mereka pergi.


“Clara, tolong sampaikan kami akan pergi bermain bersama, mungkin akan pulang sedikit malam.” ucap Sakinah.


“Baik Nyonya Muda, akan saya sampaikan.” jawabnya.


Mereka bertiga pun pergi dengan mobil pribadi milik Arhen yang dibelikan Dedrick beberapa saat yang lalu untuknya. Satu bodygourd duduk menyetir, satu orang lagi duduk disamping sopir. Ya, Arhen dan Ardhen memiliki masing-masing satu pengawal multitalenta. Pintar, seni bela diri bagus, sigap, setia dan bisa diandalkan apapun juga.


Mereka berdua sering curiga saat Arhen dan Ardhen menemui Arsen, namun kecurigaan itu terus ditepis, apalagi perjalanan mereka ini harus dirahasiakan pada siapapun. Ya, mereka hanya mengetahui Arsen anak teman Ibu mereka, sehingga mereka sangat dekat. Jadi, apapun yang mereka dengar, harus dirahasiakan, tanpa ada penjelasan dari Arhen atau Ardhen. Adapun mereka hanya menerka tanpa bertanya.


“Tuan Muda, kemanakah kita akan pergi?”


“Ke apartemen biasa kami pergi.” sahut Arhen dengan wibawa.


“Baik, Tuan Muda, akan kami antarkan.”


Perjalanan mereka tak terlalu lama dan sekarang sampailah mereka di depan apartemen.


Sebelum sampai di apartemen Arsen, Arhen dan Ardhen berbelanja dulu bersama pengawal mereka, meninggalkan Sakinah dilorong jalan apartemen sendirian.


Brug! Tanpa sengaja Sakinah menabrak tubuh seseorang saat ia memutar badan. Ya, yang ia tabrak memang sengaja menghampirinya.


“Kakak Ipar!”


“Kinah!”


“Kamu mau kemana?” tanya Dedrick.


Sakinah gugup, ia merunduk, ia garuk hidungnya. “Jalan-jalan saja, Kak. Kalau Kakak hendak kemana?”


“Mau ke sebelah sana,” tunjuk Dedrick arah apartemen Andrean. “Ada yang harus dikerjakan.” ucapnya ramah.


“Apa perlu aku hubungi Andrean atau asitennya, David atau Alex asitenku untuk menemanimu?”


“Tidak Kakak Ipar, makasih telah menghkhawatirkanku.”


Dedrick tersenyum, “Itu tidak masalah, wanita sepertimu bahaya sendirian seperti ini keluar. Kalau begitu aku antar saja ya.” tawarnya.


“Tidak Kak. Aku kemari bersama anak-anak. Mere-” Belum selesai Sakinah menyelesaikan kalimatnya, Arhen sudah memotong pembicaraannya.


“Papaaaaa, kami kemari mencari Papa.” Arhen langsung berlari ke dalam pelukan Dedrick.


“Sayang, kenapa tidak telepon Papa saja? Lalu, kenapa kalian bisa menebak Papa di sini?” tanya Dedrick.


“Apa Papa masih meragukan keahlianku? Bahkan jika Papa sedang bersembunyi dilubang semut sekalipun, aku akan menemukan Papa.” ucap Arhen bangga, mentoel hidungnya sendiri dengan ibu jari tangannya.


“Iya ya, anak Papa memang keren.”


“Hm, kami sudah membeli makanan, ayo kita masuk ke apartemen Papa.” Arhen berjalan lebih duluan, mengarah ke apartemen Andrean.


“Darimana kamu tau ini apartemen Papa?”


“Ish, tadi Papa bilang aku keren, sekarang bertanya lagi, dasar plinplan.”rungut Arhen. “Ayo, buka pintunya Pa.” Arhen tersenyum di depan pintu apartemen Dedrick.


Dedrick tersenyum kecil dan membuka pintu apartemennya.


Kinah dan Ardhen perlahan mengikuti gerakan dua orang didepannya, mereka berdua terkejut, saat mengetahui apartemen Dedrick dekat dengan apartemen Arsen.


“Ayo, masuk.”


“Silahkan masuk, Kinah.”


Di sudut sana, sepasang mata tengah menatap ke arah mereka sejak tadi, saat pertama kali Sakinah bertabrakan dengan Dedrick hingga wanita itu masuk ke dalam apartemen, kemudian pintu apartemen tertutup.


“Kakak, untuk pertama kalinya kau membuka pintu dan mempersilahkan orang lain masuk ke dalam apartemenmu selain aku dan Alex. Apalagi orang lain itu adalah seorang wanita. Apa kau sangat menyukai istriku?”


“Kenapa Kakak? Kenapa kita harus memiliki selera yang sama?”


Andrean berjalan pergi masuk kembali ke dalam apartemennya. Tadi, awalnya karena Dedrick lama datang, ia berniat mendatangi apartemen Abangnya sendiri, ada masalah yang mereka bahas, sangat penting.


