Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Musyawarah


Perselisihan antara Hanum dan Tek Sariman akhirnya di bawa ke rumah gadang baronjong, balai adat. Bu RT dan Ibu-ibu lainnya sudah berkumpul.


Bukannya selesai, malah ibu-ibu lain juga kena sembur omelan oleh Tek Sariman dan Hanum, tentu saja perkumpulan itu menjadi kacau, antara ibu yang satu dengan yang lainnya ribut, mulai dari bahas pinjam bawang sama cabe gak bayar, sampai hutang beras di mesin giling padi, bahkan sampai tersebar pencurian pakaian dalam.


Akhirnya, Bu RT menelepon suaminya, Pak RT.


Pak RT yang tadi sedang berkumpul dengan Andrean para bapak-bapak lainnya mendatangi balai adat.


“Ibu-ibu, mohon tenang, ada apa ini?” Pak RT mulai bicara.


Ibu-ibu itu mulai perlahan diam, tenang, kemudian terkesima menatap wajah tampan Andrean.


“Bule.” bisik salah satu ibu-ibu.


“Iya, kabarnya pemilik perusahaan Wilz Plantsgroup berkunjung ke desa. Mungkin saja bule ini.” balasnya berbisik juga.


“Ada apa ini Dik Hanum, Bu Sariman?” tanya Pak RT, karena mendapatkan penjelasan panjang dari istrinya, jika ini semua bermulai dari mereka berdua.


“Adiknya si Hanum bawa orang asing buat nyerang anak saya, Pak!” jawab Tek Sariman.


“Woy, tante-tante peyot! Anakmu saja yang kelakuannya nauzubillah! Adikku mah, baik!” jawab Hanum tak kalah sengit.


“Dik Hanum, Bu Sariman, tolong tenang. Jawab saja pertanyaan saya, bukan yang lain. Ini kenapa bisa seperti ini, coba ceritakan lebih awal dan terperinci.” pinta Pak RT.


“Begini Pak RT. Anak saya, Erik, mengabari saya jika Abangnya Edi dikeroyok oleh Hasan dan kawannya orang asing. Saat saya sampai di lapangan, saya melihat sudah ada gepulan asap tebal. Anak saya Edi sudah pingsan bersama kawan-kawa-” Belum selesai Tek Sariman bicara, Hanum langsung memotong.


“Tidak mungkin! Itu akal-akalan kau saja Tante Peyot! Adikku anak yang baik! Lagian dengan siapa dia akan mengoroyok anakm-”


Tek Sariman memotong kembali perkataan Hanum. “Siapa yang kau bilang Tante, kau wanita gatal yang tak sadar diri, hutang sana sini, banyak gaya, sok berduit padahal miskin, nih bercermin di pantatku!” Ia menunjuk pantatnya. Untungnya kali ini, ia tak membuka celananya. Kalau tidak, bisa berdosa semua mata kaum para bapak termasuk Andrean.


“Hentikan!” teriak Pak RT lantang. “Kita di sini bukan mendengarkan perkataan konyol yang tidak berfaedah, tetapi menyelesaikan masalah. Tolong panggil Erik dan Hasan kemari.” pinta Pak RT.


Belum selesai perundingan, sudah terdengar teriakan dan perkelahian anak-anak dari arah berlainan. “Ada apa lagi itu?!”


Sebagian bapak-bapak mendatangi tempat itu, terlihat di sana Arhen dan Ardhen di keroyok oleh Erik dan kawannya, lalu Arhen dan Ardhen dibantu oleh kelompok Sudin.


“Hentikan! Apa-apa an kalian ini? Ini ajaran yang kalian berikan pada anak-anak? Kalian mencontohkan cara untuk bertengkar?!” maki salah satu bapak-bapak menatap gerombolan ibu-ibu.


Anak-anak sudah di lerai dan di dudukan bersama di balai adat itu. Pak RT, Bu RT dan Andrean tentu saja terkejut dengan hal ini karena salah satunya ada sikembar.


Wajah Andrean tampak buruk, setelah melihat wajah putra-putranya memar. Ia langsung berdiri dan berkata dengan keras. “Ada apa ini? Apa desa ini tidak aman untuk anak-anak dan wanita?!”


Mendengar itu, bapak-bapak mulai merinding, malu, dan segan. Andrean adalah tamu yang berharga bagi mereka, yang memberikan banyak bantuan pada desa, terlebih lagi ia pemilik perusahaan yang ada di desa, tempat banyak masyarakat menggantungkan nasibnya selain bertani dan beternak.


Erik berdiri dan berkata. “Pak RT, dua anak ini salah satu kelompok yang menyerang Abangku.” tunjuknya.


