
Irfan tengah duduk di sebuah ruangan, berkumpul dengan beberapa bawahannya, salah satunya Jonathan. Mereka sedang melakukan rapat anggaran, berapa perwakilan departemen juga hadir, seperti departemen pemasaran, departemen keuangan, departemen SDM, departemen produksi dan lainnya.
Dalam rapat ini, setiap departemen saling berargumen dan tidak sepakat tentang keputusan anggaran yang diberikan oleh Irfan atas usul Jonathan. Setiap departemen itu saling bersikukuh agar mereka mendapatkan porsi dana lebih banyak dari operasional masing-masing departemen. Hal ini menimbulkan konflik yang berkelanjutan.
Arsen, sedang memantau rapat itu melalui chip kecil yang ia selipkan di laptop Irfan waktu itu. Ia mendengar semua perkataan di dalam rapat itu.
Di sampingnya Hans juga duduk mendengarkan dengan seksama. “Menurut Kakak, apa yang akan terjadi?” tanya Arsen menatap Hans.
“Rapat ini benar-benar kacau, Taun Muda. Di dalam komunikasi sebuah pertemuan besar, pemimpin itu harus bersikap layaknya pemimpin, menghindari menyudutkan satu belah pihak, adil tak memihak siapapun, menjadi mediator bijaksana, mengambil keputusan bersama, melakukan evaluasi dalam keputusan. Yang terakhir, pemimpin haruslah peka.”
“Rapat mereka tidak memenuhi syarat-syarat itu. Mereka saling mementingkan ego, memihak berkelompok-kelompok. Sedangkan pemimpinnya, Tuan Irfan hanya diam tanpa menjadi mediator bijaksana.” terang Hans.
Arsen tersenyum. Hans, adalah pria pintar dengan kepribadian baik, itu yang membuat ia sangat percaya dan bergantung pada asisten pribadinya ini. Arsen banyak belajar tentang berbagai hal penting dari Hans. Kemudian belajar beladiri dengan Xander Pim dan Berend Elmo secara perlahan.
“Jadi, apa sebenarnya niat Jonathan ini, Kak?” tanya Arsen.
“Sepertinya Tuan Irfan adalah rencana cadangan. Target utamanya sebenarnya perusahaan Ar3s dan perusahaan Antaman Wizgold.” jawab Hans.
“Kita harus waspada dan hati-hati. Dia pria licik!”
~~
Beberapa hari kemudian, tepatnya hari H pernikahan Calista dan Dedrick.
Dedrick berdebar-debar tak karuan, telapak tangannya berkeringat, ia gugup sekali, ia berkali-kali bercermin, menatap dirinya di pantulan itu dengan tuxedo berwarna biru dongker pilihan Calista.
Dedrick di bawa keluar dari ruangan make up oleh Andrean menuju tempat pernikahan mereka.
“Apa kau sangat gugup, Kak?”
“Menurutmu?”
Andrean terkekeh mendengar. “Ini baru Kakakku! Sudah, jangan gugup.”
“Cih! Ku berani mengejekku sekarang, kau pun pasti akan gugup jika seperti ini!”
Andrean tersenyum, pernikahannya dengan Sakinah waktu itu, biasa saja, tidak seperti pesta pernikahan kakaknya yang ramai dipenuhi keluarga besar seperti ini.
“Ayo, takutnya nanti mempelai perempuannya sudah datang duluan, istri kakak itu 'kan sangat agresif!”
Plak! Dedrick menepuk bahu Andrean, pria itu malah terkekeh di tepuk oleh kakak laki-lakinya.
Kini, Dedrick telah berdiri menunggu Calista, namun wanita itu tak kunjung juga datang. Keluarga Dedrick mulai menghubungi keluarga Calista, para tamu juga mulai resah. Seharusnya, Calista sudah datang sejak tadi.
Drrt! Drrt! Hp Andrean bergetar, yang menelfon adalah Arsen.
“Apa?”
“Ok, Papa mengerti!” jawab Andrean.
“Ada apa?” tanya Dedrick.
“Kakak sama Papa dan Mama dulu, ya, menunggu di sini. Putra sulungku menelfon, Kakak tahu 'kan karakter dia seperti apa?” Andrean mengedipkan matanya.
Andrean langsung mengirim pesan pada David, mencari manager pemilik lapangan hijau tempat mereka melakukan pernikahan ala outdoor ini.
