Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Pupil Abu-abu


Keesokan harinya,


Sekar berkacak pinggang, menghalau para wanita yang mencari putra keduanya itu di kantor. Ya, hari ini, bukan hanya Arhen yang ikut ke kantor, tetapi juga Sekar.


“Dasar wanita-wanita liar!” rungutnya.


“Kau lihat Sayang, Grandma sudah mengusir wanita itu. Papamu harus Grandma ajari dulu cara mengusir mereka. Kamu harus kembali ke ruangan Papa kedua. Grandma harus menemui Papa pertamamu dulu. Ok!” bujuk Sekar pada Arhen.


“Baiklah, Grandma. Aku akan menunggumu di ruangan Papa. Cup!” Arhen mengecup pipi Sekar.


“Anak pintar.” Sekar memberikan jempolnya untuk Arhen.


Setelah mengusir tiga orang wanita di ruangan resepsionis tadi, ia berjalan ke dalam ruangan Andrean, ruangan Manager Personalia.


Di sana juga ada David dan Asistennya. Kedua orang itu memberi salam hormat pada Sekar.


“Mama ingin berbicara denganmu, berdua! Ayo, ikuti Mama.”


Sekar berjalan ke ruang rapat, yang juga diikuti oleh Andrean. Di sana, hanya ada mereka berdua kini.


“Apa yang kau lakukan kemarin? Jadi, ini yang kamu bilang tidak? Kamu sengaja pindah ke apartemenmu untuk bersenang-senang dengan wanita.”


“Kenapa kau melakukan itu Andrean? Kau sudah punya anak dan istri! Belajarlah dewasa dan bertanggungjawab.”


“Arhen bahkan setiap hari melihat wanita menempel padamu, kemarin dia selalu menanyakanmu dan pergi ke apartemenmu karena mengkhawatirkanmu, tapi kau malah bersama wanita liar. Mama tak habis pikir dengan ulahmu! Sampai kapan kau begini?!”


“Tak bisakah kau menghargai istrimu, Sakinah? Berhentilah main perempuan? Apa untungnya untukmu. Jika kau ingin, Sakinah juga bisa. Dia wanita yang baik, tidak seperti pacar-pacarmu yang mata duitan itu.”


“Semua wanita itu sama, Ma. Bahkan Mama juga suka uang Papa 'kan?”


Plak! Satu tamparan keras dari Sekar.


Ini untuk pertamakalinya dia menampar putranya itu.


“Mama membela wanita itu?!” Andrean menatap Sekar.


“Iya. Kau memang tak pantas menjadi ayah anak-anakmu, Andrean. Mama sungguh kecewa padamu.” ucap Sekar tegas, Ia membalik badannya dan pergi meninggalkan Andrean.


Air matanya juga menetes sepanjang jalan, tak sedikit pun ia tolehkan wajahnya ke belakang. Apakah dia salah mendidik putranya selama ini? Ataukah memang benar dia terlalu memanjakan anaknya yang satu itu?


Andrean terdiam, mengelus pipinya yang sakit. Ia tersenyum getir. Papa marah padanya, selalu membela Dedrick, hanya Mama yang membelanya, sekarang wanita itu juga Marah. Apakah Kakak laki-lakinya itu juga akan marah? Ya, sepertinya dia juga marah, dari sorot matanya yang tajam saat diapartemen kala itu.


Andrean bertumpu, ia memejamkan matanya, mengingat kejadian dimasa lalu.


Beberapa tahun yang lalu.


Andrean baru menamatkan pendidikan menengah, ia hendak masuk ke universitas ternama. Tak sengaja ia menabrak seorang gadis cantik, bermata bulat dengan warna pupil abu-abu kebiruan.


Ia pun mendekatkan diri dengan wanita itu, hingga terjalinlah suatu hubungan diantara mereka yang disebut berpacaran.


Beberapa bulan mereka berhubungan, hubungan itu sangat harmonis, ia sangat mencintai gadis itu, hingga Andrean ingin memperkenalkan kekasihnya pada Dedrick. Ia ingin mendapatkan restu dari Kakaknya, ingin mendapatkan dukungan.


Ia membawa gadis cantik itu ke apartemen yang baru dibeli oleh Dedrick, namun pria itu sedang keluar.


“Baby, Kakak ku sedang berbelanja, sebentar lagi dia akan datang.”


“Iya, tidak apa-apa.” jawabnya sembari menatap setiap sudut apartemen itu.


Cukup lama Andrean dan kekasihnya menunggu. Dedrick tak kunjung datang, hingga sebuah pesan masuk jika Dedrick tak bisa kembali.


