
“Menurutmu, kue mana yang rasanya mendekati Banana Cake?” lanjut Arhen.
“Sweet Potato Cake!” tunjuknya pada kue berwarna ungu yang terbuat dari ubi jalar ungu.
“Hm, ok! Tolong beri saya itu!” pinta Arhen mengedipkan mata.
“Silahkan duduk Tuan, di ujung sana atau di sana,” Gadis Pelayan toko itu mempersilahkan.
“Tidak, saya ingin duduk di sini!” tegas Arhen.
“Hm, itu-”
“Kakak!” Terdengar suara Ardhen berseru dengan wajah berseri. “Kau sudah datang sejak tadi? Kenapa kau tidak menelfonku, hah? Hampir saja aku pergi bersama Cleo, untung saja aku menghubungi Kak Lucas karena penasaran kapan syuting Kakak selesai!” Ardhen langsung memeluk Arhen, mencium pipinya kiri dan kanan.
“Dasar anak kecil, kau masih menciumiku seperti itu? Kau sudah besar tau!” Arhen mengacak rambut coklat tua milik Ardhen.
“Hahaha, emangnya siapa lagi yang harus kucium, kalau bukan Kakak, Mom, dan Jamila!” Ardhen langsung duduk merapat di samping Arhen.
“Ada Abang dan Papa!” jawab Arhen.
“Papa? Princes Mila 'kan cemburuan, aku cium Papa pasti dia marah-marah, terus nangis. Kalau Abang, tau aja deh sendiri, dari dulu mana suka dicium dan dipeluk!”
“Hahaha! Siapa bilang Abang tidak suka, dia suka kok, makanya kau seharusnya lebih agresif sama dia!” Arhen mencubit pipi Ardhen.
“Awwch! Kakak! Sakit!” seru Ardhen. Arhen malah terkekeh.
“Ekhem, gadis cantik ini pekerja barumu, aku baru melihat dia!” selidik Arhen.
“Oh, Rufia, kenalkan ini Kakak kembar keduaku, Arhen Ryker Van Hallen!” ujar Arhen.
“Kenalkan, Kak! Dia teman kuliahku, Rufia.”
“Rufia!”
“Arhen!”
Dua orang itu saling berjabat tangan.
~~
Beberapa saat yang lalu.
Setelah makan bersama, Abraham langsung pulang karena sudah dijemput oleh sopir pribadi yang dikirim Ibunya.
Sakinah berbincang-bincang dengan Rufia yang ditemani Clara, sedangkan Ardhen sibuk menelfon seseorang sejak tadi. Kini, Sakinah sudah bisa bahasa Belanda dan Inggris, walaupun tidak lancar dan tetap butuh Clara sebagai pendampingnya. Sakinah masih memiliki guru untuk belajar, Andrean selalu memintanya belajar, agar tidak bosan di mansion dan lebih lancar lagi dalam belajar berbahasa.
“Sabar, ya, kamu harus kuat.” Sakinah menggenggam tangan Rufia hangat saat mendengar cerita kisah hidup gadis itu secara garis besar.
“Iya, makasih, Mom!” sahut Rufia, dadanya terasa berdebar dan menghangat saat berbincang dengan Sakinah. Apalagi saat Sakinah meminta dia memanggil Mom juga, seperti teman-teman Ardhen lainnya.
Ardhen berjalan mendekat ke arah mereka, sedangkan Jay dan Jamila sibuk bermain game di laptop.
“Ayo, kita ke Vend Boutique Mom,” ajak Ardhen.
Tak lama, mereka sampai di Vend Boutique.
“Ayo, masuk, Rufia!” ajak Arhen.
“Selamat datang Nyonya, Tuan Muda dan Nona Muda,” sapa orang-orang yang ada di dalam toko itu.
“Mari, silahkan duduk!” pinta pria paruh baya itu. Ia adalah Tuan Samer, koki kesayangan Ardhen, dulunya ia bekerja di resto milik Alex, asisten pribadi papa kedua, Dedrick.
Mereka pun duduk bersama, Tuan Samer langsung mengangguk kan kepala pada seseorang yang sejak tadi masih berdiri menghadap pada mereka, kemudian gadis itu juga mengangguk dan beranjak pergi yang diikuti oleh lainnya.
Setelahnya, tak berapa lama berbagai menu makanan tersaji di atas meja. Ada puding mangga kesukaan Jamila, banana Cake kesukaan Ardhen, kepiting asam pedas lauk kesukaan Sakinah, ice cream coklat kesukaan Jay, dan berbagai macam lainnya.
