
Sejak kejadian saat itu, Ibu-ibu, Bapak-bapak dan anak-anak, menjaga sikap saat bertemu dengan Sikembar bahkan Ruksha juga.
Sikembar bermain bersama kelompok Agung dan Sudin, tertawa bersama, sedangkan Eric merasa kesal karena teman-temannya juga mencoba mendekati sikembar.
“Indak satia kawan! Kudian maleh den bakawan jo kalian, kecek kalian, paja batigo tu, salamonyo di kampung ko?! Pai paja-paja tu, awas kalian! Apo lai, cegak Bang Edi!” sungut Erik kesal menatap gerombolan anak-anak yang sedang bermain dengan bahagia. (Dasar tak setia kawan! Nanti jika mereka kembali, aku tak ingin berteman dengan kalian, mereka tak akan selamanya di sini, apalagi jika nanti Bang Edi ku sembuh, lihat saja!)
“Hai!” Ardhen menyapa Eric yang tampak duduk sendirian. Lantas, memilih duduk di samping Eric. “kok sendirian saja di sini? Kamu gak ikutan main juga sama mereka?” tanya Ardhen. Eric hanya diam, mengabaikan Ardhen.
Ardhen tersenyum, lalu mengambil sesuatu dalam kantong celananya. “Aku punya agar-agar buah nih, ini sehat, aku buat sendiri loh, aku bungkus sendiri juga.” Ardhen mengulurkan jelly yang ia buat ke hadapan Eric.
“Ambillah.” ucap Ardhen tersenyum.
Plak! Eric menepis tangan itu kuat, menatap Ardhen tajam, penuh amarah. Ardhen malah membalasnya tersenyum. “oh, kamu gak suka, bilang dong! 'kan mubadzir, kata Mom ku gak boleh buang-buang makanan, siapa yang membuang makanan temannya syaitan.” oceh Ardhen. Lalu, memakan jelly miliknya dengan lahap.
Agung dan Arhen berlari ke arah Ardhen duduk.
“Dasar pelit! Kau makan jelly nya sendirian?” seru Arhen, ia merebut jelly yang di pegang oleh Ardhen.
“Jangan lari-lari! Nanti jatuh!” teriak Ardhen.
“Awwh!” Baru saja Ardhen mengatakannya, Agung sudah jatuh karena menginjak Jelly yang diberikan Ardhen pada Eric tadi.
“Eh, itu Jelly rasa anggur 'kan? Ah, rugi sekali!” seru Arhen menatap Jelly yang dipijak Agung. “Nanti, saat buat jelly, buat yang rasa anggur banyak, ya!” pinta Arsen.
“Enggak, Mom dan Papa suka jeruk, Abang juga suka jeruk! Cuma Kakak sendiri yang suka anggur!” tolak Ardhen.
“Ish, dasar pelit!”
Mendengar perdebatan kecil Ardhen dan Arhen, Eric bisa menilai, jika Ardhen memberikan sesuatu yang cukup berharga untuknya. Tapi ia malah menepisnya.
“Ya sudah lah, ayo, kita main lagi.” ajak Agung dan Arhen menarik tangan Ardhen.
“Hei, ayo, kita main.” ajak Ardhen pada Eric. Ia hanya menatap diam pada Ardhen, sedangkan Arhen dan Agung tak peduli dengan Eric.
Mereka bertiga pun akhirnya berlalu pergi. Eric menatap sisa jelli yang terpijak, mulai bergumam-gumam kecil. ‘Benarkah dia membuatnya sendiri? Bukan dibeli di warung Uni Desi?’
Eric mengambil kotak jelly itu, masih ada sisa yang tidak terpijak, ia hendak mencicipi nya karena penasaran dengan rasanya.
“Hei!” Ardhen menepis tangan Erick. Ia baru saja kembali lagi, karena tak enak meninggalkan Eric sendirian. Ia kasihan. “apa yang kau lakukan? Itu sudah rusak, tak sehat, dan kotor. Ini ada yang baru.” Ardhen mengambil jelly dikantong satunya lagi. “tetapi ini rasa jeruk kesukaanku, ayo, coba.” Ia memberikannya dengan tersenyum.
Eric masih diam menatap. “Mau aku bantu buka 'kan?” Terdengar suara Ardhen bertanya, tetapi ia masih saja diam terpaku. “Aku buka, nih!” Ia memberikan jelly yang sudah ia buka bungkusnya dan siap di makan.
Eric mengambilnya perlahan dan memakannya, kemudian senyuman terbit dari bibirnya tipis, lalu mulai mengembang dengan pipi merah merona, malu.
