
“Tidak Ayah, saya sudah bertemu dengan Sakinah dan putra-putraku. Saya sudah berbicara dengan Sakinah, dia setuju menikah. Oleh karena itu saya meminta restumu, mohon restui saya, Ayah.”
“Kalian sudah bertemu?” Ayah Kinah menatap Andrean, manik mata mereka saling beradu.
“Sudah Ayah. Kami bertemu di Batam.” jelasnya.
“Jika Sakinah setuju menikah denganmu, maka aku juga merestuinya. Menikahlah.” sahutnya dengan suara sedikit parau. Dadanya terasa berat, sebak.
“Kalau begitu, besok kita harus ke Batam ya, Ayah. Saya tidak bisa mengambil cuti lama. Sakinah pasti sangat senang mendengar kabar ini, saya akan segera menghubunginya. Dia tidak bisa datang karena anak-anak sedang ujian.”
“Kamu datang karena permintaan Sakinah?”
“Iya Ayah, tentu saja. Tidak mungkin kami menikah tanpa restu Ayah, tanpa wali nikah apakah pernikahan kami akan syah? Tentu saja tidak 'kan Ayah?”
Ayah Sakinah tersenyum, ia tepuk pundak Andrean.
“Begitulah Kak ceritanya, aku sangat terkejut saat melihat dan mendengarnya. Bagaimana kau bisa bertemu dengan pria tampan seperti itu? Wajahnya mirip dengan poster di desa kita loh.” ucap Rukhsa.
“Oh, ya? Apakah sangat mirip? Aku tak terlalu memperhatikan.” sahut Sakinah.
“Beneran dia ayah Sikembar, Kak?” Rukhsa bertanya kembali.
“Iya, memangnya kenapa?” Menatap Rukhsa.
“Hehehe. Gak apa-apa. Beruntung sih Kak, kejadian yang membawa berkah, dapat cowok tampan dan kaya. Biasanya pemerkosa itu pasti lelaki buruk. Dan lagi, kakak langsung hamil saat diperkosa, artinya mantan suami Kakak tuh yang mandul.”
“Rukhsa! Jangan mengatakan sesuatu yang buruk tentang orang meninggal. Itu sama dengan memakan bangkai.” Sakinah menggentik kening adiknya.
“Iya, iya, maaf, Kak. Habisnya aku kesal, Tante Linda dan Kak Hanum selalu saja menyalahkan Kakak dan bergosip. Kak Salwa kadang juga ikut-ikutan jelekin Kakak.” sungut Rukhsa.
“Oh, iya. Kenapa Salwa gak diajak juga?” tanya Sakinah.
“Bukan gak diajak Kak, tapi tau lah dengan Kak Salwa.” ucap Rukhsa, “Dia malas pergi, katanya tak ingin melihat, bahkan sudah mengejek Kakak dan Kakak Ipar. Kalau di dengar dia ngomong bikin naik darah, udah kayak saudara tiri sama dia, padahal kita semua adik kandung satu bapak satu ibu.” rutuk Rukhsa.
“Sudah, sudah, jangan marah-marah lagi, nanti wajah adik Kakak yang cantik ini jadi jerawatan dan keriput.” seloroh Sakinah.
“Ah, iya, aku lupa. Kita sudah berapa lama sih ngobrol?” Rukhsa melihat jam tangannya. “Pasti Kakak Ipar sudah menunggu aku hendak keluar nih. Cieeeee, aku pergi dulu deh!” sambungnya, lalu berlalu pergi meninggalkan Sakinah.
‘Dasar anak itu ya.’ Sakinah tersenyum kecil.
“Sepertinya sudah larut malam. Mari kita tidur dulu.” Ayah Kinah berdiri, ia beranjak pergi menemui cucu-cucunya.
Ayah Kinah bersama Arsen memilih tidur di ranjang bawah milik Arsen, sedangkan Ruksha tidur ditengah diapit oleh Arhen dan Ardhen. Shalsabila dan keluarganya sudah kembali ke rumah mereka, begitupula dengan David dan keluarga Andrean sudah kembali ke Penginapan.
Andrean awalnya memilih tidur di sofa, namun Ayah Sakinah memaksanya untuk masuk ke dalam kamar Sakinah, bahkan sedikit mendorong tubuh itu agar masuk ke kamar.
Andrean berdiri kaku di depan pintu setelah pintu itu ditutup.
Sakinah yang tadinya memakai cadar kini sedang memakai baju tidur berlengan panjang dan celana panjang, rambut hitam tebalnya tergerai.
