Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Billa Sakit


Beberapa hari yang lalu, sebelum sikembar pergi ke pulau, Billa sempat demam, namun ia harus kembali lagi ke Indonesia karena harus kembali mengajar. Jimi juga sudah menyelesaikan tugasnya sebagai wali Arsen Ares di perusahaan Ar3s.


Demamnya juga tak kunjung sembuh. Ia telah memasukkan pengukur suhu badan ke mulutnya, kemudian juga satu lagi menjepit di ketiaknya. Suhu tubuhnya normal, namun ia merasa demam, tetapi badannya tak panas, ia mual-mual dan tak berselera makan.


“Honey, sebaiknya jangan mengajar dulu, aku akan meminta izin pada Papa.” ucap Jimi khawatir.


“Honey, what you say?”


“Bagaimana mungkin aku memberikan citra yang buruk sebagai menantu, gara-gara aku menantu, bisa libur seenaknya?! Tidak, aku tidak mau. Lagian aku sudah periksa, badanku tidak panas. Mungkin saja ini efek dari bertukar suhu negara kali! Terlalu lama di Belanda jadi harus menyesuaikan diri lagi di negara sendiri!” lanjut Billa.


“Baiklah kalau begitu. Aku antar ya, nanti kalau terjadi apa-apa, telfon ya. Muach!” jawab Jimi.


“Hu'um.” Angguk Billa.


Setibanya di sekolah, perut Billa mules, ia muntah-muntah mencium aroma parfum siswa. Teman-teman sesama guru pun menganjurkan Billa untuk beristirahat. Tetapi ia masih masuk, untuk mengajar di jam pertama hingga jam istirahat datang.


“Minumlah dulu teh hangat ini Billa!” Salah satu guru memberikan teh hangat untuknya. “Kenapa, apakah kamu terburu-buru dan belum sempat sarapan, ya? Mau kubelikan makanan?” tanyanya kemudian.


“Enggak kok, Njel! Aku tadi sudah sarapan! Gak tau nih, aku demam udah tiga hari ini, tapi badanku gak panas!”


Guru itu mendekat, menekan denyutan nadi dilehernya, lalu meraba perutnya.


“Hei, apa yang kau lakukan!” Billa menepis tangan temannya itu, karena merasa aneh.


“Coba deh, kamu pergi ke apotik sebelah, beli tespeck. Kalau aku gak salah, deru nafasmu, denyutan di lehermu cepat loh dari biasanya! Apalagi tadi pas aku nekan perutmu, kamu merasa agak sakit 'kan?”


“Maksudmu?!” Billa langsung berdiri, antara terkejut dan berharap.


“Baiklah, aku akan membelinya!” ucapnya dengan tersenyum.


Billa berjalan ke apotik di seberang sekolah, ia membeli tiga tespeck. Setelahnya ia langsung pergi ke toilet kantor khusus guru. Ia coba tespeck itu.


“Alhamdulillah!!!” Tangis Billa pecah saat melihat tespek itu bergaris dua, ia pun mencoba semuanya, hasilnya sama, dia benar-benar positif hamil.


Ia telah lama menunggu untuk hamil, akhirnya penantian itu terjawab sudah. Ia langsung menelfon Jimi dengan menangis.


“Honey, honey, huhuhuhu!” Billa memanggil-manggil Jimi sambil menangis.


“Ya Honey, perutmu sakit?! Atau demammu tambah parah?” tanya Jimi cemas.


“Honey, huhuhuhu!” Billa tak bisa mengatakan karena hatinya terlalu bahagia, ia hanya menangis.


Tutt! Hp pun mati, karena baterai Billa kosong, ia lupa menchargernya.


“Aduh hpnya mati, kalau begitu, aku cas dulu. Nanti pulang sekolah, aku harus ke rumah sakit bersama Jimi.” Billa menghapus air matanya.


Sedangkan Jimi yang melihat panggilan Billa terputus bertambah cemas, ia menghubungi Billa terus menerus.


“Honey, aku harap kamu baik-baik saja sayang!” gumam Jimi, ia bergegas memakai jacketnya, mengambil kunci mobil.


Jimi melaju ke sekolah dengan sangat kencang, tak butuh lama hingga ia sampai di sekolah.


Setelah baterai hpnya terisi 20%, Billa berniat menelfon suaminya kembali, namun sang suami sudah sampai terlebih dahulu ke sekolahnya dengan raut muka cemas.


“Billa, suamimu datang, dia menunggu di sana!”


“Iya Njel, makasih ya. Aku akan menemuinya.”


