
Ardhen mengirim pesan pada Cleo dan Abraham untuk segera menghubungi Rufia, mencari kabarnya, setelah mendengar penuturan dari Haizum, rencana busuk yang tersusun dengan sangat detail oleh beberapa orang.
Waktu itu,
Haizum terburu-buru ingin mengganti pakaian dalamnya karena tamu bulanan nya bertamu mendadak, seharusnya datang seminggu lagi, malah datang kecepatan. Pemuda di sampingnya tampak tak ada, pemuda tampan nan sering menggodanya, baru beberapa hari masuk menggantikan Rufia di meja resepsionis Vend Beutique.
Tuan Samber akhir-akhir ini sakit, mungkin karena umurnya yang tak muda lagi, di tambah dia terlalu sering di dapur, panasnya api kompor tak baik untuk kesehatan orang sebaya dia. Jadi, Ardhen memintanya istirahat, hanya boleh datang untuk mencheck sebentar saja, tidak boleh bekerja lagi. Ardhen memfasilitasi Tuan Samber seperti biasa, mendapatkan jaminan uang gaji tiap bulan, tanpa harus kerja keras seperti biasa, memasak dengan sangat banyak.
Karyawan-karyawan Ardhen juga bertambah banyak, Haizum memanggil seorang Karyawan, minta tolong berdiri di kasir sebentar, walau dia telah mengunci laci dan membawa kunci itu.
Dia terburu-buru masuk ke toilet, karena toilet khusus wanita di sebelah penuh, dia berlari ke toilet pria karena sangat terdesak, dia tak ingin noda darah merembes ke rok kerjanya. Dia masuk ke bilik toilet, membuka celana d*alamnya.
“Fiyuhhhh, bener 'kan, pantesan aja tadi rasanya tuh kek hangat,” gumam Haizum melihat celana itu ada bongkahan darah kotor. “Untung aja aku selalu siap sedia membawa celana dan pembalut,” ujarnya berbangga hati.
Haizum memang tipe orang rapi, teliti dan bersih, tas yang selalu ia bawa selalu berisi barang-barang lengkap, seperti hansaplas, betadine, minyak kayu putih, make up, sisir, cermin, pembalut mini untuk keputihan, pembalut besar untuk haid, deodoran, farfum dan lainnya.
Dia mengganti celana, membersihkan celana yang kotor, lalu memasukkan ke dalam kantong kresek setelah dicuci bersih. Dia membersihkan tangannya, kemudian saat dia hendak keluar, dia mendengar suara langkah kaki dan pintu dibuka. Ia urungkan membuka pintu bilik toilet jadinya.
Toilet ini hanya memiliki tiga bilik kamar, Haizum memilih bilik kamar toilet paling ujung, sedangkan yang baru masuk memilih di tengah. Pintu sama-sama tertutup semuanya, toilet ini memang sangat hening, apalagi saat Haizum mendengar suara langkah kaki tadi dia langsung duduk diam di closet. Dia tidak ingin dikira cabul karena masuk ke dalam toilet pria.
Sedangkan pemuda itu mengira benar-benar hanya dirinya yang ada di dalam seorang diri sekarang.
“Iya Boss, tenang saja, aku sudah mendapatkan data gadis yang bernama Rufia itu! Data perusahaannya juga sudah kudapatkan, tetapi data Vend Beutique ini sukar Boss, tetapi tenang aja, aku akan terus berusaha mendapatkannya.” Terdengar suara pria berkata setengah berbisik.
Mendengar nama Rufia, perusahaan, dan Vend Beutique, Haizum menyaringkan telinganya, sedikit menempelkan telinga di dinding, agar terdengar jelas suara yang nyaris berbisik-bisik di keheningan kamar kecil itu.
“Besok pagi? Jam 10? Baiklah!”
‘Apanya yang besok pagi, jam 10?’ pikir Haizum.
“Baik, aku akan menjalankan sesuai rencana, besok aku akan menjalankan rencana di sini, tetapi besok jadwal dia ke kantor, biasanya akan kembali ke Vend Beutique ini setelah sore. Oh, ok, ok!”
‘Rencana?’
Tak lama terdengar pula langkah kaki, laki-laki itu langsung mematikan panggilannya.
“Sony, kau masih lama?” Terdengar suara memanggil seseorang.