Mereka tak menemukan dimana manager, “Dav, sepertinya ini benar-benar aneh, hubungi Xander Pim, Berend dan lainnya, pinta mereka menjaga keluargaku!” perintah Andrean.
“Baik, Tuan Muda.”
Tampak Arsen tengah duduk bersama Vindo di sebuah ruangan. “Aku akan memakai dia kembali untuk menggantikan aku di acara pernikahan Papa kedua.” jelas Arsen.
“Tetapi, Papa kedua pasti akan sedih, Nak.”
“Aku melihatnya dari kejauhan, Pa. Jonathan dan Kakek Irfan merencanakan sesuatu yang buruk di acara pernikahan ini.” lanjutnya lagi menerangkan.
“Apa yang direncanakan?” tanya Andrean.
“Ini, Pa!” Arsen memperlihatkan video di dalam laptopnya. “Manager lapangan ini di suntik, tetapi aku sudah terlebih dahulu menyelamatkannya, jadi orang suruhan Jonathan sudah kutangani.”
“Sekarang giliran, Papa!”
“Baiklah,” Andrean mengusap kepala Arsen, kemudian berjalan pergi membawa Vindo yang telah memakai topeng.
Hari pernikahan Dedrick, Sakinah dan anak-anak juga menggunakan topeng untuk menutupi wajah mereka dari publik.
Perjalan Calista di hadang oleh preman suruhan Jonathan, pria itu meminta merusak gaun Calista. Arsen sudah melakukan pencegahan terlebih dahulu tadi, sehingga Calista baik-baik saja, tetapi dia sedikit terlambat.
“Nyonya, Tuan, dan Nona Muda. Kami akan mengawal kalian.” Begitulah ucapan para bawahan yang sangat banyak menjemput Calista tadi dirumahnya, mengapit mobilnya ditengah, tetapi masih saja ada preman yang bodoh berani menghadang.
Calista sampai, ia merapikan gaun dan bercermin. Setelah merasa riasannya masih sempurna, Ia turun dari mobil, Ayah Calista menggenggam tangan Calista, membawanya kehadapan Dedrick.
Proses pernikahan pun akan dimulai, mereka akan melakukan sumpah pernikahan di depan pendeta yang disaksikan banyak orang.
“Tunggu! Saya tidak bisa menerima! Calista, aku tahu, aku miskin, tetapi bagaimana bisa kau meminta orang lain untuk membesarkan anak dari buah cinta kita?!” Seorang pria berwajah kebangsaan Amerika berdiri dari duduknya di kerumunan tamu yang banyak itu.
“Aku kekasih Calista, ayah dari anak yang ada di dalam perutnya.” serunya lagi.
“Kapan aku menjadi kekasihmu? Kau gila?” balas Calista.
“Baiklah, kalau begitu, kita bisa lihat buktinya!” lanjut pria itu. Namun video dan foto yang keluar dari gambar dibelakang layar putih di belakang Dedrick dan Calista itu menunjukkan sesuatu yang membuat pria itu malu sendiri.
Bukan foto atau Video saat Calista mabuk, meminta beberapa lelaki berdansa dan berciuman dengannya.
“Hahaha! Dasar memalukan! Apa kau bermimpi di siang bolong, Tuan? Kekasih yang kau tiduri itu tak sebanding dengan Nona Calista!”
“Cih! Memalukan!” ejek para tamu.
“Tidak, ini semua gara-gara kau!” Pria itu langsung berlari ke arah Calista.
Pria itu cepat dipegang oleh para bawahan Berend. Akan tetapi, semua menjadi ricuh, anak buah Jonathan juga ikut bergerak. Mereka mengincar siapapun dari Nyonya Muda Van Hallen.
Sakinah begitu banyak pengawal, sedangkan Calista hanya berdiri di samping Dedrick dengan terpaku. Seorang meleset hendak menusuk perut Calista.
Srek!
“Mama!” Teriak Andrean dan Dedrick.
Andrean yang tadi masih normal, masih mengkhawatirkan anak dan istrinya. Kini, mengamuk seperti orang kesurupan.
Ia langsung menarik pistol yang tersimpan di dalam badan jasnya.
Dor! Dor! Ia berjalan dengan dinginnya sambil menembak semua bawahan Jonathan tanpa berkedip mata.
Wizza langsung menggendong Sekar ke dalam mobil, Sakinah dan anak-anak sudah diamankan, begitu pula Calista, Dedrick dan keluarga Calista. Para tamu juga sudah menjauh dari sana.