
“Ini makanan untukmu.” ucap Calista, seperti biasa, ia selalu memberikan makanan untuk Dedrick, mulai dari makanan dibeli hingga ia masak sendiri, berbagai macam tolakan yang ia dapat dari Dedrick, ia masih saja menawarkan makanan.
Namun siang ini Dedrick tak menolaknya, ia bahkan memakan makanan itu, Calista sendiri bahkan tak percaya, ia menepuk-nepuk pipinya sendiri sampai mencubit tangannya sendiri.
Dedrick memakan makanan itu tanpa berkata sepatah katapun, ia memakannya sampai habis.
“Pulang kerja, sore nanti, temani aku.”
“Hah? I-Iya.”
“Baiklah, makananmu sudah ku habiskan, kau bisa keluar sekarang 'kan?” pinta Dedrick bicara lebih lembut dan sopan dari pada biasanya pada Calista, bahkan pria itu menatap wajah Calista, mata mereka saling beradu pandang.
Waktu terus berputar hingga jam pulang pun tiba.
Drrt! Drrt! Hp Calista bergetar di kantongnya, ia mengabaikannya hingga beberapa kali bergetar.
“Cih, siapa sih, ganggu aja!” rungut Calista sebal, perlahan ia keluarkan hp nya.
“My Hero, My Love!” Calista membaca nama yang menelfonnya.
“Iya, ada yang bisa saya bantu, Pak?” ucap Calista mengangkat telepon itu dengan sopan layaknya Sekretaris mengangkat telepon atasan.
‘Ekhem! Sudah tidak waktunya bekerja lagi, aku tak menyuruhmu lembur juga, tak perlu seformal itu. Kamu sudah siap?’ Terdengar Dedrick menyahutinya dari sebrang sana.
“Ah, maaf, sedikit lagi, saya sedang bersiap.”
Jujur, kali ini Calista lupa akan ajakan Dedrick, biasanya ia sering menunggu bahkan jauh lebih awal, namuan Dedrick tak datang. Entah karena ia terlalu bahagia karena makanannya untuk pertama kali dimakan oleh Dedrick tadi, hingga ia lupa dan sangat serius dalam bekerja hingga lupa waktu.
**
Di tepi pantai di pinggir kota, tempat yang cukup sepi dengan pengawasan ketat, karena tempat itu milik pribadi.
Dedrick duduk di atas kursi kayu jati yang menghadap pantai. Di sebelahnya Calista duduk dengan gugup dan bingung.
‘Dia kenapa? Aneh, dia hanya diam saja sejak tadi. Sebenarnya dia mau ngajak kesini untuk apa?’ gumam Calista dalam hati.
“Aku sebenarnya suka pantai, bukan kebun ataupun taman.”
“Hah?”
Selama ini, bertahun-tahun ia mendekatkan diri pada Dedrick, belum pernah ia lihat Dedrick bermenung atau main dipantai. Ia lebih sering melihat Dedrick duduk ditaman atau pun kebun raya yang menjadi tempat pariwisata umum.
“Kau ingat, dulu aku memakai jacket hitam, topi dan masker, diam-diam pergi ke kebun raya, tetapi kalian mengikutiku. Di sana kau dan Andrean bertengkar, hingga kita mendapatkan masalah, kita pun akhirnya ketahuan.”
“Aku tahu, kau sengaja menyiram bunga berlama-lama agar aku bicara denganmu saat aku membaca buku di taman. Jelas-jelas menyiram bunga adalah tugas para Maid. Tempat itu bukanlah tempat yang kusukai, aku hanya butuh tempat itu. Taman tempat yang sunyi untuk membaca dan menyegarkan sedangkan kebun raya tempat yang bisa membuatku berubah pikiran setiap melihatnya, moodku bisa berganti cepat ke lebih baik.”
Dedrick mengambil sesuatu di jasnya.
“Ini untukmu!” Dedrick menyodorkan permen lolipop yang cukup besar untuk Calista, lalu satu lagi untuknya, ia buka sendiri dan ia jilati.
Calista menatap permen lolipop itu lama.
‘Hiks ... hiks ... hiks ... aduh ... kakiku, sakit!’ Calista kecil menangis, lututnya berdarah karena terjatuh.
Dedrick yang hampir tumbuh remaja berjalan mendekat dengan ekpresi wajah Dinginnya.
Greb! Ia langsung menggendong Calista sambil memanggil pelayan, ia dudukan Calista di sofa dekat teras mansion, setelah itu pelayan segera mengobati luka dikakinya.
‘Huhuhuhu ... sakit, aduh!’ ringis Calista kecil menangis.