“Kami?” Arhen berdiri, lalu berkacak pinggang. “Kau ini ular beracun, ya! Kenal saja tidak denganmu, kenapa kau menuduh kami, kau yang memukul kami terlebih dahulu bersama kelompokmu.” Arhen menatap tajam Erik.


“Kau punya saksi Erik, jika mereka berkelompok memukul Abangmu?” tanya Pak RT.


“Saksinya Abangku dan kelompoknya, tetapi mereka sekarang sedang sakit dan dirawat.” jawab Erik.


“Yang dikatakan Erick dusta Pak RT, Arhen dan Ardhen bersama kami sejak tadi. Kami datang kelapangan bersama-sama, saat di lapangan Bang Edi dan kawan-kawannya sudah seperti itu. Tapi tiba-tiba, Tek Sariman langsung memukul Arhen dan Ar-” Pembelaan Sudin terpotong karena Andrean menggebrak meja.


“Apa?! Memukul mereka berdua?! Apa-apaan ini?!” Wajah Andrean menjadi merah, ia sangat marah.


“Tenang Nak Andrean, kita bisa selesaikan ini dengan baik-baik.” Pak RT menenangkan Andrean.


Andrean memang diam, tapi dia menatap tajam Erik dan Tek Sariman tak berkedip.


Tak lama, seseorang yang diminta mencari Hasan telah membawa Hasan dan Arsen bersamaan.


Arsen menatap ke sekeliling kerumunan. Dua adiknya berada di depan, Ayahnya juga duduk di samping Pak RT dengan wajah kesal.


“Itu dia yang melukai Abang Mak!” tunjuk Erik pada Arsen.


“Apa maksudnya? Hasan, untuk apa kau berteman dengan anak haram ini!” seru Hanum. Ia langsung menarik Hasan.


Ya, Hanum masih ingat dengan wajah Arsen. Anak laki-laki yang sangat menjengkelkan, sama dengan ibunya. Begitulah menurut Hanum.


‘Anak haram?!’ gumam Andrean dengan mata menyalang sempurna, ada kilatan kemarahan yang sangat besar saat ia melihat ke arah Hanum.


“Tante, kenapa mulutmu nyaring sekali seperti kaleng kosong?” ucap Arsen menatap Hanum.


“Apa kau bilang, Anak haram?!” Hanum langsung berjalan ke depan dan menjewer telinga Arsen. Sontak Andrean langsung berdiri, ia tak tahan lagi menahan emosinya.


“Nona, tolong Anda lepaskan tangan Anda, dari telinga putra saya!” ucap Andrean menggenggam tangan Hanum sekuat tenaga. Hanum melepaskan dan meringis. Ia lihat pergelangan tangannya yang dicengkeram Andrean berwarna merah.


“Kau Sariman istri Pak Agus, kau Hanum istri Buyung Galeme!” Andrean menatap tajam dua wanita itu, lalu menoleh pada dua lelaki yang sejak tadi sudah menjilat padanya. “Kalian berdua, Pak Agus dan Buyung Galeme, Anda saya pecat. Kalian tidak berhak memperkenalkan anak kalian pada putra-putra saya!”


Andrean langsung menggendong Arhen dan Ardhen. “Ayo, Nak.” Ia tatap Arsen.


“Iya, Pa.” Arsen memegang ujung baju Andrean. Mereka berempat keluar dari ruangan musyawarah itu.


Semua orang tercengang, langsung berteriak histeris. Tidak ada yang menyadari seorang pun sejak tadi dengan wajah tampan Arhen yang terpampang di balai adat itu, karena pertengkaran. Setelah Andrean menggendong dan mengucapkan kata 'Putraku' baru lah mereka menyadari dan menyesalinya.


“Untung saja aku tidak ikut-ikutan tadi!”


“Tidak kusangka, anak tampan yang menjadi temanmu itu Arhen Ryker Van Hallen yang ada diposter, Din.” ucap Ibu Sudin senang.


“Agung, kenapa kau tidak bilang, temanmu putra pemilik perusahaan!”


Beberapa perkataan terdengar, masalah perkelahian itu menghilang dengan sendiri, bahkan orang-orang tak peduli lagi dengan Hanum dan Tek Sariman.


“Kau, Aaaaah!” Pak Agus menjambak rambutnya frustasi, ia tidak bisa berkata apa-apa lagi pada istrinya.


“Akau ko! 'Kan alah den kecek an, jan bacakak juo. Gara-gara kau, Aden kanai barantian karajo, lah sanang hati kau?!” geram Buyung Galeme.


(Kau senang, aku akhirnya di pecat. Dasar kamu, aku sudah mengatakan padamu, jangan lagi bertengkar dengan siapapun)