
Eric langsung membawa yang terluka ke rumah sakit Yarsh, rumah sakit milik ayah temannya, rumah sakit tentara.
Arhen mengalami luka bakar di bagian wajah dan tangannya, serta luka memar. Dua orang pengawal yang menolongnya mengalami luka bakar dipunggung dan luka karena lemparan tinggi dari bekas ledakan mobil. Sedangkan pengawal yang terluka parah, sedang menjalani operasi pengangkatan peluru di tubuh mereka, salah satunya Eric.
Dia duduk menatap bahunya di jahit dokter.
“Eric, mambuek masalah pulo baliak? Ante baharok kalau nak bujang ante ko, malanjuikkan untuk pelatihan tentara.” Dokter itu bertanya, apakah pemuda itu kembali membuat masalah, padahal dia senang jika Eric kembali ikut pelatihan tentara.
“Indak Nte. Tapi, ante janji dih!” jawab Eric meminta dokter itu berjanji.
“Seorang dokter memiliki janji tidak boleh membuka aib dan rahasia pasien 'kan?” Eric mengerling nakal.
“Ha, tu?” Dokter itu tersenyum, meminta Eric melanjutkan ceritanya.
“Sobana e, wajah nan taluko tu, artis papan atas Arhen Ryker Van Hallen! Ante 'kan tahu, kalau kami saling kenal sejak ketek. Ado nan baniat mambunuah e!” jelas Arhen panjang lebar, menceritakan kalau ada yang berniat membunuh Arhen.
Setelah mendengar penjelasan dari Eric. Wanita yang menjadi Kepala Rumah Sakit itu segera waspada dan menghubungi suaminya yang menjadi tentara angkatan laut dan adik laki-lakinya tentara angkatan darat.
Apalagi, setelah dia membaca dan mendengar berita tentang mansion keluarga Van Hallen terbakar, membuat Sakinah, Dedrick meninggal dunia, serta tamu undangannya, asisten pribadi Arsen, Hans Ares bersama adik perempuannya.
Ditambah, keadaan Andrean dan Arsen masih belum sadar. Ardhen Ryker Van Hallen putra ketiga Sakinah pun belum juga ditemukan keberadaannya.
Kepala Rumah Sakit itu, memindahkan tubuh Arhen ke ruangan VVIP khusus, bukan lagi VIP. Ruangan yang biasanya hanya digunakan Jenderal atau tentara berpangkat lainnya. Penjagaan tentara di depan pintu masuk dan dalam ruangan Arhen juga. Kemudian, beberapa cctv juga dipasangkan.
***
Aini meminta menunggu suaminya di dalam kamar, sehingga satu ranjang pasien juga diletakkan di sana, tangannya sudah tak dipasang infus lagi, karena sekarang Aini sudah sedikit kuat, bertenaga, dan sudah mau makan. Sebelumnya, saat ia melihat ledakan itu, dia langsung pingsan, tak selera makan.
“Arhen...” lirihnya tercekat. “Sadarlah, jangan tinggalkan aku....” Air mata Aini menetes.
Semalam, tubuh adiknya, pemandu wisata, dan pengawal lainnya telah dikuburkan di kuburan umum secara tertutup. Hanya di hadiri imam dan beberapa orang yang bisa menjaga mulut, di kawal beberapa tentara.
Aini sempat pingsan saat selesai penguburan itu. Dia benar-benar sebatang kara sekarang, hingga tepukan dari Kadir dipundaknya menyadarkan.
‘Kak, sabar ya, kamu harus kuat!’
“Arhen, aku--- kini benar-benar sendirian, hanya kamu yang aku punya, jangan tinggalkan aku juga. Aku mohon....” tangisnya serak.
Dari luar pintu kamar, Eric yang berniat membawakan makanan, terdiam. Hatinya jauh lebih sedih melihat Aini menangis pilu seperti itu dari pada mengetahui Aini memilih Arhen dan menikah dengannya.
“Kau benar-benar mencintai dia, Aini? Jika begitu, baiklah, aku akan melindungi dia demi dirimu. Aku janji, maka jangan keluarkan air matamu lagi....” lirih Eric dalam hati pilu.
Eric menahan hatinya, menetralkan perasaan, mengetuk pintu kamar. “Aini, kau di dalam, aku masuk, ya?” teriak Eric, kemudian mendorong pintu kamar.
“Aku bawa makanan untukmu. Makanan rumah sakit sangat hambar, aku bawa pical nih!” Eric meletakkan makanan di atas nakas.
“Jangan lupa di makan ya, ingat, kamu harus tetap kuat dan sehat, agar Arhen cepat sembuh dan sadar, jangan banyak menangis.” Eric menghapus sisa air mata Aini. “Aku keluar dulu, ya, ada banyak hal yang harus aku kerjakan.”
Eric langsung keluar dengan cepat, berjalan secepatnya menuju ruangan yang kosong, tepat di sebelah kiri ada lorong tempat ibu menyusui yang sedang kosong. Dia bersandar di dinding ruangan itu.
Menepuk dadanya kuat, air matanya tak bisa dia bendung. “Bodoh! Kenapa hati ini sakit, sedih dan terluka. Kenapa? Aku benci perasaan ini. Hatiku lebih sakit melihat dia menangis. Arhen, kau memang bajing*an, aku sangat benci dengan kau! Kau selalu menang, sadarlah segera, kalau tidak aku akan memukulmu....” lirih Eric menepuk-nepuk dadanya.