‘Tahan sebentar lagi Nona, ini hampir selesai.’
Setelah obat selesai dioles, Calista masih saja sesengukan.
‘Berhentilah menangis, ini untukmu!’ Dedrick memberikan permen lollipop untuk membujuknya.
“Kenapa kau hanya menatap permen itu? Apa kau tidak suka?” tanya Dedrick membuyarkan lamunan Calista.
“Aku menyukai apapun yang kamu berikan.”
Dedrick tersenyum, lalu mengelus kepala Calista.
Wajah Calista memerah, sentuhan tangan yang sangat lama tak pernah ia rasakan lagi.
‘Pintar,’ puji Dedrick pada Calista kecil, lalu mengelus kepalanya.
‘Bagus!’ Lagi, Dedrick memuji sembari mengelus pucuk kepala Calista kecil.
Calista masih mengingat betul, bagaimana ia berusaha keras agar mendapatkan pujian dan elusan kepala dari Dedrick.
Perubahan sikap Dedick padanya saat ia menyatakan cinta, lalu secara agresif mengejar cintanya, ia selalu ditolak. Kini, ada apa dengan pria itu? Ia mengelus kepala Calista yang sudah sangat lama ia hindari.
Calista menjilat permen lolipop itu.
“Calista!” panggil Dedrick, ia menatap Calista.
“Iya, Kak, Ded, ah ... m-” jawab Calista terbata, ia tiba-tiba saja gelagapan, canggung menjadi satu.
Kini, ia ragu harus menjawabnya dengan apa. Jika diperusahaan ia akan memanggilnya dengan sebutan Pak, kalau dulu biasanya ia memanggil Kakak, tetapi sejak masalah itu ia hanya memanggil dengan sebutan Dedrick. Padahal di dalam hp nya tertulis, My Hero My Love.
“Panggil aku senyamanmu saja.”
“Hm, i-iya, Kak.” jawabnya canggung.
“Apa kau masih mencintaiku seperti yang kau katakan saat itu?” tanya Dedrick.
“Ah, i-iya, ma-masih, Kak.” jawabnya terbata, wajahnya memerah.
“Ke-kenapa Kakak menanyakan itu?” Calista wanita cantik pemberani berubah jadi kucing imut didepan Dedrick.
“Aku hanya ingin memastikannya saja, benarkah kamu mencintaiku atau hanya sebuah rasa obsesi.”
“Kau berkata menyukaiku pada saat aku menolongmu dari jatuh, lalu semakin hari menyukaiku. Aku hanya merasa kau terlalu obsesi padaku, sama seperti Andrean yang ingin selalu aku perhatikan sejak dulu. Kau dan Andrean sama besar, bahkan kalian satu sekolah, kau selalu membeli apapun yang Andrean beli dan sama-sama memberikannya saat Andrean memberikan sesuatu padaku.”
“Setelah kau menjadi gadis cantik, banyak pria yang mengagumimu, namun kau merasa kesal karena aku selalu saja mengabaikanmu. Setelahnya, kau semakin ingin mendapatkan aku karena tak ada wanita yang aku kencani.“ terang Dedrick.
“Bukankah begitu menurutmu Calista?”
Calista terdiam, mencerna setiap kalimat yang diucapkan oleh Dedrick.
‘Benarkah selama ini aku hanya terobsesi? Bukan karrna mencintainya?’ Calista berpikir keras.
**
Andrean membatu saat ia hendak membuka pintu mobilnya, ia melihat Sakinah keluar dari parkir apartemen. Yang ia ketahui, di sana hanya ada apartemen dirinya dan Dedrick, Sakinah pasti tidak akan mengenal siapapun selain mereka.
“Jadi, ini alasanmu cepat keluar dari kantor Kak? Kau bilang sedang tidak enak badan, pergi menenangkan diri? Apa obatnya adalah istriku? Kalian bertemu diam-diam dibelakangku?”
“Apa kau terlalu nyaman bersama Kakakku Kinah?”
Andrean masih menatap tajam, mengamati. Terlihat Sakinah masuk ke dalam mobil.
“Arhen, Ardhen, putra-putraku, aku menyayangi kalian dan Ibu kalian, tak pernah aku berniat melukainya, namun sepertinya aku memang tak bisa membuat ia nyaman.”
Kesalahpahaman yang semakin berkelanjutan, Sakinah pergi ke apartemen Arsen, ia hanya merindukan putra pertamanya itu. Arsen sudah beberapa hari tidak menghubungi, ia khawatir, apalagi hatinya memang sedang tak baik-baik saja saat memikirkan suaminya akan menikah lagi dengan Monessa.
...***...