Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Selai


Perjalan karir Arhen selama tiga tahun ini semakin cemerlang, ia adalah artis nomor satu termahal, menjadi trending topik di manapun, mulai dari segi penampilannya, kehidupan dan percintaan pemuda tampan berambut emas itu.


Kisah asmaranya yang berakhir satu hari dan paling lama seminggu menjadi topik panas setiap weekend nya, ia selalu mengencani perempuan-perempuan berkelas, artis papan atas yang sama main film dan iklan bersamanya, yang digosipkan cilok, alias cinta lokasi, gadis-gadis dewasa dan mandiri, pebisnis busana dan farfum, yang paling dikenal oleh banyak orang adalah desainer cantik Eline Fey, gadis muda nan cantik yang masih dalam masa kuliah, namun telah membuka butik dan berbagai perhiasan.


Eline Fey yang dulunya tergila-gila pada Arsen, entah kenapa menjadi kekasih Arhen selama seminggu, mereka terpotret oleh wartawan sedang makan di restoran mewah, lalu masuk ke dalam satu mobil yang sama, dengan mesra.


Lucas, manager serba bisa yang sangat dipercaya oleh Arsen untuk membantu Arhen, sakit kepala menghadapi kelakuan artisnya ini. Lucas tahu betul, sebenarnya Arhen tidak pernah mengencani para gadis itu, tetapi pemuda tampan ini selalu membiarkan gosip miring menimpanya.


Lucas duduk berseloncor di sofa, mengembus nafasnya kasar beberapa kali.


“Lucas! Nanti kau bisa sesak nafas, dari tadi menghela nafas terus!” tegur Arhen.


“Bagaimana tidak! Kau selalu menebarkan berita ini dan itu!” jawabnya dengan ketus.


“Kapan aku menebar berita? Aku bukan penulis, jurnalis, ataupun wartawan. Aku ini artis, hehehe!” sahut Arhen terkekeh.


“Kau menebarnya bukan dengan cara menulis, tapi kau sumber yang akan ditulis! Aku sudah sering katakan padamu, jika kemana-mana tolong beritahu dulu, jangan langsung ingat langsung pergi, perhatikan penampilanmu dan tempat yang akan kau kunjungi! Baru saja berita kau berkencan dengan putri direktur Bank Central Starnema selesai, kau sudah pergi dan bertemu dengan putri pemilik Club Star! Sedangkan berita skandalmu dengan Eline Fey belum selesai! Haaaaaah!” Lucas menghela nafas di akhir kalimat.


“Em, 'kan ada kamu dan Abang yang akan nyelesein,” kata Arhen tersenyum tanpa dosa.


“Kaaaau! Ah, sudahlah!” Lucas merasa frustasi. Ia akhirnya memilih diam dan memejamkan matanya.


Arhen terkekeh dan bersiul, lalu berdiri, hendak berjalan pergi.


“Kau mau kemana lagi? Istirahatlah di sini, sebelum giliranmu shooting!” Lucas berkata dengan mata yang masih terpejam.


“Iya, aku hanya ingin mengambil minuman! Hahahaha!” Arhen masih saja terkekeh.


***


Abraham, Ardhen dan Cleo telah bergabung di perusahaan makanan yang selama ini dijaga oleh Ibu Abraham dan Cleo.


Ardhen tetap menjadi Direktur Utama sebagai pemilik perusahaan ini, Sedangkan Abraham dan Cleo menjadi wakil direktur, memiliki saham 35 % masing-masing.


Tiga pemuda ini sudah mulai sibuk dengan pekerjaan baru mereka, lebih tepatnya sedang mempelajari sampai mereka bisa dan terbiasa.


Beberapa berkas dan laporan menumpuk di meja mereka. Ruangan mereka disatukan dalam ruangan besar, sedangkan ruangan Ibu Abraham dan Ibu Cleo sama dengan ruangan sekretaris mereka.


“Selai? Aku rasa sih bisa, namun jika campuran ... kurasa susah, minuman campuran dengan rasa teh banyak, kita bisa mengaplikasikan beberapa minuman dengan daun teh, namun untuk selai kurasa susah. Bagaimana menurutmu Abraham?” Cleo menatap Abraham yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.


“Menurutku juga begitu Dhen, jika minuman, mungkin kita bisa mengaplikasi beberapa, seperti Apple tea, Grape tea, fruits tea, milk tea, mint tea, dan lainnya. Kalau selai, kebanyakan masyarakat lebih menyukai selai rasa buah.” terang Abraham.


“Hm, begitu ya!” Ardhen pun mulai membalik berkasnya dan mempelajari berkas lain.


Perusahaan yang mereka rintis bertiga, lebih memusatkan makanan, seperti kue-kuean, selai, kerupuk-kerupuk, kacang-kacangan, dan lainnya.


“Oh ya Sob, kerupuk bayam kriuk cukup laris di pasaran, sama kerupuk wortel! Lihat deh!” Abraham menunjukkan berkas yang ia pegang pada Cleo yang duduk tak jauh darinya.


Cleo menelisik berkas itu. “Wah, hebat!” Cleo berseru senang, Abraham dan Cleo tersenyum menatap berkas itu. Kemudian Cleo mengantarkan berkas itu ke meja Ardhen yang menoleh pada mereka.


“Nih, lihat, kenaikan produksi kita dan permintaan konsumen!” tunjuk Cleo.


Ardhen menatap berkas itu dengan rinci, “Bagus!” puji Ardhen, “kita bisa menambah cita rasa baru, seperti sweet potato.” lanjut Ardhen. Kemudian memberikan kembali berkas itu pada Cleo. “Oh, ya! Keripik kentang dan ubi singkong bagaimana? Masih bertahan di rata-rata permintaan konsumen atau menurun?” tanya Ardhen.


“Aku periksa dulu!” jawab Abraham.


Beberapa saat Abraham sudah menemukan datanya dan menjelaskannya pada Ardhen.


“Permintaan konsumen masih di rata-rata.”


“Baiklah kalau begitu, nanti setelah pulang dari kantor, aku akan ke Vend Boutique untuk mencoba memasak kerupuk terbaru sweet potato! Aku akan mencoba mengolah dengan berbagai rasa.” terang Ardhen.


“Baiklah, kami akan pergi ke sana juga nanti!” sahut Abraham.


“Tapi ... sepertinya aku tak bisa datang, aku harus menyelesaikan berkas itu!” Cleo menunjuk tumpukan berkas yang ada di mejanya. Lalu tersenyum melirik tumpukan berkas di meja Abraham.


“Ah, aku bisa mengerjakan nanti di Vend Boutique!” jawab Abraham.


“Ya, aku tahu! Kau sekalian hendak melihat Rufia 'kan? Hihihihi!” Cleo terkikik.


“Hehehe!” Ardhen juga ikut terkekeh.


“Dasar kalian!” sungut Abraham.