Billa pun keluar dan menemui Jimi.


“Honey, kamu gak apa-apa?!” Jimi langsung berhambur memeluk istrinya itu.


“Honey, jangan menangis lagi, aku sudah ada di sini. Kalau perutnya sakit, atau gak enak badan, jangan paksakan, aku akan minta izin.” Jimi menggenggam kedua tangan Billa.


“Tidak Honey, aku baik-baik saja.” Billa menghapus air matanya. “Kau harus melihat ini!” Billa menyerahkan hasil tespeck itu pada Jimi.


“Ini apa Honey? Aku tidak tahu. Apa suhu badanmu-” Jimi menatap benda aneh itu dengan petunjuk positif. “Honey! Kamu sakit apa? Sampai dinyatakan positif!” Bukannya senang, Jimi malah bertambah khawatir melihat bacaan positif.


“Honey, kamu tidak tahu benda ini?!”


“Tidak, benda apa? Dari kemarin kamu juga memakai benda seperti ini, apa ini pengukur suhu badan lagi?” tanya Jimi menatap Billa dan hasil tespeck itu bergantian.


“Honey, ini adalah alat untuk tes kehamilan, alat tes ini menunjukkan aku hamil.” ucap Billa menangis kembali menjelaskan.


“Hah?!” Jimi mematung sesaat, lama otaknya connect. Setelah hitungan beberapa belasan detik kemudian barulah ia berseru, “Kamu hamil, Honey?!!!”


Billa mengangguk.


“Oh, Honey... akhirnya...” Jimi memeluk Billa erat, matanya memerah, haru.


“Tunggu 2 jam lagi ya. Setelah ini aku akan mengajar di kelas 2. Setelah itu jamku kosong, kita harus ke rumah sakit untuk USG, memastikan apakah aku benar-benar hamil,” kata Billa.


“Iya, Sayangku!” Jimi mencium pipi Billa penuh sayang.


~~


Jam pelajaran mengajar Billa pun telah selesai, ia dengan bahagia menyusul Jimi yang sejak tadi menunggunya.


“Honey, kau lama menungguku? Kau bosan?” Billa bergelayut manja dilengannya setelah sampai.


“Aku tak akan pernah bosan menunggumu sampai kapanpun.” Jimi langsung menggenggam tangan Billa dan mencium tangan itu.


“Apa kita makan dulu, atau langsung pergi ke rumah sakit untuk USG?” tanya Jimi.


“Tentu saja kita harus ke rumah sakit dulu Honey! Aku ingin tahu, apakah di dalam perutku sudah ada anak kita. Aku sangat penasaran sekali sejak tadi.”


“Baiklah Ratuku! Siap meluncur!”


Tak lama, mereka pun sampai di rumah sakit dan bertemu dengan dokter kandungan. Perut Billa dioles dengan gel dan alat itu diletakkan dia atas perut Billa, di geser ke kanan dan ke kiri.


Dokter itu tampak tersenyum, ada benda sebesar kacang di dalam layar itu di rahim Billa. “Selamat Nyonya, Anda hamil.”


Billa dan Jimi berpelukan penuh haru. Mereka benar-benar bahagia.


Setelah menyelesaikan pemeriksaan, Billa dan Jimi berbincang dengan dokter menanyakan berapa umur bayinya, karena Billa memiliki masa haid yang tidak teratur. Jadi ia tak tahu, sejak kapan dia hamil.


Dokter menjelaskan jika Billa telah hamil memasuki 13 minggu, dia tidak boleh kecapekan. Saat ia merasakan perutnya terasa panas, karena terjadinya perubahan hormon. Itu tak berdampak buruk pada bayinya. Begitulah hasil perbincangan mereka dengan dokter tentang keluh kesahnya selama ia merasa demam.


“Terimakasih banyak, Dok!” Billa dan Jimi pun bersalaman dengan Dokter.


“Apa kita langsung pulang? Makan dirumah atau beli makanan?”


“Kita harus ke supermarket Honey, beli susu ibu hamil, beli makanan bergizi.”


Akhirnya Billa dan Jimi membeli beberapa keperluan untuk kesehatan Ibu hamil dengan sangat antusias. Kemudian berhenti di sebuah restoran, memesan makanan di sana.


“Aku harus banyak memakan sayuran, demi anak kita!” ucap Billa memakan lahap sayuran brokoli, wortel, dengan suwiran ayam.


Jimi hanya tersenyum menanggapi, biasanya Billa tidak menyukai sayuran, dia lebih mencintai daging-dagingan.