Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Bangkai Helikopter


Arsen bersama Xander Pim dan belasan pengawal memakai jacket anti peluru, mobil khusus, serta membawa senjata, menuju ke perusahaan Ardhen.


Saat dia sampai di sana, langkahnya menjadi terhenti, perusahaan itu telah berkobar api besar, empat mobil pemadam kebakaran telah menyiram gedung itu, karyawan-karyawan banyak yang terluka dan pingsan.


Arsen hendak masuk ke dalam, tapi tangannya dicegat oleh Xander Pim. “Tuan Muda, tenanglah, mungkin Tuan Muda Ardhen sudah diselamatkan, mari kita lihat ke sana!” tunjuk Xander Pim di posko darurat.


Arsen mencari keberadaan Ardhen, menanyakan pada petugas, pada perawat, dan sopir ambulans yang berdiri di sana, hingga akhirnya matanya tertuju pada Cleo yang mendapatkan tembakan di lengan dan bekas luka di bagian kakinya.


“Cleo!” panggil Arsen. Pemuda itu tidak menjawab, dia memejamkan matanya, hanya tangannya yang bergerak dan mulutnya meracau tidak jelas, karena menahan sakit.


“Tuan Muda, saya Sekretaris kedua Tuan Ardhen, mari ikut saya!” ajak seorang pria muda berkata di belakangnya, saat dia masih menatap Cleo.


Arsen mengangguk, lalu menggenggam tangan Cleo yang tidak terluka, sedangkan lengan satunya lagi sedang diobati secara darurat sebelum ambulan melaju pergi.


“Cleo, tenang, kamu harus kuat, semua akan baik-baik saja,” hibur Arsen sebelum pergi. Lalu, tak lama mobil ambulance itu pun pergi membawa Cleo yang telah mendapatkan pertolongan pertama, dengan perban di lengan, dipasangkan infus, serta oksigen.


Arsen berjalan ke pojok paling kanan, tempat yang sedikit lengang dari kerumunan. “Tuan Muda, sebelum musibah ini terjadi, ada seorang wanita memaksa tuan Ardhen pergi. Maaf, kami sungguh ceroboh, kami tidak mencegahnya karena Tuan Ardhen mengizinkan tangannya ditarik oleh wanita itu dan dia mengikuti wanita itu untuk pergi. Ini rekaman yang sengaja aku ambil diam-diam, saat dia menarik Tuan Ardhen dengan hp saya,” jelas pemuda itu.


Arsen mengambil video itu, gambarnya sedikit kurang jelas dan suaranya tidak jelas, karena pemuda itu mencuri-curi merekamnya, tampak seorang wanita menarik paksa Ardhen dan Cleo terkekeh. Wanita itu kusut dan berkeringat, menyandang sebuah tas.


“Apa kita bisa ke tempat cctv utama? Maksudku di kantornya, bukan di sini!” Arsen menatap perusahaan yang telah hangus terbakar itu.”


“Sebelumnya aku sudah mencoba membuka rekaman Tuan, tetapi ada yang tidak beres, maaf jika aku lancang, sejak kedatangan gadis itu, aku menjadi curiga,” terang pemuda itu lagi.


“Kau bekerja dengan baik, siapa namamu?” puji Arsen.


“Namaku Edwin Freek.”


Arsen berpikir, juga sambil melihat titik koordinat semua orang. Dia tidak ingin mengambil langkah terburu-buru, karena orang dibalik ini, pasti bukan orang bodoh sembarangan, dia telah menyusun rencana seditail mungkin.


“Tapi--”


Arsen menatap Edwin yang meragu.


“Tapi-- ada yang melihat, Tuan Ardhen naik ke atas gedung, dan lift VIP juga tidak digunakan, karena ada karyawan khusus yang bekerja di sana tidak melihat mereka menggunakan nya. Maaf....”


“Ke atas?” Arsen berpikir, lalu tersenyum. “Kalau begitu, tolong perintahkan orang, apakah menemukan bangkai helikopter di atas atap gedung!” pinta Arsen.


“Baik!”


“Bagus, segera kabari aku, aku harus pergi dulu!” Arsen beranjak dari sana.


Arsen hendak menuju titik koordinat Hans dan Roselia berada, karena keberadaan Ibu dan adik-adiknya sudah ada Andrean dan David, Dedrick dan Alex bersama pengawalnya ke sana.