Ardhen langsung mengambil sepotong banana cake itu, memakannya dengan lahap. “Paman, kuenya sangat enak, masih dengan rasa yang sama, selalu menjadi kue favoritku.” puji Arhen.
Tuan Samber tersenyum. “Ayo, silahkan,” Ia menatap pada Rufia dan Clara yang tampak masih canggung, sedangkan Sakinah kini sedang menyuapi Jay dan Jamila bergantian, Ia tak ingin dua anak itu berkelahi dan ribut.
Seperti biasa, Jamila selalu melarang apapun, ice cream coklat ia ambil juga karena ia tahu Jay menyukainya, saat Jay mengambil puding, ia juga mengambil puding, lalu Jay mengambil yang lain, itu juga diambil oleh Jamila, selain banana cake, karena Jay tidak suka banana cake.
“Paman, ini Rufia, dia temanku dari Italia. Teman yang aku ceritakan tadi padamu di telfon,” jelas Ardhen.
“Rufia, kenalkan, ini Paman koki kesayanganku yang selalu mengajarkanku berbagai macam menu masakan dari dulu, dia juga yang mengerekomondasikan serta membantuku masuk ke universitas di Italia, jurusan tata boga,” terang Ardhen kembali.
“Rufia!”
“Samber!” Mereka berdua saling berjabat tangan.
Setelah menyantap hidangan, Ardhen dan Tuan Samber mengajak Rufia berkeliling toko, mengenalkan semua orang yang bekerja di toko ini dan bahan-bahan kue pada Rufia.
Setelah Rufia diperkenalkan, ia juga diantar ke rumah kosong dibelakang toko yang bersambung dengan toko.
“Tempat ini, dulunya saya yang huni bersama Abraham, sekarang kosong. Kamu tinggalah di sini, di samping dan belakang itu tempat tinggal karyawan yang lain.” Ardhen menunjuk bangunan sekitar.
Rufia melihat tempat yang ditunjukkan Ardhen dengan seksama, interiornya sederhana, rapi tapi terlihat elegan, lembut dan sejuk dipandang mata, terasa sangat nyaman.
“Terimakasih, Ardhen!”
“Semoga kamu betah di sini Rufia,” tutur Ardhen tersenyum lembut.
Ardhen sekeluarga pun memilih pulang ke Mansion, kini tinggallah Rufia di Vend Boutique.
Rufia kembali berjalan ke depan setelah merapikan barang-barangnya ditempat yang diperuntukkan Ardhen untuknya, ia menemui Tuan Samber yang tampak telah mulai sibuk kembali, toko sudah kembali di buka, tadi rupanya toko itu di tutup sementara karena Ardhen sekeluarga datang berkunjung.
Rufia tidak terlalu tahu bagaimana Ardhen dan keluarganya, namun ia bisa merasakan jika Ardhen adalah orang cukup berada, dihormati banyak orang.
“Permisi, Tuan Samber!” sapa Rufia dalam bahasa Inggris.
“Oh, iya Nona Rufia,” jawab Tuan Samber, “ada yang bisa saya bantu?” tanyanya menatap Rufia.
Rufia tidak bisa bahasa Belanda, jadi dia masih menggunakan bahasa Inggris untuk berkomunikasi karena ia biasanya menggunakan bahasa Italia.
“Tuan, boleh kah saya mulai bekerja hari ini untuk membantu-bantu?”
Tuan Samber tanpa berpikir sejenak, kemudian ia menatap Rufia dari atas sampai ke bawah menelisik.
“Baiklah, bagaimana kalau kamu di bagian depan, meja resepsionis! Kamu cantik, tampilan menarik, di depan juga cuma ada satu resepsionis! Ayo, mari ikuti saya!”
Tuan Samber dan Rufia pun akhirnya berjalan menuju meja resepsionis, Rufia dikenalkan pada teman sebelahnya.
“Selamat bekerja, Nona!” ucap Tuan Samber menyemangati.
Awalnya, dia sedikit gugup, tetapi akhirnya juga bisa. Lalu, kini, ia sedang menyambut seorang pria yang sangat tampan sendirian karena teman sebelahnya sedang izin ke toilet, ia tidak bisa bicara bahasa Belanda, namun bisa mengerti, sedangkan pria di depannya selalu menggunakan bahasa Belanda.
Akan tetapi, ia lebih tercengang lagi, rupanya pria tampan itu adalah saudara kembar Ardhen, Kakak keduanya. Rufia sampai tidak berkedip menatapnya, dua pemuda tampan itu sangat berbeda, dilihat dari sudut manapun tidak bisa mengatakan mereka kembar, bahkan untuk adik kakak sekalipun!