“Oh, sebentar perutku mules nih!” jawab laki-laki yang baru saja menelfon itu.
‘Apa? Dia anak baru?’ gumam Haizum.
“Iya, cepetan, itu Haizum juga pergi ke toilet, dua meja penting tak ada kalian, cepetan!”
“Iya, iya!” jawabnya. Lalu, berpura-pura menekan tombol air untuk membilas kotoran. Dua pria itu pun segera berjalan ke luar.
Setelah mendengar langkah pergi dan pintu tertutup, Haizum dengan cepat keluar dari toilet itu, dia langsung ke meja kasirnya. “Maaf ya, lama.”
“Iya, tidak apa-apa Zum, kamu ada bawa pembalut dan itu 'kan?”
“Hahah, ada dong. Aman, makasih ya!” jawab Haizum.
“Hai, kita sehati ya, sama-sama pergi ke toilet,” sapa Sony sok akrab. Benar, sejak masuk, Sony selalu bersikap sok akrab dan mengikuti dirinya, padahal pada perempuan lain dia tampak dingin dan cuek. Sikapnya itu sering disalah artikan banyak orang, termasuk Haizum juga, awalnya dia berpikir jika Sony tertarik padanya, tetapi setelah mendengar telepon tadi, dia berubah pikiran.
“Oh, ya, nanti pulang kerja kita pulang bareng ya, ada mie ramen di simpan jalan sana, dagangan baru, kabarnya sih enak, mau tidak?” ajak Sony.
“Oh, boleh deh.”
Sony tampak tersenyum lebar mendengar jawaban Haizum. Tiba-tiba Arsen datang, memesan banyak makanan dan memilih bersandar dengan wajah lesu di pojok sana, tak lama Ardhen pun juga datang, entah apa saja yang mereka perbincangkan, tetapi wajah keduanya tampak serius.
Haizum memperhatikan mereka terus. “Zum, kau tertarik dengan Boss kita?” Sony menatap Haizum.
“Semua wanita juga tertarik pada manusia seperti dua makhluk tampan itu,” jawab Haizum masih menatap Arsen dan Ardhen di pojok sana.
“Oh, tertarik karena tampan, kalau aku bagaimana?”
Haizum memandang, menelisik dari ujung kepala sampai bawah. “Kau juga tampan, Sony.”
“Apa kau juga tertarik padaku?”
“Ya,”
“Serius?”
“Hahaha, tertarik karena tampan, bukan gimana-gimana ya!”
***
Malam hari pun Haizum tak bisa tidur, tadi saat dia makan mie ramen dengan Sony, pemuda itu tampak buru-buru bahkan meminta maaf karena tidak bisa berlama-lama dan menemani Haizum ke rumah belakang Vend Beutique.
Ya, Haizum diberi fasilitas rumah belakang, karena dia karyawan tetap, bagian kasir yang sangat dipercaya oleh Ardhen dan Tuan Samber.
Haizum merasa curiga, dia mencoba mengikuti Sony, tetapi dia kehilangan jejak pria itu. Hingga pagi ini, dia terus saja menguap.
“Hei, kau kurang tidur ya? Apa kau berdebar dan memimpikan aku semalam?” seloroh Sony.
“Ya, aku memikirkan dirimu,”
“Wah, serius?” Sony tersenyum lebar.
“Ya, serius.”
“Memikirkan apa, tidak yang buruk-buruk 'kan?” tanya Sony memiringkan kepalanya, menatap Haizum dengan tersenyum.
Diakui, Sony memang tampan, Vend Beutique seolah merekrut manusia tampan dan cantik di sana. Benar-benar manusia indah yang bekerja di sana semua. Koki juga tampan, bahkan Tuan Samber yang sudah tua saja masih terlihat berkarisma dan menggoda.
“Gara-gara kau berkata seperti itu, aku jadi berpikir buruk tentangmu, loh!” ujar Haizum.
Saat mereka berbincang, waiter datang meletakkan dua minuman dan makanan di hadapan mereka berdua.
“Nih, jatah makan kita!” ucap Sony.
“Iya, kamu lanjut aja dulu sarapannya, aku nanti saja!” Haizum langsung pura-pura sibuk melihat hp sambil menunggu tamu.
Satu orang satpam tampak aneh, berputar-putar tidak jelas dari tadi, lalu mengunci pintu dari luar.