Andrean tidur tertelentang diatas sofa, menatap langit-langit ruangan.


“Tuan Muda, apakah Anda tidak menemukan Tuan Dedrick? Apa perlu saya menghubungi Alex?” tanya David.


“Tak perlu, Kakak ada urusan. Jika urusannya selesai, ia pasti akan datang sendiri.”


Ia duduk di atas sofa, karena tak sabar ia menunggu, ia hidupkan laptopnya yang berwarna keemasan. Memeriksa CCTV disekitar apartemen, agar segera mengetahui Ibu dan adiknya sudah sampai dimana.


Tak disangka, pemandangan yang ia tonton sangat mengejutkan, Ibu dan adiknya bertemu Dedrick dan masuk ke dalam apartemen pria itu yang disaksikan oleh ayah kandungnya, Andrean.


Di dalam apartemen Dedrick, Arhen dan Ardhen sangat riang.


“Wah, Papa, aku suka dengan apartemen Papa.” puji mereka berdua.


“Benarkah? Ini Papa pertama yang mendekornnya.” jawab Dedrick tersenyum.


“Oh.” jawab berdua tak seriang tadi.


“Papa kalian itu sangat keren, ia sangat pintar,pemberani dan kuat.”


“Oh.”


“Dulu, dia sering mendapatkan juara, banyak piala, orang-orang menyukainya.” ucap Dedrick masih tersenyum, pikirannya menerawang ke masa lalu.


“Oh.” Lagi, jawab kedua anak itu hanya oh dengan malas.


Dedrick mengusap kedua kepala anak laki-laki itu. “Semoga kalian memahami maksud Papa suatu saat nanti.”


“Itu dulu Pa, jangan dibahas lagi. Lebih baik kita masak-masak.” Arhen membuka kantong kresek mereka.


“Ayo, Ardhen, kita masak. Mom dan Papa duduk saja dulu, tunggu masakan kami terhidang ya!”


Arhen membantu Ardhen memotong-motong bahan masakan, lalu Ardhen memasak dengan tangannya yang lincah. Awalnya mereka berniat memasak di apartemen Arsen, tetapi kini semuanya tak sesuai rencana.


“Ekhem, apa kamu mau minum sesuatu Kinah, biar aku ambilkan.” ucap Dedrick, sejak tadi mereka hanya diam saja, padahal duduk saling berhadapan.


“Tidak, Kak. Terimakasih.”


Kembali mereka duduk dalam diam sampai Arhen dan Ardhen menghidangkan makanan.


“Papa, kami akan merayakan ulangtahun kami dengan teman nanti, apakah boleh?”


“Kapan? Dimana?”


“Di rumah teman, beberapa hari lagi.”


“Baiklah, kirimkan alamatnya, Papa akan mengirimkan barang-barang yang diperlukan.”


“Tidak perlu, Pa. Nanti dia tersinggung, kami kalah bermain dengannya, dia dan kami sama-sama ulangtahun dihari yang sama, jadi kami akan merayakan bersama dengannya.”


“Tapi, Grandma dan Grandpa pasti tak akan setuju.”


“Makanya kami beritahu Papa, tolong katakan dan minta izin pada Grandma dan Grandpa. Jika mau dirayakan, keesokan harinya saja. Kami gak mau dicap dengan pria ingkar janji.” jelas Arhen.


“Kami adalah keturunan Van Hallen yang memiliki harga diri yang tinggi.”


“Hehehe. Anak Papa memang sangatlah keren.” ucap Dedrick terkekeh.


“Baiklah, kalau begitu, Papa coba, semoga Grandma dan Grandpa setuju.” lanjut Dedrick.


“Tetapi, apakah kalian sudah minta izin pada Mom kalian?” Dedrick melirik Sakinah.


“Sudah dong, nanti kami juga akan meminta izin pada Papa pertama juga.”


“Hm, bagus, anak pintar.” Dedrick mengelus kepala kedua anak laki-laki itu lembut.


Kemudian, Mereka pun memakan masakan yang dimasak oleh Ardhen dan Arhen.


____________


Sekar beberapakali mengernyitkan keningnya, baru sehari ia kenal dengan Monessa, wanita itu sudah menunjukkan taringnya.


Awalnya ia bilang mual, tak naafsu makan, ia ngidam ingin makan ini dan itu, minta ditemani oleh nenek bayinya. Tetapi ujung-ujungnya belanja, beli baju ini dan itu, tas ini dan itu, dengan alasan ngidam. Sekar tersenyum kecut.


‘Sepertinya kau tak akan pernah menjadi menantuku.’ gumam Sekar. Ia terus saja mengumbar senyum pada Monessa.


‘Nikmatilah sekarang, sebelum putra-putraku mengajarimu menjadi seorang wanita yang pantas menjadi bagian keluarga Van Hallen.’


...***...