Mereka pun bersama melaju ke arah titik koordinat Hans dan Roselia berada.


***


Jika membahas Calista, wanita yang sedang memiliki bayi beberapa bulan itu telah terbang ke Jerman bersama kedua orang tuanya. Sebelumnya, Calista adalah wanita yang energik, pintar dan aktiv, sejak dia memiliki tiga orang putra, dia menghabiskan waktunya di rumah menjadi seorang istri yang baik. Membantu Dedrick menjaga anak-anak, kebutuhan mereka, terkadang juga membantu pekerjaan Dedrick yang dia bawa pulang.


Calista sudah merasa curiga setelah Dedrick bercerita perusahaan mereka diserang, bahkan perusaan Andrean dan Arsen juga. Belum lagi saat dia meletakkan cctv di mobil King dan mobilnya. Ada beberapa mobil dan orang yang terlihat aneh mengintai mereka. Cctv rumah mewahnya juga memperlihatkan orang-orang aneh dari kejauhan. Seolah mereka sedang dipantau.


Calista bermusyawarah dengan kedua orangtuanya. Ayah Calista, seorang pengusaha pintar dan kuat, dia memiliki banyak orang-orang hebat dan pintar, setara dengan keluarga Van Hallen.


Ada satu hal yang disembunyikan dari publik dan orang lain. Sebuah rumah kecil di bawah tanah, di daerah Jerman yang dimiliki oleh Ayah Calista.


Rumah itu dulunya adalah bekas ledakan bom saat peperangan. Lubang besar yang awalnya tak berbentuk, dibentuk dan dibangun menjadi rumah mewah yang elit di dalamnya, ada pipa-pipa ventilasi menjulang ke atas untuk mencari oksigen.


Calista telah mengatur jadwal penerbangannya menggunakan jalur ekonomi, ala rakyat jelata, menggunakan data pelayan yang bekerja di butik yang baru ia dirikan, butik yang tidak diketahui orang siapa pemiliknya selama ini.


Sedangkan data ayah dan ibunya, memakai data palsu dua orang yang sudah meninggal dunia aslinya, tetapi mereka masih memakai data dua orang itu karena mendapatkan izin waktu mereka hidup dulu. Dua orang itu adalah saudara adopsi Ayah Calista yang tidak dipublikasikan karena mereka mati mendadak saat kecil di perusahaan anggur ayahnya.


Calista tengah menyusui anak bungsunya, sedangkan anak satunya lagi sedang di peluk oleh ibu Calista.


“Ma, apa Dedrick bisa membawa King dan yang lainnya dengan selamat....”


“Calista, percayalah, mereka semua pasti selamat. Kamu punya bayi yang masih kecil, jangan sampai banyak pikiran, nanti air susumu jadi tidak banyak berproduksi, kasihan si kecil tampan ini.”


“Iya, Ma.”


Ayah Calista duduk seorang diri, menatap kolam yang airnya berwarna kehijauan. Mereka tidak akan menghubungi Dedrick atau siapapun dulu, karena setelah mengabari mereka telah sampai, semua sinyal langsung dimatikan, mereka langsung turun ke lantai dasar bangunan. Bangunan di bawah tanah itu ada empat tingkat, dan lantai ke lima adalah rumah kecil yang tampak dipermukaan.


Jika mereka akan menghubungi seseorang, mereka akan naik ke atas, duduk di teras rumah kecil, karena hanya di sana signal di aktivkan, agar bangunan di bawah tanah tidak terdeteksi.


Bayi kecil yang disusui Calista pun tertidur, Calista membaringkannya, begitu juga dengan putra keduanya sudah tertidur sejak tadi dipangkuan neneknya.


Calista mengambil putra keduanya dari tangan sang Ibu, membaringkan di sebelah adik bayinya dan membatasi mereka dengan bantal dan guling, lalu mereka berdua duduk di samping anak-anak itu sambil menatap dan mengelus pipi mereka.


“Semoga Papa kalian sehat dan selamat, Kakak pertama kalian juga, agar kita berkumpul kembali, semua masalah pun selesai. Cup! Cup!” Calista bergumam dan diakhiri dengan kecupan lembut di kedua pipi putra-putranya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terimakasih masih setia membacanya.💓