
“Kadir, kau bisa menyetir?” tanya Eric.
“Bisa Kak,” jawab Kadir.
Eric memiliki banyak teman di Sumatra Barat, mobil yang dia pakai sekarang adalah Fortuner, sedangkan Arhen memakai Avanza-Xenia berwarna hitam, lebih terlihat umum agar proses mereka jalan-jalan tak terliput kamera.
Eric segera ke kursi belakang, memakai jacket dan menyerahkan rompi untuk di gunakan Kadir. Setelahnya dia mengeluarkan tiga pistol yang jelas-jelas ilegal di negara Indonesia.
“Kau pernah bermain pistol-pistolan?” Eric menatap Kadir.
Kadir menelan salivanya. Dia tahu, pistol ini sungguhan karena terasa sangat berat. “Pakailah pistol ini untuk berjaga-jaga!”
Eric menggunakan dua pistol, menurun kan kaca mobil sebelah dia, sedangkan yang lain masih tertutup. “Melaju yang kencang untuk membantu Ramadhan dengan yang lainnya.!” perintahnya.
Dengan lihai, Kadir menyetir, bahkan memberikan gerakan memutar saat menyerempet beberapa mobil, Eric melakukan penembakan tepat sasaran.
Brak! Mobil mereka beradu, ada yang sengaja menabrak, lalu, Dor! Eric pun jadi pusat tembakan.
Wussshh! Terdengar empat buah mobil melaju dengan cepat. Awalnya, Eric hanya bisa berpasrah diri untuk menerima ajalnya, rupanya itu adalah bantuan.
Di dalam mobil, sebelumnya Lucas telah memberi kode agar pengawal yang dikirim Arsen dan Vindo segera mendekat. Memang benar, sebelumnya Arhen meminta mereka menjauh karena tak ingin terlihat mencolok karena iring-iringan.
Arhen juga sudah menelfon saat terjadi serempetan dan tembakan pertama.
Brak! Mobil saling bertubrukan, tembakan saling memekakkan, membuat kawanan burung terbang dari atas pohon dan suara pantulan dari tempat yang sepi itu terus menggema.
“Aaach!” Lengan Eric tertembak, Kadir yang tadi di kemudi juga membuka pintu kaca mobil, dengan tangan gemetar melakukan tembakan yang jelas-jelas meleset nyaris menembak tangki mobil yang di depannya.
Beberapa pengawal itu saling menembak, mereka mengeluarkan Arhen dan yang lainnya dari dalam mobil, serta Eric yang lengannya tengah terluka.
Dor! Tembakan di lesetkan ke arah mobil Arhen yang sedang turun.
“Cepat!” teriak yang lainnya.
Duar! Arhen dan dua orang yang menolongnya terlempar tinggi, sedangkan mobil itu meledak bersama pemandu wisata dan Ramadhan yang belum turun. Aini terduduk lemas, pengawal menahan tubuh Aini yang hampir tumbang.
Setelahnya, hening beberapa saat, kemudian terjadi lagi tembak menembak sampai pengawal untuk Arhen menang.
Lucas dengan banyak luka akibat ledakan tadi masih bisa berdiri. “Bereskan semua ini dengan rapi!” perintahnya pada pengawal yang selamat. “Kuburkan semua yang gugur dengan layak.”
Kemudian Lucas menatap Eric yang meringis, sedangkan Kadir gemetar. “Aku yakin kau cukup tahu tempat ini, tolong bawa dan sembunyikan mereka semua, aku akan menggiring opini publik!” ucap Lucas menepuk pundak Eric yang perkasa.
“Masukkan dua mayat itu duduk di kursi penumpang dan di samping kemudi!” perintah Lucas sembari menyiram lukanya dengan alkohol, agar darahnya berhenti. Dua mayat musuh yang sudah mati. “Pastikan tubuhnya sudah tidak ada peluru! Tusukkan diperut dan dada mereka body mobil ini!” Lucas menunjukkan body mobil, agar pengawal menghancurkan dan menusukkan ketubuh mereka.
Seolah, ini hanya korban tabrakan saat divisum. Bahkan mereka menghapus sidik jari di seluruh permukaan mobil, sebelum Lucas menyetir mobil itu kembali, mereka memastikan mobil itu sudah tidak ada bukti apapun.
Sedangkan jalan diberi tanda tanah longsor, dan ada perbaikan jalan, selama proses pembersihan bekas tembakan di tempat itu dengan secepatnya.
Lucas meletakkan chip kecil dengan hitungan waktu akan meledak, di dekat tangki minyak dan pedal rem, menggunakan sarung tangan. Lalu, pemuda itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saat sudah mendekati kecamatan yang memiliki beberapa rumah jarang, tak terlalu padat, Lucas memutar setir mobil, seolah dia bertabrakan, menabrak penyangga jalan.
Bruk! Mobil sedikit oleng, dengan lincah, Lucas segera melepaskan sabuk pengaman, melompat keluar dari mobil. Beberapa warga keluar dan mengintip setelah mendengar suara keras dari mobil.
Baru saja Lucas keluar, mobil yang oleng tadi langsung terbalik, Lucas masih berjalan tertatih-tatih. Orang-orang dengan lucunya masih mematung, sebagaian ada yang terburu mendekat, sebagian malah mengeluarkan hp yang tidak berguna untuk merekam kejadian itu.
Duaaar! “Aaaaa!” Warga berteriak histeris. Panik dan takut. Mobil itu meledak hebat. Untung rumah tidak rapat dan jarang, sehingga tidak menyebabkan kebakaran dan lainnya.
Lucas segera di tolong warga, saat pemuda itu hampir roboh. Dari sanalah, di mulai berita tentang Artis papan atas, Arhen Ryker Van Hallen, dikabarkan meninggal, karena saat polisi sampai di TKP. Dua tubuh sudah hangus terbakar tak dikenali lagi sosoknya, tak ada yang bisa orang lakukan lagi karena rongsokan mobil pun juga sebagian sudah menjadi abu. Wajah Lucas lah yang membuat orang tertarik, karena dia adalah asisten pribadi Arhen.
Saat sadar, Lucas tak bicara apapun, dia hanya mengatakan, kalau yang menjadi sopir adalah pemandu wisata, dan itu memang benar. Sebelumnya memang pemandu wisata yang menjadi sopir, sebelum dia membawa dua mayat itu.
Lucas tak langsung mendatangi Eric dan lainnya, karena masih khawatir jika masih ada yang mengikuti mereka. Dia masih berdiam diri di rumah sakit umum, Jamiludin Padang.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...