Andrean seperti terhipnotis, pemandangan yang menurutnya sangat indah dan langka. Bukankah ia selama ini sudah terbiasa melihat wanita? Bahkan tanpa busana. Apakah ini disebut reaksi jatuh cinta?
Sakinah merapikan tempat tidur, kemudian ia letakkan sarung dan sajadah. “Jika kau ingin sholat dulu, silahkan. Alangkah lebih baiknya segera sholat saat pertama kali memasuki kamar istrimu. Aku sudah dulu sholat tadi.”
Andrean hanya diam, ia tak paham. Jujur, ia belajar membaca Al-Qur'an, membaca bacaan sholat, pindah agama hanya untuk menikah dengan Sakinah, bukan karena hatinya yang ingin berpindah agama. Jadi, ia tak pernah melakukan ibadah itu.
Karena melihat Andrean hanya diam, Sakinah berkata kembali, “Di dalam kamar mandi handuk berwarna biru sudah aku siapkan untukmu jika kau ingin membersihkan diri.”
Ia mengumpat kesal saat berganti pakaian di kamar mandi, merasa sempit. Namun ia mencoba bersabar. “Tak lama lagi kok, sabar!” gumamnya.
Setelah mengganti pakaian, ia mencoba tidur di samping Sakinah.
1 jam berlalu.
2 jam berlalu.
Mata Andrean tak terpejam, ia berusaha sekuat hati memejamkan mata, bermain handphone agar matanya lelah, tapi tidak bisa. Matanya yang nakal selalu saja mencoba melihat tubuh yang tertidur itu.
Nafas Sakinah yang berhembus teratur membuat dadanya naik turun, rambutnya yang ia sibakkan ke atas bantal membuat lehernya yang jenjang dan mulus terlihat. Bulu matanya yang tebal dan lentik, alis mata yang rapi dan hitam lebat, membuat Andrean menelan salivanya.
Dia, pria yang tak bisa menahan hasrat selama ini, selalu bergonta ganti perempuan. Harus tidur dengan menahan godaan. Ingin rasanya ia buka kancing baju tidur Sakinah, lalu melihat dada yang naik turun itu, bermain dan menikmatinya.
Ia mengusap wajahnya berkali-kali. Leher Sakinah yang mulus menantang dirinya hendak meninggalkan noda kepemilikan di sana.
‘Shiiit!’ gumamnya.
Ia ambil selimut, ditutupinya tubuh Sakinah sampai leher. Matanya masih saja menatap, kepalanya tetap saja reflek menoleh, melihat wajah cantik Sakinah. Ia ingin sekali menggigit pipi dan bibir Sakinah.
‘Ini benar-benar menyiksaku!’
Andrean memilih keluar dari kamar. Ia duduk di teras, membawa sebotol air dingin, memanggang cerutu.
‘Otakku bisa rusak kalau lama-lama di sini. Uffft!’ gumamnya, menghembuskan asap rokok.
Entah berapa lama ia duduk di teras, hingga terpaan matahari menerpa wajahnya yang sedang tertidur. Ya, dia memilih untuk menyandarkan tubuhnya di kursi sampai ketiduran dari pada tidur dikamar bersama Sakinah.
Subuh, Sakinah terbangun, mendapati dirinya tidur seorang diri di kamar. Ia berjalan ke ruang tamu, hendak melihat Andrean namun tak ada. Perlahan ia melihat bayangan dari kaca, ada sebuah kepala bersandar. Ia membuka pintu dengan mengintip-intip.
“Syukurlah, rupanya dia.”
Sakinah mengambil selimut dan menyelimuti Andrean, kemudian mandi, mencuci dan membangunkan anak-anak untuk melakukan sholat subuh.
Ayah Kinah juga terbangun bersama Rukhsa. Ia bersuci dan hendak pergi ke Mesjid.
“Andrean tidak kau bangunkan, Kinah?” tanya Ayah Kinah.
“Sepertinya dia baru tidur, Yah. Ia tertidur di teras. Mungkin sulit dibangunkan.”
“Oh begitu. Kalian ikut Kakek ke Mesjid gak?” ajak Ayah Kinah pada Sikembar.
“Iya Kek.” jawab mereka riang. Hal yang tak pernah mereka rasakan selama ini, sholat bersama ke Mesjid.
Biasanya mereka hanya akan sholat di rumah, bersama dengan Jimi saat hari Jum'at dan sholat berjamaah di Sekolah.
Setelah sholat subuh, Sakinah beranjak ke dapur yang juga di susul oleh Ruksha yang juga telah selesai sholat.
“Mau masak apa Kak? Aku bantu ya.” ucap Rukhsa.
“Iya, yuk. Masak ini.”
...***...