Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Keputusan


Andrean pulang jam 9 malam. Wajah lelah dan letihnya terpampang jelas. Setelah ia membuka sepatu dan jasnya, memberikan pada Kepala Pelayan, ia langsung menuju ke kamar yang di sambut oleh Sakinah dengan senyuman ramah.


“Baru pulang ya, sini aku bantu.” sapa Sakinah, kemudian membantu membuka kemeja dan dasi Andrean.


“Bolehkah aku memelukmu?” tanya Andrean setelah baju kemejanya terlepas, yang tersisa hanya celana panjangnya.


“Tentu saja,” kata Sakinah, ia langsung memeluk Andrean, membiarkan suaminya itu meletakkan kepalanya di dadanya.


Ia elus kepala suaminya itu, mendengarkan suara jantungnya berdetak beraturan.


“Aku sedang pusing sekarang.” ucap Andrean.


“Aku pijit ya.” Sakinah memijat perlahan kepala Andrean, menarik dan mengelus pelan rambut tebal Andrean yang berwarna coklat tua itu.


“Bagaimana perasaanmu jika kau dibohongi?” tanya Andrean tiba-tiba dalam pelukan Sakinah.


“Tergantung bagaimana cara orang itu membohongi, terkadang ada orang yang berbohong untuk kebaikan, namun sebuah kebohongan pasti menyakitkan.”


“Aku sangat tidak suka dibohongi.” Andrean mengangkat kepalanya, menatap Sakinah dalam.


“Aku berharap apapun itu jangan pernah bohongi aku.” Kemudian ia menundukkan kepalanya dibahu Sakinah setelah berkata seperti itu.


Deg! Sakinah menelan salivanya.


Jangan berbohong? Bukankah dari awal ia telah berbohong? Menyembunyikan tentang Arsen.


“Iya. Aku tak akan berbohong dengan apapun yang kamu tanyakan.” jawab Sakinah.


“Aku sangat lelah, aku akan segera tidur.” ucapnya.


Andrean melepaskan pelukannya, mengambil handuk dan membersihkan diri dikamar mandi, setelah bersih dan berganti baju ia segera membaringkan tubuhnya diranjang dengan posisi tertelentang.


“Selamat malam, selamat tidur.” ucapnya pada Sakinah lalu memejamkan mata.


Mata yang terpejam, tetapi pikirannya masih berkelana.


‘Iya. Aku tak akan berbohong dengan apapun yang kamu tanyakan.’ Jawaban Sakinah menerawang sejak tadi dikepalanya.


‘Jadi jika aku bertanya kau akan menjawabnya, kau akan menceritakan semuanya?’ Andrean bergumam dalam hati.


_________


Tengah malam,


Sakinah terbangun dari tidurnya, seprti biasa ia akan sholat malam, mengaji 3 sampai 5 ayat suci Al-Qur'an. Setelah sholat, ia merasa haus, ia berjalan ke dapur mengambil minuman dingin.


Setelah minum ia lihat Dedrcik tertidur, ia tumpukan wajah tampannya diatas meja kitchen. Perlahan Sakinah mendekat, melihat ada jacket tergeletak di sana. Ia mencoba menutupi tubuh Dedrick dengan jacket, tanpa sengaja tangan Sakinah menyentuh kulit lengan Dedrick yang terasa panas.


Karena khawatir, ia segera meraba kening Dedrick, terasa sangat panas. Ia mencoba menelfon Kepala Pelayan yang sudah tertidur pulas sembari mengompres kening Dedrick.


Kepala Pelayan terbangun, begitupula Dedrick terbangun saat seorang Pelayan pria dan Kepala Pelayan menggopoh tubuhnya masuk ke dalam kamar yang diikuti Sakinah.


Jika tak melihat Sakinah, mungkin saja dia akan marah. Tetapi karena ada Sakinah, ia memilih diam.


Sakinah mengikuti dan mengompres, lalu menyelimuti Dedrick yang telah dibaringkan pelayan.


“Semoga cepat sembuh Kakak Ipar. Kepala Pelayan sudah menelfon Dokter, sebentar lagi dokternya akan datang.” ucap Sakinah sembari menempelkan kompres dikening Dedrick.


“Kalau begitu, saya akan kembali lagi ke dalam kamar, ada Kepala Pelayan dan Para Maid berjaga di sini. Saya permisi dulu, Kakak Ipar.” pamit Sakinah, kemudian beranjak pergi.


Sakinah keluar dari kamar. Lalu menutup kembali pintu kamar Dedrick.


!!!


“Kamu terbangun ya?!” sapa Sakinah terkejut pada Andrean yang berdiri di luar kamar Dedrick. Tepat di dinding di samping pintu.


