
Hari Minggu pagi.
Beberapa potongan memori masuk dalam ingatan Ardhen. Haizum mendatangi kantornya, menarik paksa tangannya menaiki atap gedung menuju helikopter. Lalu, ingatan tentang rencana mereka akan pergi ke Indonesia sekeluarga.
Ardhen duduk di sofa, memeluk lututnya.
“Hei, kami pergi dulu ya!” Terdengar suara Frans bicara pada Haizum.
Ardhen mendongak melihat. “Kemana?” tanyanya.
“Ke Gereja.”
“Hm? Oh, ok,” sahut Ardhen.
Tiba-tiba beberapa potongan memori masuk lagi dalam ingatannya. Ardhen langsung mengambil potongan buah apel dan menggunamnya dalam mulut, agar rasa nyeri di kepalanya bisa terasa sedikit berkurang.
‘Aku sangat tidak menyukai wanita yang tidak konsisten dan tidak pintar! Kau rela mempelajari agama lain dan berniat pindah agama karena kau menyukai seseorang itu? Kau rela menggadaikan kepercayaanmu pada sebuah perasaan cinta yang mungkin akan hilang nantinya!’ Sebuah kalimat dia sendiri yang mengucapkannya masuk menerobos ingatan Ardhen.
‘Agama itu adalah sebuah kepercayaan yang lahir dari dalam hati! Bukan dari keinginan untuk memiliki seseorang itu, lalu pindah keyakinan. Jangan pernah mempermainkan Tuhan, karena sesungguhnya Tuhan lah pemilih hati manusia sesungguhnya. Betapa bodohnya kau sekarang, mengagumi ciptaan Tuhan dengan tidak mempercayainya.’
“Kalau Nona mau ikut ke Gereja, biar saya yang akan menjaga Tuan Ardhen,” ucap seorang pelayan pada Haizum.
Mendengar itu, “Kamu gak muslim?” tanya Ardhen menatap Haizum serius.
Haizum mengangguk. “Jadi--- ini penyebab pernikahan kita tidak direstui Momku?” Ardhen reflek berdiri. “Berarti pernikahan kita tidak sah!” Ardhen memegangi kepalanya yang terus menerus sakit. Bahkan sekarang semakin sakit.
‘Aku ingin kau mempercayai agama karena kemantapan hatimu! Bukan karena seseorang!’ ucapannya sendiri di kala itu kembali masuk ke dalam benak Ardhen.
“Akhhh!” Ardhen memegangi kepala dengan kedua tangannya karena sangat sakit.
“A-Ardhen!” Haizum bergegas memegangi tubuh Ardhen yang mulai sempoyongan dan.... Bruk! Tubuh mereka berdua jatuh terhenyak ke lantai.
Haizum tak kuat menopang tubuh Ardhen yang besar dan tinggi dari pada tubuhnya.
Dua jam kemudian.
Dokter telah memeriksa Ardhen dan sedang berbicara dengan Frans. “Oh, baiklah!” Hanya perkataan itu yang terdengar oleh Ardhen saat dia mulai membuka mata.
“Eh, kau sudah sadar?” Frans langsung menyadarinya. Dokter pun kembali memeriksa Ardhen.
“Semuanya baik-baik saja, aku kembali dulu!” ucap Dokter itu pada Frans.
“Ok!”
Setelah dokter keluar, kini hanya Ardhen dan Frans berdua di dalam kamar. Ardhen mulai bertanya, “Frans, sebenarnya, aku menikah lari dengan Haizum karena kami berbeda agama, ya?”
“Hah? Apa kau ingin aku menjawab dengan jujur atau berbohong?” Frans menatap Ardhen.
“Tentu saja aku ingin kau jujur!”
“Ya, apapun itu walau sakit dan pahit rasanya. Karena kejujuran lebih baik dari pada kebohongan.”
“Tetapi, aku takut kau akan bertambah sakit dan syok. Walau dokter mengatakan kondisimu sudah jauh lebih baik dan aku sudah bisa memberitahumu dengan perlahan. Namun, rasanya ini masih terasa sakit.”
“Jika terlalu sakit, makanya jangan kau jelaskan, cukup beritahu aku secara garis besarnya, aku bisa memikirkan selebihnya perlahan,” tutur Ardhen.
Frans tampak mengangguk, dia memilih bersandar, menerawang.
“Apa kau tidak terpikirkan keluargamu?” Frans memulai dengan bertanya.
“Aku belum terlalu ingat wajah mereka, kecuali Mom, wajahnya teringat jelas dan kata-katanya.” Ya, wajah dan perkataan Sakinah lah yang pertama kali bertamu ke dalam benak Ardhen beberapa saat yang lalu.
“Lalu?” Frans menoleh.
“Ya, begitu saja. Beberapa ingatan waktu aku kecil bersama dua pemuda yang kupanggil Abang dan Kakak, lalu seorang gadis kecil bernama Princes.” Tiba-tiba Ardhen tersenyum sendiri saat menyebut nama ‘Princess’ Beberapa moment lucu dia dan adik perempuannya bermunculan.
“Kau merindukan mereka?”
“Iya aku rindu. Tetapi aku pasti sudah memikirkan ini matang-matang sebelumnya, kenapa aku pergi meninggalkan mereka dan menikah lari dengan Haizum,” jawab Ardhen dengan santai.
Frans tersenyum. “Oh, begitu ya. Bagaimana jika aku bilang, Haizum bukan istrimu.”
“Ahahahha. Itu tidak mungkin! Selama ini, aku tidak pernah menyentuh sembarangan wanita, tidak pernah berhubungan dengan wanita, berduaan dan lainnya. Jadi, mustahil aku memeluk dia tanpa hubungan pernikahan.”
“Bagaimana jika kamu dan dia saling berpelukan karena musibah, mungkin saja kalian dikejar, ditembak, dan dikhianati. Dia demi melindungi dirimu terluka, hingga kamu sangat sedih dan memeluknya.”
Deg! Deg! Jantung Ardhen berdegup kencang. Kepalanya berdengung saat mendengar kata tembakan dan luka.
Ardhen mengingat sebuah pesan yang dia baca dari ayahnya. ‘Son, save ur self.’ Setelah itu dia mengingat hal lainnya, dia mengirim Abraham dan Cleo sebuah pesan bersama di groub.
‘Abraham, Cleo....’ gumam Ardhen dengan suara pelan. Kepalanya terasa sangat sakit.
“Kau tidak apa-apa Ardhen?” Frans cemas.
“Aku tidak apa-apa, tolong lanjutkan ceritanya. Jika kami tidak menikah, lalu?”
“Lalu-”
Bruk! Ardhen kembali ambruk dan jatuh tertidur di ranjangnya.
“Frans!” desis Ibunya. “Mama sudah bilang 'kan, jangan beritahu dulu. Kita memberitahu dia perlahan saja, walau dokter berkata tidak apa-apa, tetapi lihat ini? Dia kembali pingsan!”
“Ma-maaf, Ma....”
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...