“Baby, Kakakku tak bisa pulang. Aku akan mengantarmu.”


“Aku tak ingin pulang, aku masih ingin main.” rengeknya.


“Baiklah, kamu mau main kemana?”


“Aku ingin beli baju baru.”


Hari-hari terus berlanjut, hingga ia mendengar perseteruan. Gadis yang menjadi kekasihnya itu mengejek Dedrick bersama teman-temannya tanpa sepengetahuan mereka.


Lalu, Diam-diam Andrean mengikuti setiap gerak gerik wanita itu setelahnya, Gadis itu memiliki pacar selain dirinya, gadis itu berperilaku sama pada pria itu, bermanja-manja, lalu minta belanja. Andrean mengepal tangan membentuk tinju. Cinta tulus yang ia berikan hanya dibandingkan dengan benda.


Andrean bertahan, masih pura-pura tak tahu, perlahan ia mencaritahu masalah apa antara gadis itu dengan Kakaknya. Rupanya gadis itulah yang membuat Kakak yang sangat ia sayangi itu menjadi trauma.


Dulu Andrean sangat ingin menjadi Kakaknya yang sangat hebat dan pintar, ia rajin belajar, hingga mendapatkan nilai bagus yang membanggakan, bahkan lebih sering mendapatkan prestasi dari Dedrick.


Karena sebuah trauma, membuat Andrean mengalah demi mendapatkan kasih sayang dan perhatian kakaknya. Ia selalu berusaha menjadi anak kecil, bersifat ceroboh, agar diperhatikan Dedrick.


Ia tak bisa menerima perempuan itu menghina Dedrick. Ya, wanita itu mengira Dedrick hanya anak orang biasa, kerena Dedrick menutupi jati diri. Berbeda dengan Andrean yang mendeklarasikan namanya dengan sebutan Van Hallen, itulah alasannya gadis itu mau berhubungan dengannya.


Mereka jatuh hati pada wanita yang salah.


Andrean sakit hati, ia bermain ranjang dengan teman-teman wanita itu, melepaskan keperjakaannya. Perbuatannya itu diketahui oleh gadis itu, ia marah-marah pada Andrean. Namun apa yang selanjutnya terjadi.


Gadis itu malah membuka bajunya. “Jika kau menginginkan tubuhku, kenapa harus bermain dengan temanku. Aku kekasihmu, aku akan bermain denganmu.” ucapnya.


“Aku tak bisa!”


“Kenapa?”


“Kau menghina Kakakku!”


“Baby, aku bahkan belum bertemu dengan kakakmu, bagaimana mungkin aku menghina calon kakak iparku.”


“Baiklah, kalau begitu tidurlah dengan Kakakku jika kau tak menghinanya.”


“Andrean, aku kekasihmu bukan kekasih kakakmu!” seru gadis itu.


“Oh, biar aku tanya satu hal, apa kau mencintaiku?”


“Tentu saja aku mencintaimu.”


“Jika aku miskin, bukan keturunan Van Hallen, apa kau masih mencintaiku?”


Gadis itu terdiam sesaat. “Ya.” jawabnya, tapi tak senyaring jawaban pertama.


Andrean tersenyum kecut. “Bagus, aku mencintai kakakku, jika kau mencintaiku maka tidurlah dengannya. Baru aku percaya kau mencintaiku.” tutur Andrean.


“Jika aku tidur dengan Kakakmu, kau percaya padaku kalau aku mencintaimu?” tanya wanita itu.


“Ya.“ jawab Andrean.


“Baiklah, kalau begitu, aku bersedia tidur dengan kakakmu.” ucap gadis itu.


Detik itu juga, Andrean merasa jijik, seluruh rasa cintanya sirna pada gadis itu.


‘Ya, aku percaya kau hanya mencintai hartaku. Tak mungkin seorang wanita bersedia tidur dengan pria manapun kecuali dengan pria yang ia sukai.’ gumam Andrean kecewa.


“Baiklah, kita akan ke hotel sekarang.”


Andrean membawa gadis itu masuk ke dalam kamar, menyuruhnya memakai baju sexsy yang sangat menggairahkan.


“Tunggulah Kakakku datang, setelah kau bisa membuat Kakakku percaya, aku akan percaya padamu.”


“Apa Kakakmu sudah tua?”


“Dia masih muda, hanya berjarak 5 tahun denganku.”


“Tunggulah di sini.”


Andrean keluar, meninggalkan gadis itu sendirian di dalam kamar.


...***...