“Kamu sangat mengkhawatirkan Kakak ya, bagaimana jika aku yang demam? Apa kamu juga akan khawatir?”


“Tentu saja, aku pasti akan khawatir, mari tidur kembali, bukankah kamu pusing dan sakit kepala, jangan lama-lama bergadang.” ajak Sakinah.


_________


Panas Dedrick sudah menurun, Sakinah masih ngotot menyuruh Kakak Iparnya itu makan bubur ayam. Bahkan Sakinah menyuapi Dedrick. Wanita itu sungguh tak sadar dengan apa yang ia lakukan, ia hanya terbiasa menghadapi Billa sahabatnya, Rukhsa Adik perempuannya serta tiga putra kembarnya, jika mereka sakit, Sakinah akan menyuapi dan memanjakan mereka.


Kebiasaan itulah yang membuat Sakinah reflek menyuapi dan memaksa Dedrick seperti anak kecil yang manja. Tentu saja sikap itu membuat debaran di dada sang Kakak Ipar semakin bergejolak.


Bukan hanya gejolak pada Dedrick, tetapi juga Andrean, ia memakan bubur ayam yang jelas-jelas dibuat sedikit itu sampai tandas. Dadanya berdentum kuat, rasanya panas membakar, sesak di dada. Kacang pada bubur ayam pun ia makan.


Tak lama Andrean pun menggaruk wajah dan tubuhnya, sampai bengkak dan memerah.


Dedrick mendengus. “Kekanak-kanakan.” bisiknya pelan.


Andrean melotot dan masih menggaruk, rasa kesal membuat ia lupa dengan alerginya. Ya, ia dan Arsen sama-sama memiliki alergi pada kacang.


Sakinah segera berlari, mengambil sesuatu dikamar.


“Minum obat ini.” Memasukkan obat dengan paksa ke dalam mulut Andrean, lalu mengoles obat di wajah Andrean.


“Buka pakaiannya, biar aku oleskan obat ini.” pinta Sakinah.


“Obat apa ini?” tanyanya menatap obat itu penuh selidik.


“Ini obat alergi, biasanya aku selalu sediakan.”


“Untuk anak-anak?” tanya Andrean.


“Iya.”


Andrean dan Dedrick sama-sama menatap Sakinah. Bukankah Arhen dan Ardhen suka makan roti dengan selai kacang di Mansion ini hampir setiap pagi? Hanya Andrean yang akan minum susu dengan roti selai strawberry.


“Clara minta Kepala Pelayan menelfon Dokter kembali.” ucap Sakinah pada Clara yang setia berdiri dibelakang.


“Alangkah lebih baiknya kalian berdua libur dulu saja bekerja. Berobatlah terlebih dahulu.” lanjutnya lagi.


“Kalau begitu kami berdua juga boleh libur, Mom? tanya Arhen dan Ardhen.


“Boleh, tetapi dapat hukuman, mau?” tanya Sakinah masih dengan wajah tersenyum, tapi membuat Arhen dan Ardhen takut.


Dengan terpaksa dua orang dewasa itu libur bekerja dan terpaksa meminum obat yang biasanya sangat malas mereka minum, lalu dua orang anak laki-laki hanya bisa patuh pergi ke sekolah mereka masing-masing.


________


Di sebuah kamar hotel VVIP.


Wizza dan Sekar sedang berbaring. Mereka masih berada di Amerika.


Menurut laporan, kerangka kalung mereka telah bocor ke perusahaan Irfan, David telah menemukan dalangnya yang mereka sogok. Karyawan itu telah dipecat dan diberi sangki. Namun ada perusahaan baru yang cukup mengejutkan.


Ar3S sebuah nama perusahaan baru yang menjadi berbincangan mereka malam ini, lalu tentang Andrean.


“Bagaimana menurut kamu, Sayang?” tanya Sekar pada Wizza.


“Aku setuju saja dengan usulmu Cintaku, lebih baik Anak Nakal itu diberikan tanggung jawab, dia sudah memiliki istri dan dua orang anak.” jawab Wizza.


“Sebenarnya Anak Nakal itu pintar dan hebat, tetapi dia terlalu pemalas dan tidak bisa bertanggung jawab sama sekali.” lanjut Wizza mendesah.


“Semoga saja dia bisa bertanggung jawab kali ini.” ujar Sekar.


“Kalau begitu, setelah kita sampai, kita akan musyawarah. Semoga saja anak itu bersedia.” gumam Sekar.


“Bukan semoga tetapi harus.” balas Wizza meralat.


Cukup lama mereka berbincang hingga pada keputusan, Andrean harus menjalankan perusahaan Antaman Wizgold, sebagaimana Dedrick bisa memegang perusahaan Wilz Plantgroups.


...***...