Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Pujian


Arhen tidur menghadap ke samping kanan dengan memeluk guling, memang itulah kebiasaannya. Aini yang berada di sampingnya juga menghadap ke samping kanan, tepatnya melihat punggung yang membelakanginya. Gadis itu tak bisa tidur sejak tadi, dadanya berdebar hebat. Ia masih merasa ini mimpi, jadi ia tak ingin memejamkan mata, ia takut terbangun dari mimpi indah ini.


Dia sangat bahagia menikah dengan Arhen.


Aini mendekat sedikit demi sedikit, tapi ia ingin menatap wajah Arhen, akhirnya dia memilih turun dari ranjang pelan-pelan, berjalan berinjit ke arah kepala Arhen.


Menatap pemuda tampan yang tertidur pulas itu. “Kau bisa tidur nyenyak ya?” gumam Aini.


“Bagaimana bisa aku tidur, kau saja belum tidur, sejak tadi bergerak, bahkan sekarang menatapku,” jawab Arhen sambil membuka matanya perlahan.


“Eh!” Aini terlonjak kaget, dia pikir Arhen sudah tertidur pulas. Soalnya dari tadi hening tak ada gerakan. “Emmm, maafkan aku!” Aini malu sekali, ia langsung naik ke atas ranjang dan masuk ke dalam selimut, menutupi dirinya.


Tadi....


Saat mereka sama-sama dari balkon kamar, Arhen berkata.


“Malam ini kita akan tidur seranjang, aku harap kau tidak berpikir tidur di sofa itu!” tunjuknya pada sofa di hadapan ranjang. “Aku tidak akan melakukan perbuatan buruk, aku tidak akan memaksa juga, jadi jangan khawatir. Sejak membaca ijab qobul, aku dan kamu adalah sepasang suami istri, bukan orang asing yang tidak halal. Jadi, biasakan dirimu denganku, belajar tidur seranjang denganku!”


“Ah, iya!” jawab Aini patuh. ‘Kenapa dia bisa menebak isi kepalaku, tadi aku baru saja akan bertanya, apakah aku tidur di sofa? Apa yang akan kita lakukan setelah ini,’ Aini melanjutkannya bergumam dalam hati.


Arhen melepaskan pakaian atasnya, hanya membiarkan cel*ana pendek tersisa, membuat iman gadis itu meloyo, dada dan perutnya sangat bagus, otot tangannya terlihat seksi, kulitnya yang terlihat enak jika dikunyah.


“Selamat malam,” ucapnya tersenyum, sungguh menggoda iman Aini. Lalu, berbaring menghadap ke kanan memunggungi Aini.


Aini menahan diri, gelisah, ingin ia peluk dari belakang rasanya punggung lebar dan besar itu. Tapi ia cukup tau diri dan malu, sehingga ia bergerak dan berputar kanan dan kiri sejak tadi.


**


“Kenapa kau tidak bisa tidur?” Arhen menelentangkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar. Perlahan Aini membuka selimut yang membungkus tubuhnya, menyembulkan sedikit wajahnya.


“Aku gugup, dadaku berdebar dan aku malu,” jawab Aini pelan.


Arhen tersenyum kecil. “Aku juga,” sahutnya.


Setelah menjawab seperti itu, suana menjadi hening beberapa saat. Hingga Arhen kembali membuka suara. “Apa aku ... em, boleh menciummu?” tanya Arhen hati-hati dengan pipi merah merona.


“Boleh,” jawab Aini sangat pelan, bahkan bibirnya bergetar saking berdebarnya saat menjawab.


Arhen perlahan mendekat. Mencium kening Aini. “Mm, selamat tidur!” ucap Arhen salah tingkah.


Dua insan itu kini sama-sama berdebar hebat dengan pipi merah merona.


***


Jay telah duduk di hadapan Arsen.


“Ceritakan apa yang terjadi?” tanya Arsen menatap Jay tajam.


“Di sekolah ada dua anak perempuan mengejek Jamila, Bang. Kata mereka, pakaian Adik itu kayak orang gila, juga mirip seperti penjahat.”


“Lalu?”


“Setelahnya, Mila marah dan menarik rambut dua anak perempuan itu.” Arsen mengangguk, seolah bangga dengan perbuatan adik perempuannya itu. “Tibalah seorang anak laki-laki, dia menarik hijab Mila, sehingga Mila sesak napas karena tercekik hijabnya sendiri, dua perempuan yang sudah terlepas itu, menginjak-injak cadar Mila dan meludahi Mila juga.” Mendengar penjelasan itu, Arsen terlihat menyeramkan.


“Aku langsung melerai, tapi aku juga dipegang dua anak perempuan itu, sehingga King juga datang membantu, menendang dua anak perempuan itu. Setelahnya, aku dan Jay menendang anak laki-laki itu juga sampai Mila terlepas.” Jay masih menjelaskan kronologi.


“Mila tak terima, apalagi mendengar tiga orang itu masih mengejek dia, bahkan mengejek kami berdua juga. Mila mengejar mereka yang berlari, karena kesal, dia membakar taman, tiga anak itu sangat suka bermain di taman, banyak tugas tanaman yang mereka miliki dipajang di sana,” terang Jay.


Arsen mengelus dagunya. “Siapa saja tiga keluarga itu?”


“Aku tak tahu jelas, Bang. Akan tetapi, Kak Hans tahu,” jawab Jay.


“Baiklah, kau istirahatlah.”


“Iya, Bang.”


Saat Jay hendak keluar dan membuka pintu, dia berkata, “Kau pantas memakai jam black mag dan cincin blue safire!” Pujian yang membuat pipi Jay memerah.


Pria idolanya sedang memujanya.


“Makasih, Bang!” jawabnya tersenyum.


Dia keluar dari ruangan kerja Arsen, berjalan dengan cool sampai ke kamar. Saat tiba di kamar, dia meloncat-loncat kegirangan.


“Abang memujiku, Yes! Abang memujiku!” Memeluk bantal dengan lukisan wajah Arsen.


...----------------...