Ardhen memegang tangan Eric. “Ayo, ikut main bersama, nanti setelah main, aku akan memasak. Aku sangat suka memasak, nanti ... kamu harus cicipi juga masakanku, ya!” ajak Ardhen.
Akhirnya, Eric pun bergabung bersama anak-anak lainnya. Canda tawa menghiasi hari-hari mereka, hingga tiba di acara makan bersama sehabis sholat magrib.
Ardhen menunjukkan ke ahlian memasaknya yang mendapat pujian dan tepuk tangan meriah oleh semua anak-anak sebaya dengannya bahkan jauh lebih besar dari mereka juga bergabung.
“Nanti, saat aku besar, aku akan menjadi Chief! Aku akan tampil di televisi.” serunya menyodorkan dan membagi-bagi makanan yang telah ia masak dengan bantuan Rukhsa.
Sakinah dan Andrean hanya tersenyum di pojokan melihat kebahagiaan anak-anak mereka. Beberapa orang tua juga ada bergabung, dan tentunya Hasan adik Hanum menjadi ketua paling ributnya di sana.
“Hahaha! Kalian tidak percaya padaku? Tanya pada Dim Arsen, aku admin, di Arkiller Rows for Indonesian Palace!” Hasan berkata jumawa sambil tertawa.
“Benarkah kau punya kenalan? Bantu juga Kakak ya, Dik!”
“Aku juga, Dik!”
Beberapa orang mulai menggerubungi Arsen membahas game Arbluefire. Sedangkan Arhen sibuk berkenalan dengan beberapa anak-anak perempuan yang minta foto bareng, kadang sama emaknya, kadang foto bareng.
“Eh, besok kita mandi di sungai, ya?! ajak salah satu dari mereka.
“Ok!”
Semua pun membuat janji, mereka akan mandi bersama, membawa nasi masing-masing untuk makan bersama di sungai.
Ke esokan harinya....
“*Woy, apo samba ang, Gung*?” tanya Sudin. (Woy, Gung, kamu makan pakai lauk apa?)
“*Goreang jariang jo tukai ha*!” Agung menunjukkan lauknya. (Goreng jengkol dan ikan asin)
“*Aden gulai paku jo kincuang, campua jo lauak limbek*.” Sudin pamer. (Aku gulai pakis dan kecombrang/kincung dicampur ikan lele)
“*Ha! Lamak tu Kawan*! ( Enak tuh, Teman)
“Kalau kalian pakai apa lauknya?” Sudin menatap lauk sikembar. Mereka suka ternganga. Lauk sikembar dirias begitu sempurna dan cantik.
“Ikan bada asam tempoyak dan sayur lobak pahit.” jawab Arhen.
Setelah saling menunjukkan lauk masing-masing, anak-anak saling berbagi dan mencicipi masakan satu sama lain, tertawa riang. Setelah kenyang ada yang mulai berjalan ke belakang arus untuk buang air besar, sebagian bermain air sembur teman sama sini dan sebagian sudah main lompat-lompatan lubuk.
Arhen berdiri ditepi bukit, menatap lubuk dalam. Arhen dan Ardhen sudah melompat, lalu tertawa bersama dengan yang lain.
“Ah, lama sekali, ayo, lompat!” dorong Agung sambil tertawa.
Byuuur! Arhen jatuh ke lubuk dengan posisi salah. Sebenarnya bukan masalah salah, tetapi Arhen tidak ahli berenang seperti Arsen dan Ardhen.
Anak-anak masih tertawa, hingga seorang anak perempuan menyadari jika Arhen hendak tenggelam.
“*Oi, nyo tabanam*!” sorak anak perempuan itu, ia langsung berenang ke tengah lubuk mendekati Arhen. (Oi, dia terbenam)
Arsen dan Ardhen berhenti tertawa, Mereka berdua baru teringat jika Arhen tidak terlalu pandai berenang, karena asik berenang dengan teman-teman barunya.
Dalam pandangan samar, Arhen bisa melihat seorang gadis kecil yang sangat cantik berambut panjang menolongnya. Ia bahkan terpana, lama menatap dalam pikirannya yang kosong.
Anak perempuan itu telah memeluk Arhen, kemudian yang lain juga membantu menepikan anak perempuan dan Arhen.
“Arhen! Arhen!” teriak Arsen. Ia langsung memberikan nafas buatan pada saudara kembarnya sembari menekan perut Arhen.
Semua anak-anak tak ada yang tertawa lagi, semuanya tegang dan cemas.